Kisah Kelam di Balik Keindahan Tangkuban Perahu (Foto: Pinterest)

MerahPutih Budaya - Selain Kawah Putih, dan Situ Patenggang, Gunung Tangkuban Perahu juga merupakan wisata di Jawa Barat  yang menjadi favorit para wisatawan lantaran keindahan alamnya yang begitu memesona.

Gunung Tangkuban Perahu sendiri merupakan salah satu gunung yang terletak di Bandung, Jawa Barat. Wisata di Bandung yang satu ini memang sangat elok. Bagaimana tidak, di tempat wisata Gunung Tangkuban Perahu, terdapat beberapa pohon pinus nan rimbun serta di keliling oleh kebun teh yang terbentang luas.

Di balik indahnya Gunung Tangkuban Perahu ada sekelumit legenda rakyat Sunda yang populer hingga turun temurun, yaitu kisah si cantik Dayang Sumbi dan puteranya Sangkuriang.

Legenda bukan sekedar legenda, kisah Sangkurian ini menjadikan ilmuan dapat menentukan bahwa orang Sunda telah hidup di dataran ini sejak beribu tahun sebelum Masehi.

Alkisah diceritakan di alam kayangan hiduplah sepasang Dewa dan Dewi yang melanggar kodrat khayangan, walhasil Sang Hyang Tunggal pun mengusir sepasang Dewa dan Dewi itu ke bumi dengan menjadikan mereka Babi Hutan alias Celeng dan seekor anjing.

Tak sengaja sang babi hutan meminum air seni raja Sungging Perbangkara yang tengah berburu, dan akhirnya jelmaan Dewi cantik itu pun mengandung seorang bayi, bayi itu lahir dengan nama Dayang Sumbi.

Sang Raja yang juga ayah Dayang Sumbi lah yang memungut putri cantik jelita itu dari hutan saat ia tengah berburu.

Dayang Sumbi pun lahir dan tumbuh menjadi wanita yang begitu mempesona, hingga para pangeran dan raja memperebutkannya, karena hal itulah Dayang Sumbi mengasingkan diri ke dalam hutan.

Karena kesal, Dayang Sumbi kemudian tak sengaja mengucap sumpah serapah, bagi sapa saja yang memungut dan mengembalikan alat tenunnya yang terjatuh jika wanita akan dijadikan saudara jika laki-laki akan dijadikan suami, dan seekor anjing bernama Tumang yang merupakan jelmaan dewa lah yang mengambil dan mengembalikan alat tenun itu pada Dayang Sumbi.

Sang raja pun marah dan mengusir Dayang Sumbi bersama Tumang ke hutan, Tumang pun berubah wujud menjadi lelaki tampan, mereka pun memadu kasih hingga Dayang Sumbi melahirkan anak laki-laki yang diberi nama Sangkuriang.

Suatu ketika Dayang Sumbi sangat ingin makan hati Manjangan, ia pun meminta Sangkuriang dan Tumang untuk berburu ke hutan, karena tak menemui buruan apa pun, Sangkuriang gusar dan tak sengaja menancapkan anak panah ke tubung Tumang, karenan bingung, Sangkuriang mengambil hati Tubang dan memberikannya pada sang ibi, kemudian dimasak dan mereka makan.

Saat sang ibu tahu jika itu adalah hati Tumang yang juga ayah Sangkuriang, ia murka dan mnegusir putranya itu, setelah memukul kepala Sangkuriang denagn centong hingga terluka.

Dayang Sumbi pun bertapa dan hanya memakan lalapan, sedangkan Sangkuriang berkelana menuntut ilmu.

Bertahun-tahun berlalu, Sangkuriang berubah jadi lelaki dewasa yang tampan, tapi Dayang Sumbi tetap cantik karena tapanya dan lalapan yang ia makan, keduanay bertemu dan tidak sadar saling jatuh cinta.

