Kisah Ilman Fauzi Rakhmat, Bela Pemerintah RI dalam Perkara Arbitase Ilman Fauzi Rakhmat, pengacara arbitase yang beberapa kali membela pemerintah Indonesia. (sumber: facebook Ilman Rakhmat)

MerahPutih Hukum - Banyak yang tidak mengetahui jika Indonesia memiliki sejumlah kasus yang harus diselesaikan di pengadilan arbitase dengan pihak luar negeri. Seperti dikutip dari hukumonline, sejumlah sengketa tersebut antara lain dengan Camex Asia Holdings, Commerz Asia Emerald, sengketa terkait bank Century dimana dua pemegang sahamnya menggugat pemerintah Indonesia serta sengketa Newmont melawan pemerintah Indonesia. Ilman Fauzi Rakhmat, menjadi salah satu pengacara di bidang arbitase.

Lantas apa sebenarnya yang dimaksud Arbitrase? Abritase adalah cara penyelesaian suatu sengketa perdata di luar peradilan umum. Saat menyelesaikan sengketa tersebut, pemerintah Indonesia tentunya memiliki tim pengacara yang mumpuni untuk memperjuangkan keadilan. Hal itulah yang beberapa tahun terakhir dilakukan Ilman Fauzi Rakhmat. Di tangan Ilman Fauzi Rakhmat dan timnya, pemerintah Indonesia kerap memenangkan perkara arbitase dengan perusahaan asing.

Ilman Fauzi Rakhmat saat ini merupakan partner dari KarimSyah Law Firm. Sebelumnya Ilman Fauzi Rakhmat menjalani masa magang dan bergabung sebagai Associate Lawyer. Tahun 2011, Ilman Fauzi Rakhmat kemudian diangkat sebagai partner di usia 33 tahun dengan predikat partner termuda.

Ilman Fauzi Rakhmat, pengacara abritase yang kerap membela pemerintah Indonesia. (foto: dok. pribadi)

Dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang pengacara, Ilman Fauzi Rakhmat beracara di forum Internasional Centre for Settlement of Insvestment Disputes (ICSID), Internasional Chamber of Commerce (ICC), Singapore International Arbitration Centre (SIAC), United Nations Comission for International Trade Law (UNCITRAL), Asian Domain Name Dispute Resolution Centre (ADNDRC), Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI) dan Badan Arbitrase Syariah Nasional (Basyarnas). BACA SELANJUTNYA

Siapa Sebenarnya Ilman Fauzi Rakhmat?

Lahir dalam keluarga cerdas yang taat beragama, Ilman Fauzi Rakhmat tumbuh menjadi pribadi yang kritis. Itulah sebabnya, menurut Ilman, ia memilih pendidikan jalur hukum setelah lulus dari SMA Plus Muthahhari Bandung.

"Saya lulus dari Fakultas Hukum Unpad di tahun 2000. Setelah itu saya mengikuti seleksi Offier Development Program untuk salah satu bank pemerintah dan lolos namun saya mundur karena tidak memiliki ketetapan hati sebagai pegawai bank," tulis Ilman Fauzi Rakhmat melalui surat elektronik kepada merahputih.com belum lama ini.

Seperti yang diceritakan Ilman Fauzi Rakhmat, untuk mencari pengalaman, ayah satu anak itu magang di salah satu kantor hukum di Jakarta.

 Ilman Fauzi Rakhmat bersama almarhum Buyung Nasution. (sumber: Facebook Ilman Rakhmat)

"Tahun 2002 saya mendapat beasiswa untuk kuliah Master di Belanda. Sepulang dari Belanda, Agustus 2003, kantor hukum KarimSyah Law Firm mengundang saya bergabung sebagai Junior Associate dengan perkara arbitrase dan litigasi komersial. Tahun 2011, saya resmi diangkat sebagai partner," tulis Ilman Fauzi Rakhmat.

Menjadi seorang pengacara, sebenarnya bukan cita-cita Ilman sejak kecil. Namun saat berdiskusi dengan ayahnya, Jalaludin Rakhmat atau yang akrab disapa Kang Jalal, menyarankannya untuk menimba ilmu di bidang hukum.

"Katanya (Kang Jalal) supaya jadi Meester Indirechten, seorang ahli hukum. Di Amerika, kata ayah saya, hanya orang pintar yang bisa masuk fakultas hukum," tulis Ilman Fauzi Rakhmat mengenang awal mula ketertarikannya belajar ilmu hukum.

Usahanya untuk belajar membuahkan hasil. Ilman disematkan sebagai mahasiswa berprestasi dan menjadi juara pertama, lulus dengan predikat wisudawan terbaik se-universitas. BACA SELANJUTNYA

Pengalaman Ilman Fauzi Rakhmat Membela Pemerintah Indonesia

Bagi seorang Ilman Fauzi Rakhmat, menjadi seorang pengacara tidaklah membosankan. Hal tersebut lantaran setiap waktu ia menemui jenis perkara yang berbeda.

Dalam kisahnya, Ilman Fauzi Rakhmat menyebutkan, ada pengalaman berkesan yang dialaminya selama terjun sebagai seorang pengacara.

"Saat saya sidang di Singapura untuk mewakili salah satu badan usaha milik negara. Itu pengalaman pertama saya menjadi cross examiner, atau pemeriksa saksi di hadapan majelis arbiter internasional," tulis Ilman Fauzi Rakhmat.

