Kisah Pelarangan Buku Mengungkap Wali Songo Berdarah Tionghoa Buku Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa, berdampingan dengan karya Slamet Muljana lainnya. (Foto, Awang Satyana)

KEJAKSAAN Agung Republik Indonesia menerbitkan surat pelarangan pengedaran buku bertajuk Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara, karya Slamet Muljana tahun 1971.

"Buku tersebut dianggap mengganggu ketertiban umum dan hukum di Indonesia," tulis surat pelarangan dengan nomor putusan 043/DA/6/1971 seperti dikutip surat kabar Pikiran Rakjat, 17 Juni 1971.

Buku tersebut dianggap mengganggu ketertiban umum karena berisi informasi kontroversial tentang asal-usul Wali Songo. Para akademisi dan masyarakat luas terbelah. Sebagian percaya uraian Slamet Muljana, Wali Songo berasal dari Tiongkok dan memiliki nama Tionghoa, sebagian lainnya menolak.

"Yang menjadi persoalan saat itu rezim Orde Baru telah menetapkan China sebagai musuh karena negara itu dituduh membantu Gerakan 30 September 1965. Pemerintah Indonesia memutuskan hubungan diplomatik dengan Beijing, dan segala berbau China dilarang," tulis Sejarawan LIPI, Asvi Warman Adam, pada pengatar buku tersebut.

Slamet Muljana
Slamet Muljana

Buku terbitan Bharata tahun 1968 berisi 9 bab, menerakan masa kejayaan Majapahit hingga mengkatnya Patih Amangku Bumi Gajah Mada. Di beberpa bagian, Filolog lulusan Universitas Louvain, Belgi, tersebut memberikan ragam informasi tentang sumber-sumber sejarah Majapahit, dan perkembangan agama Islam di Jawa, serta mengulas tokoh-tokoh semisal Raden Patah dan Wali Songo.

Khusus untuk tokoh-tokoh pengemban Islam di tanah Jawa, Slamet Muljana melalui serangkaian metode dan sumber-sumber termutakhir mengungkap satu perspektif baru, nan berbeda dengan pendapat banyak kalangan. Wali Songo berasal dan berdarah Tiongkok.

Pada pertengahan abad ke-15, Raden Rahmad atau tersohor sebagai Sunan Ampel merupakan pendatang asal Yunan, bernama asli Bong Swi Hoo, cucu penguasa tertinggi Campa, bernama Bong Tak Keng.

Raden Rahmat kemudian memperistri perempuan Tionghoa bernama Ni Gede Manila, putri Kapiten Tionghoa, Gan Eng Cu. Mereka dikarunia seorang putra, kelak dikenal sebagai Sunan Bonang, berasal dari bahasa Mandarin Bong Ang, karena beroleh marga Bong.

"Mereka didik/diasuh dalam masyarakat Islam Jawa. Putra Sunan Ngampel, bernama Bonang tidak lagi pandai berbahasa Tionghoa," tulis Muljana.

Wali Songo
Ilustrasi Wali Songo. (Foto: suaraislam.com)

Sunan Bonang tumbuh besar bersama saudaranya Sunan Giri di bawah asuhan Sunan Ngampel. Sunan Giri masih terhitung kerabatnya. Sayid Iskak, ayah Sunan Giri merupakan paman Sunan Ngampel. Sunan Giri merupakan keturunan Bong Tak Keng asal Campa.

Selain ketiga wali tersebut, Muljana juga mengulas muasal Sunan Gung Jati dan Sunan Kudus. Sunan Gunung Jati disebut sebagai Toh A Bo, putra Tung Ka Lo, alias Sultan Trenggono. Sementara Sunan Kudus memiliki nama asli Jafar Sidik pun punya nama Tionghoa, Ja Tik Su.

Uraian Muljana kontan mendapat sanggahan Sejawaran UGM Sartono Karotdirdjo. Dia meragukan Naskah Kronik Cina asal Klenteng Sam Po Kong hasil laporan Residen Semarang Poortman sebagai tulang punggung buku tersebut. Sartono, pada sebuah wawancara khusu di harian Sinar Harapan, 11 Oktober 1971, mengungkapkan sumber digunakan Slamet Muljana hingga kini tak bisa ditemui, bahkan tak pernah ada seorang Residen Semarang bernama Poortman.

Muljana memang menggunakan Naskah Kronik Cina asal Klenteng Sam Po Kong, ditambah sumber-sumber sejarah tradisional berupa Serat Kandha, dan Babad Tanah Jawi ketika memberi simpulan Wali Songo asal Tiongkok. Dia beroleh inspirasi menulis menggunakan data tersebut saat membaca buku Tuanku Rao.

Pada tahun 1964, Mangaraja Onggang Parlindungan menluncurkan buku Tuanku Rao. Sang penulis beroleh bahan-bahan sejarah dari ayahnya, Sutan Martua Raja, nan rajin mengumpulkan bahan-bahan sejarah sejak tahun 1951-1941. "Yang menarik perhatian saya dalam hubungan dengan masa kemunduran Majapahit, tentang lampiran 31 berjudul Peranan Orang-Orang Tionghoa Islam Hanafi, di dalam Perkembangan Agama Islam di Pulau Jawa 1411-1564," ungkap Muljana pada kata pengantar bukunya.

Lampiran tersebut merupakan risalah penyelidikan Residen Poortman. Pada tahun 1928, Residen Poortman dibantu para polisi kolonial menggeledah klenteng Sampoo Kong di Semarang. Mereka menyita sumber-sumber sejarah beraksara Tiongkok sebanyak tiga tikar. Sumber-sumber tersebut berusia lebih kurang 400-500 tahun. Data-data terebut kemudian disandingka dengan sumber tradisional, Serat Kandha dan Babad Tanah Jawi.

"Tentu tak ada larangan untuk berpendapat bahwa sebagian Wali Songo itu berasal dari China atau keturunan China," tulis Asvi Warman Adam. Kelemahan Slamet Muljana, hanya mendasarkan kesimpulannya pada buku ditulis MO Parlindungan. Slamet pun tidak memeriksa sendiri naskah-naskah dari kelenteng Sam Po Kong Semarang dan tidak melakukan penelitian terhadap sumber berbahasa China, baik di Nusantara maupun di daratan Tiongkok.

Sejak mendapat larangan terbit pada tahun 1971, buku kontroversial karya Slamet Muljana pun berhasil dicetak ulang dan terbit pada 2005. Kontroversi sempat muncul namun sebatas hangat-hangat kuku. Bahkan, banyak penulis saat ini ketika menulis sejarah Majapahit, Raden Patah, dan Wali Songo rajin menggunakan buku Slamet Muljana sebagai sumber tunggal. (*)


Tags Artikel Ini

Yudi Anugrah Nugroho

LAINNYA DARI MERAH PUTIH