Dari Pelosok Desa Menjejali Rapat Ikada Massa Rapat Raksasa Ikada. (Foto/Repro buku album perjuangan kemerdekaan 1945-1960)

MENTARI pagi, 18 September 1945, baru saja menerangi kelam di Ibu kota Jakarta. Sukarni beserta pasukannya terlihat sedang bersiap untuk perjalanan panjangnya menuju kota Bandung.

Ia diperintahkan memberi kabar ke daerah-daerah terpencil akan agenda Rapat Raksasa di lapangan Ikatan Atletik Djakarta (IKADA) pada 19 September 1945. Memulai misinya, mulanya ia singgah di Bekasi.

Ilustrasi. (FOTO/gahetna.nl via indotrucker)
Ilustrasi. (FOTO/gahetna.nl via indotrucker)

"Di sana Sukarni menemui seseorang yang bisa mengendalikan warga dan memberitakan kabar rapat raksasa tersebut," kisah Wartawan Senior, Ali Anwar, dalam diskusi 'Rapat Ikada dan Orang Betawi', Rabu (19/9).

Begitulah aktivitas Sukarni setiap menemui kampung hingga perjalanannya berakhir di Kota Bandung.

Hari berganti, 19 September 1945, tampaknya misi Sukarni berjalan lancar. Ratusan ribu warga terlihat berdatangan secara bergelombang ke lapangan Ikada. Di sana massa berteria-teriak bengis akan tingkah tentara Sekutu.

"Maklum, mereka yang datang umumnya berangkat dari kejengahan prilaku tentara Sekutu usai Indonesia memproklamasikan kemerdekaan," ungkap Ali.

Rapat Raksasa Lapangan Ikada ini kelak dicatat dalam sejarah sebagai rapat terbesar yang terjadi di Tanah Betawi. "Rapat itu dihadiri sekitar 250 ribu warga atau hamir 50 persen dari masyarakat Jakarta yang saat itu berjumlah lebih kurang 500 ribu jiwa," jelas Ali.

Rapat ini tak hanya dihadiri oleh masyarakat Betawi. Kebanyakan massa datang dari pelosok pelosok kota seperti, Cikarang, Cikampek, Bekasi, hingga Tangerang. "Tujuan mereka hanya satu. Rakyat pada umumnya sangat ingin merasakan merdeka yang sesungguhnya," jelasnya.

Perjalanan dari Pelosok ke Ikada

Ilustrasi stasiun kereta api. (Foto/travelingyuk.com)
Ilustrasi stasiun kereta api. (Foto/travelingyuk.com)

Perjalanan dari pelosok menuju kota meninggalkan banyak cerita bagi peserta Rapat Raksasa Lapangan Ikada. Berbagai rintangan mereka hadapi di jalan.

"Hadangan hingga bujukan busuk tentara Jepang yang masih belum menerima kemerdekaan Indonesia tak mereka hiraukan demi semangat merdeka," jelas Ali.

Mengenai alat transportasi yang banyak digunakan massa dari pelosok adalah kereta api. Mereka yang berasal dari Tangerang melaju dengan kereta api. "Begitu juga dengan mereka yang datang dari Cikarang, Cikampek dan Bogor," jelas Ali.

Yang lebih berkesan adalah cara warga Bekasi. Sebagian mereka yang datang ke lapangan Ikada berjalan kaki. Sedangakan sebagian lainnya menggunakan truk. Sorak-sorai pecah disepanjang jalanan Bekasi-Jakarta yang berjarak sekitar 30 km.

"Hadangan lebih banyak dialami bagi mereka yang berjalan kaki," ungkap Ali. (*)


Tags Artikel Ini

Zaimul Haq Elfan Habib

LAINNYA DARI MERAH PUTIH