Saat itu, Ilman merasa gugup luar bisa, di hadapan majelis arbiter internasional. Saksi yang diperiksa dalam sidang adalah ahli investasi dari sebuah negara di Karibia. Kegugupan Ilman Fauzi Rakhmat tampak dari gaya bicara dan pertanyaan yang melantur.

Ilman Fauzi Rakhmat (kacamata baju merah) bersama rekan-rekannya. (sumber: facebook Ilman Rakhmat)

"Saya sukses dimarahi ketua majelis, seorang ahli hukum senior dari Malaysia yang usianya lebih dari dua kali usia saya, di depan klien, saksi dan lawan saya. Selepas sidang, Bapak ketua majelis menghampiri lalu menepuk-nepuk bahu saya dan meminta maaf kalau beliau terlalu keras kepada saya," tulis Ilman Fauzi Rakhmat.

"Sampai sekarang kejadian itu tidak pernah saya lupa. Terkadang, kita memang perlu ditampar supaya sadar. Saya terlibat dalam empat perkara arbitrase mewakili Pemerintah Indonesia dan badan usaha milik Pemerintah Indonesia. Setiap perkara berdurasi dua sampai tiga tahun lamanya." tulis Ilman lebih lanjut. BACA SELANJUTNYA

Bangga Bisa Membela Indonesia di Ranah Hukum

Menurut Ilman Fauzi Rakhmat, ia sudah empat kali membela pemerintah Indonesia dan badan usaha milik pemerintah dalam perkara arbritase. Setiap perkara berdurasi dua sampai tiga tahun lamanya. Ilman mengaku merasa bangga dapat menjadi bagian dari tim kuasa hukum pemerintah Indonesia. Hal tersebut tak lepas dari kecintaannya terhadap Tanah Air.

"Saya cinta Tanah Air, apapun yang terjadi dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Meskipun tentu saya mendapatkan bayaran, tetapi bekerja membela kepentingan negara memberikan saya semangat lebih dan passion yang berbeda," tulis Ilman Fauzi Rakhmat.

Lebih lanjut, pengacara yang mengidolakan sosok almarhum Bismar Siregar itu menuliskan, menjadi kuasa hukum pemerintah Indonesia sama artinya dengan mewakili masyarakat Indonesia.

"Setiap saya membela Indonesia, saya selalu ingat bahwa yang saya bela adalah seluruh bangsa Indonesia. Setiap kebaikan, keuntungan, dan kemenangan dalam perkara ini bagi negara, sejatinya adalah kemenangan bagi seluruh rakyat Indonesia," tulis Ilman Fauzi Rakhmat.

Ilman Fauzi Rakhmat (paling kiri) bersama rekan-rekannya. (sumber: facebook Ilman Rakhmat)

Namun sebagai seorang pengacara, tentu tidak lepas juga dari kekalahan dalam menangani kasus. Ilman Fauzi Rakhmat merasakan betul, arti kekalahan tersebut.

"Ada saatnya menang, ada saatnya kalah. Dalam beberapa perkara di pengadilan negeri kami kalah. Meskipun semua bukti, saksi, dan argumen menguntungkan kami, tapi di akhir pemeriksaan, majelis memutuskan klien kami yang berbuat salah. Bagi seorang pengacara, beban kekalahan ini menjadi berlipat ganda. Tidak hanya kecewa arena merasa sudah berupaya semaksimal mungkin, tapi juga kami harus mempertanggungjawabkan kekalahan ini kepada klien kami. Ini tidak mudah," tulis Ilman panjang lebar. BACA SELANJUTNYA

Percaya Penegakan Hukum di Indonesia Menjadi Lebih Baik

Sebagai salah satu pengacara yang banyak dipercaya membela Tanah Air, Ilman Fauzi Rakhmat tentu banyak berhubungan dengan sejumlah kalangan di luar negeri. Sebuah pertanyaan menggelitik hatinya, saat sejumlah rekan dan koleganya itu menanyakan kondisi penegakan hukum di Indonesia.

Meski pada kenyataannya, menurut Ilman Fauzi Rakhmat, masih banyak yang harus diperbaiki, ia berusaha menjelaskan mengenai pertanyaan tersebut dengan kalimat yang mudah dipahami. Hal tersebut bisa berdampak pada anggapan masyarakat luar terhadap penegakan hukum di Indonesia.

"Saya termasuk yang percaya bahwa segala hal berangsur-angsur menjadi lebih baik. Kita menjalani evolusi progresif. Begitupula halnya dengan penegakan hukum di Indonesia. To improve means to change and to be perfect means to change often," tulis Ilman Fauzi Rakhmat.

Ilman Fauzi Rakhmat, pengacara abritase yang kerap membela pemerintah Indonesia. (foto: dok. pribadi)

Ia menambahkan, penegakan hukum di Indonesia mengalami perubahan, meski tentu saja masih harus banyak perbaikan.

"Kita menjalani evolusi progresif. Begitu pula halnya dengan penegakan hukum di Indonesia. Sudah banyak perubahan terjadi dalam sistem penegakan hukum kita. Memang masih jauh dari yang diharapkan, tetapi selangkah demi selangkah, Indonesia sedang menuju ke arah sana (yang lebih baik)," tulis Ilman.

 

BACA JUGA:

  1. KPAI Desak Pemerintah Segera Berlakukan Hukuman Kebiri
  2. Hukuman Mati Persulit Pemulangan Koruptor Kabur ke Luar Negeri
  3. Tjipta Lesmana Tantang DPR Hukum Mati Koruptor
  4. Dilema Penegakan Hukum terhadap Ojek Online

 

 

 

 



Yohannes Abimanyu

LAINNYA DARI MERAH PUTIH