Kisah Kelam Dinasti Agnelli; Kematian Misterius Sang Pewaris Fiat dan Juventus Gianni Agnelli dan Edoardo Agnelli saat menyaksikan pertandingan Juventus. (Sumber: i.ytimg.com)

TAK hanya di Italia, kebesaran dinasti Agnelli harum hingga Eropa. Keluarga itu merupakan industriawan pendiri perusahaan mobil Fiat (Fabbrica Italiana Automobili Torino) pada 11 Juli 1899 di Turin.

Perintisnya ialah Giovanni Francesco Luigi Edoardo Agnelli Aniceto Lorenzo (Giovanni Agnelli, 13 Agustus 1866 - 16 Desember 1945).

Pada tahun 1900, Giovanni didapuk sebagai direktur utama. Pabrik Fiat dibuka dengan 35 staf untuk membuat 24 unit mobil. Meski awal berjalan pelan antara 1902 dan 1906, produksi Fiat justru meningkat dari 73 sampai 1098 mobil.

Rangking perusahaan mobil asal Turin itu pun melonjak dari urutan 30 ke peringkat 3 di antara perusahaan industri Italia.

Pada 1932, pabrik kedua Fiat didirikan dan mulai beroperasi. Pada waktu itu, pabrik tersebut menjadi yang terbaik dan termewah seantero Eropa. Di puncak gemilang Fiat, Giovanni Agnelli meninggal dunia pada Minggu,16 Desember 1945.

Tampuk kekuasaan Fiat lantas diturunkan kepada Edoardo Agnelli (2 Januari 1892 - 14 Juli 1935), anak kedua Giovanni Agnelli.

Tak lama berselang, Edoardo meninggal dalam kecelakaan pesawat. Kendali pun dilanjutkan anak pertama Edoardo, Gianni Agnelli (12 Maret 1921 - 24 Januari 2003).

Di tangan Gianni, Fiat melebarkan sayap. Mereka mulai memproduksi tujuh dari sepuluh kendaraan perang Benito Mussolini, mesiu, baja, dan roda kendaraan perang.

Nama Fiat terdengar hingga luar negeri. Gianni mengambil alih Citroen dari Dinasti Michelin di Prancis. Eropa Timur juga ikut melirik. Yugoslavia mendapat lisensi untuk memproduksi Fiat. Polandia tak mau ketinggalan. Mereka memproduksi Polski Fiats.

Sejak saat itu, Dinasti Agnelli hampir menjangkau seluruh bisnis di Italia dan dunia, di antaranya Ferrari dan klub sepak bola Juventus.

Langkah Edoardo Agnelli

Memasuki usia tua, bisnis trah Agnelli bakal dilanjutkan anak pertama Gianni, Edoardo Agnelli. Dalam buku biografi Edoardo Agnelli; Konspirasi Pembunuhan Putra Mahkota Kerajaan Bisnis Fiat, Juventus, dan Ferrari, karya Musa Kazhim dan Alfian Hamzah menulis pada 1970-an, Edoardo dikirim ke Inggris untuk sekolah.

Gianni Agnelli dan Edoardo Agnelli saat menyaksikan pertandingan Juventus. (Sumber: i.ytimg.com)

"Setelah lulus, dia (Edoardo) memutuskan studi di Princeton University, Amerika Serikat," tulis Musa Kazhim dan Alfian Hamzah.

Harapan itu sia-sia belaka. Edoardo tidak memedulikan harapan orang tuanya, terjun di dunia bisnis. Edoardo justru fokus terhadap filsafat dan studi perbandingan agama.

Saat kuliah, Edoardo juga sempat pergi menuju India untuk mendalami ajaran Buddha dan Hindu. Sampai pada suatu ketika, saat dia berada di perpustakaan Princeton, Edoardo menemukan Alquran.

Tak hanya itu, pada usia ke-20 tahun Edoardo bahkan memutuskan masuk Islam. "Pilihan yang membuat Gianni Agnelli murka," tulis Musa dan Alfian. Edoardo punya nama baru, Hisyam Azis. Identitas baru itu ditutup rapat Edoardo cukup lama.

Eduardo Agnelli saat menjadi makmum salat jumat di Iran. (Sumber: wikipedia.com)

Pada saat krisis di Iran pasca-Revolusi Islam, televisi di Atlanta, Amerika Serikat, menayangkan debat 'panas'. Ada empat narasumber dalam acara tersebut. Tiga wartawan dan seorang Jubir Kedubes Iran di Roma, Hassan Ghadiri Abyaneh.

Tatkala Abyaneh mendapat giliran berbicara, dalam bahasa Italia ia mengatakan, "Dengan Nama Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dengan Nama Tuhan yang Lebih Besar dari kapal-kapal induk Amerika." Sontak membuat seisi studio dan penonton tertegun, termasuk Edoardo Agnelli di depan televisi.

Melihat kelihaian dan keberanian Abyaneh membuat Edoardo ingin bertemu. Ia ingin mengenal Abyaneh itu lebih dalam. Edoardo memutuskan untuk ke Roma, Italia. Kepada penjaga Kedubes Iran, ia mengenalkan diri sebagai Edoardo, bukan Hisyam Azis.