Kemudian Dayang Sumbi sadar jika lelaki itu adalah Sangkuriang setelah melihat luka di kepalanya, ia pun meminta agar menyudahi kisah asmara mereka.

 

Harapan tahun 2016 semoga hobby menjadi profesi #gofujifilm #fujifilmnewyear

A photo posted by egi suhendar (@egikampret) on

alau demikian Sangkuriang tetap memaksa untuk menikahinya. Dayang Sumbi sekuat tenaga berusaha untuk menolak. Maka ia pun bersiasat untuk menentukan syarat pinangan yang tak mungkin dipenuhi Sangkuriang. Dayang Sumbi meminta agar Sangkuriang membuatkan perahu dan telaga (danau) dalam waktu semalam dengan membendung sungai Citarum. Sangkuriang menyanggupinya.

Maka dibuatlah perahu dari sebuah pohon yang tumbuh di arah timur, tunggul atau pokok pohon itu berubah menjadi gunung Bukit Tanggul.

Rantingnya ditumpukkan di sebelah barat dan menjadi Gunung Burangrang. Dengan bantuan para guriang (makhluk halus), bendungan pun hampir selesai dikerjakan. Tetapi Dayang Sumbi memohon kepada Sang Hyang Tunggal agar niat Sangkuriang tidak terlaksana.

Dayang Sumbi menebarkan helai kain boeh rarang (kain putih hasil tenunannya), maka kain putih itu bercahaya bagai fajar yang merekah di ufuk timur. Para guriang makhluk halus anak buah Sangkuriang ketakutan karena mengira hari mulai pagi, maka merekapun lari menghilang bersembunyi di dalam tanah.

Karena gagal memenuhi syarat Dayang Sumbi, Sangkuriang menjadi gusar dan mengamuk. Di puncak kemarahannya, bendungan yang berada di Sanghyang Tikoro dijebolnya, sumbat aliran sungai Citarum dilemparkannya ke arah timur dan menjelma menjadi Gunung Manglayang.

 

??????

A photo posted by Sarah Setiani (@sarahsetiani) on

Air Talaga Bandung pun menjadi surut kembali. Perahu yang dikerjakan dengan bersusah payah ditendangnya ke arah utara dan berubah wujud menjadi Gunung Tangkuban Perahu.

Sangkuriang terus mengejar Dayang Sumbi yang lari menghindari kejaran anaknya yang telah kehilangan akal sehatnya itu. Dayang Sumbi hampir tertangkap oleh Sangkuriang di Gunung Putri dan ia pun memohon kepada Sang Hyang Tunggal agar menyelamatkannya, maka Dayang Sumbi pun berubah menjadi setangkai bunga jaksi.

Adapun Sangkuriang setelah sampai di sebuah tempat yang disebut dengan Ujung berung akhirnya menghilang ke alam gaib (ngahiyang).

Legenda Sangkuriang awalnya merupakan tradisi lisan. Rujukan tertulis mengenai legenda ini ada pada naskah Bujangga Manik yang ditulis pada daun lontar yang berasal dari akhir abad ke-15 atau awal abad ke-16 Masehi. Dalam naskah tersebut ditulis bahwa Pangeran Jaya Pakuan alias Pangeran Bujangga Manik atau Ameng Layaran mengunjungi tempat-tempat suci agama Hindu di pulau Jawa dan pulau Bali pada akhir abad ke-15.

 

BACA JUGA:

  1. BPCB Yogyakarta Temukan Pagar Kuno Candi Prambanan
  2. Kampanyekan Cagar Budaya, BPCB Yogyakarta Manfaatkan Mobil Bioskop Keliling
  3. Pantai Ngedan Wisata Unik Gunungkidul Yogyakarta
  4. Goa Jomblang, Cahaya Surga di Yogyakarta
  5. Pesona Keindahan Pantai Drini Gunugkidul Yogyakarta


Ana Amalia

LAINNYA DARI MERAH PUTIH