Para penjaga pun menanyakan kepentingan Edoardo menemui Abyaneh. Berdasarkan pengakuan Edoardo, ia ingin berdiskusi sekaligus meminjam buku-buku tentang Imam Khomeini, sang pemimpin Revolusi Islam Iran.

Tak dinyana, keinginan Edoardo ditolak satpam. Ia pun diusir. Namun, sebelum beranjak Edoardo menitip pesan kepada para penjaga untuk disampaikan ke Abyaneh. "Pintu Tuhan tak pernah tertutup." Abyaneh pun segera keluar rumah. Persahabatan mereka mulai lekat.

Bagi Edoardo, Abyaneh adalah pintu masuknya ke Iran, bertemu Imam Khomeini. Pada usia 21 tahun, Edoardo pergi menuju Iran dan bertemu dengan Imam Khomeini. Pertemuan itu disaksikan mantan Presiden Iran, Hasyemi Rafsanjani.

Edoardo Agnelli bersama Imam Khomeini. (Sumber: wikipedia.com)

"Pada 27 Maret 1981, hanya ada empat orang yang menyaksikan. Edoardo sempat mengecup tangan Khomeini. Konon Khomeini balas mencium kening Edoardo. Dari mulut pejuang renta itu terucap pesan singkat: banyaklah merenung dan mengingat kehidupan setelah mati," tulis Rafsanjani dalam memoarnya di buku biografi Edoardo Agnelli.

Kematian mengenaskan Edoardo

Hubungan Edoardo dan Abyaneh pun kian erat. Tapi tidak dengan keluarga, yang semakin menegang. Saat Edoardo mengunjungi Mashad dan berziarah ke makam Imam Ali, ia berdoa, "Aku hanya inginkan cinta dan kasih ayahku selalu ada untukku ke depan."

Namun ayahnya, Gianni, yang tahu bahwa Edoardo berkiblat ke Tehran, menyatakan di media kalau Edoardo tak layak menjadi petinggi Fiat. Lebih buruk lagi ketika Edoardo di fitnah sebagai 'gila' dan 'pecandu narkotika' yang dibuat keluarganya sendiri.

Husein Abdullahi, mahasiswa Iran yang belajar di Turin mengisahkan bahwa Edoardo sering menyendiri setelahnya dengan membaca buku dan Alquran, bahkan kadang hanya dengan lilin. Beberapa kali Edoardo menyatakan keinginannya untuk menetap di kota teologi Syi’ah, Qom (Iran), untuk mendalami filsafat dan Alquran.

Edoardo juga meminta Abdullahi untuk menghubungi Departemen Perdagangan Iran karena ia ingin menyumbangkan sebagian kekayaanya tanpa diketahui orang banyak.

Namun, sesuatu terjadi sebelum itu. Kamis, 15 November 2000, sekitar pukul 10.05 pagi di jalan raya yang menghubungkan Torino-Savona, Italia bagian utara. Carlo Francini, petugas dinas jalan raya, menemukan Fiat Crona abu-abu disisi kanan jalan, di atas tanjakan Jembatan Romano.

Jasad Edoardo Agnelli. (Sumber: telegraph.co.uk)

Semua pintu mobil tak terkunci dan lampu masih menyala, tapi pemiliknya tidak ada. Setelah menghubungi petugas kepolisian dan melakukan pencarian, sesosok tubuh pria ditemukan di dasar jembatan, 67 meter di bawah sana.

Wajahnya rusak nyaris tak bisa dikenali. Namun, kartu identitas di dalam sakunya menunjukkan foto seorang pria berwajah bersih kelahiran New York, 2 Januari 1954, Edoardo Agnelli, anak tertua dan putra satu-satunya dari Senator Gianni Agnelli, pemilik kerajaan bisnis Grup Fiat dan klub sepak bola legendaris Juventus FC.

Tidak seperti penanganan kematian misterius dari anak seorang yang berpengaruh, siang harinya, jasad Edoardo langsung dibawa ke pemakaman di kota terdekat, Fossano.

Sore itu juga, jasad itu dipindahkan ke tempat peristirahatan keluarga Agnelli di Villar Perosa. Besok paginya, Edoardo dimakamkan. Tidak ada autopsi dan penyelidikan menyeluruh untuk mengetahui sebab kematian.

Kurang dari satu hari setelah jasad itu ditemukan, polisi pun mengambil kesimpulan. Edoardo Agnelli mati bunuh diri, meski tidak ada catatan apa pun yang ia tinggalkan. Bahkan, pada pagi itu, Edoardo masih sempat memesan makan siangnya.

Salah satu media cetak Italia, La Stampa, menurunkan berita dengan judul "La addio a Edoardo Agnelli" (Selamat Jalan, Edoardo Agnelli). (*)


Tags Artikel Ini

Noer Ardiansjah

LAINNYA DARI MERAH PUTIH