Kisah Hijrah 'Anton Medan' Sang Preman Kelas Kakap Tan Hok Liang atau Anton Medan. (Foto/duniamuallaf.blogspot.com)

BELUM genap satu tahun mengenyam bangku pendidikan, Tan Hok Liang harus berhenti dari sekolahnya. Pria yang kelak dikenal dengan nama sangar 'Si Anton Medan' ini terpaksa merantau demi membantu memenuhi kebutuhan keluarga. Pada usia 12 tahun, Anton kecil merantau ke Terminal Tebing Tinggi, Sumatera Utara.

Hari-harinya dihabiskan sebagai calo bus. Setiap hari ia mencarikan penumpang untuk bus yang mangkal di terminal tersebut. Suatu waktu, Anton kecil berhasil mengajak banyak penumpang naik ke salah satu bus, namun sayang peluhnya tak dihargai si sopir. Anton geram.

"Terbayang di mata saya wajah kedua orang tua, adik-adik, serta kakak saya yang senantiasa menunggu kiriman uang dari saya. Saya terlibat perang mulut dengan sopir bus tersebut. Tanpa sadar, saya ambil balok kayu dan saya pukulkan ke kepalanya," kenang Anton dikutip dari AL-IKLHAS: PINTU HIDAYAHKU, halaman 30.

Tan Hok Liang atau Anton Medan. (Foto/duniamuallaf.blogspot.com)
Tan Hok Liang atau Anton Medan. (Foto/duniamuallaf.blogspot.com)

Kejadian itu membuatnya harus berurusan dengan pihak yang berwajib. Di hadapan aparat kepolisian, Anton tak mau mengaku bersalah. Ia menuntut haknya yang tak diberikan sopir bus itu.

Terminal Tebing Tinggi usai. Anton pindah dan bekerja di Terminal Medan. Kali ini profesinya berubah menjadi pencuci bus. Namun, sekali lagi ia harus berurusan dengan polisi. Uang yang ia tabung buat keluarga lenyap diambil orang. Dia tahu orang yang mengambil itu. Anton berusaha sabar, tak mau ribut.

"Saya peringatkan saja. Ternyata, dia memukuli saya. Waktu itu saya berumur 13 tahun. Lawan saya orang yang sudah dewasa dan tinggi besar. Saya sakit hati karena tak satupun dari teman saya yang berniat untuk membantu," kata Anton.

Ia membacok lelaki itu hingga tewas. Karena ulahnya, Anton dikurung di Penjara Jalan Tiang Listrik, Binjai selama empat tahun dari hasil putusan kasusnya. Selama berada di penjara, Anton yang bekerja untuk keluarganya hanya dijenguk satu kali saja oleh sang Ibu tercinta.

Hampir 4 tahun berjalan, Anton kembali menghirup udara segar. Ia bergegas pulang ke rumah. Sayang, baru beberapa jam di rumah Anton harus berangkat jauh, karena sang ibu malu mempunyai anak seorang penjahat. Ia lalu melanjutkan petualang barunya menuju Jakarta hendak bertemu paman yang dulu menyayanginya.

Berbulan-bulan menggelandang di Ibu Kota, akhirnya Anton bersua paman. Hal pahit terulang lagi, ia tak diterima pamannya dan diusir. "Tak ada orang yang membantu saya hidup secara wajar," kenang Anton.

Merasa kecewa, Anton mulai melakukan kejahatan kecil-kecilan. Ia terinspirasi pada seorang penodong yang mendapat banyak uang dan dihukum ringan. "Kejahatan yang pertama saya lakukan adalah menjambret tas dan perhiasan nenek-nenek yang akan melakukan sembahyang di klenteng," ungkapnya.

Mendapat banyak hasil dari menjambret, ia mulai ketagihan dan menekuni profesi barunya tersebut. Kadar kriminalnya bertambah. Anton yang semula seorang tukang jambret beralih sebagai perampok. Bahkan, ia sempat menjadi bandar judi di Kalijodo. "Saat-saat itulah saya mengalami kejayaan. Masyarakat Jakarta menjuluki saya 'Si Anton Medan', penjahat kaliber kakap, penjahat kambuhan yang hobi keluar masuk penjara," kenang Anton.

Si Penjahat Kelas Kakap Hijrah

Banyak penjara yang telah ditempati Anton di Jakarta. Ia paham betul seluk beluk LP (Lembaga Pemasyarakatan) yang ada di Ibu Kota tersebut. Namun, Anton bersyukur, di balik dinding tinggi tersebutlah ia mendapat hidayah Tuhan.

"Entah kenapa, tatkala saya bersentuhan dengan Islam hati saya menjadi tentram, saya menemukan kesejukan di dalamnya," ungkapnya.

Tujuh tahun Anton mempelajari Islam. Teman-temannya di LP berperan besar dalam pendalamannya terhadap Islam. Yang paling berkesan baginya adalah bantuan dari tahanan kasus Cicendo. Namun kala di tahanan Anton masih belum memeluk agama Islam.

Bertahun-tahun menjalani masa tahanan, akhirnya Anton bebas untuk kesekian kalinya. Dengan modal agama yang sempat ia pelajari selama di balik jeruji besi mulai diaplikasikannya. Ia bertekad untuk berbuat kebaikan bagi khalayak ramai.

Untuk membuktikan keseriusannya, mantan penjahat kelas kakap ini bersedia masuk Islam. Pada 1992 ia resmi mengucapkan syahadat yang dituntun oleh almarhum KH Zainuddin MZ, 'Si Dai Sejuta Umat'. Si Anton Medan, penjahat kelas kakap itu berganti nama dengan Muhammad Ramadhan Effendi.

Kedekatannya dengan, Zainuddin tak hanya sampai di situ saja. Anton, Zainuddin, Nur Muhammad Iskandar, dan Pangdam Jaya waktu itu, Mayjen A.M. Hendro Prijono mendirikan Majelis Taklim Ata'ibin yang menampung para mantan Narapidana dan pengangguran.

"Sengaja saya mendirikan majelis taklim untuk membina dan menampung para mantan narapidana dan pengangguran untuk kembali ke jalan yang benar. Alhamdulillah, usaha ini tak sia-sia," katanya.

Masjid Jami Tan Kok Liong yang berbentuk kelenteng di Kampung Bulak Rata, Cibinong, Kabupaten Bogor, Jum'at (19/6). (ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso)
Masjid Jami Tan Kok Liong yang berbentuk kelenteng di Kampung Bulak Rata, Cibinong, Kabupaten Bogor, Jum'at (19/6). (ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso)

Sudah punya majelis taklim yang berbadan hukum tak membuat Anton Medan puas. Dengan keinginan pengabdian lebih bagi masyarakat banyak, ia ingin mendirikan pondok pesantren. Tujuannya masih sama, untuk membina para mantan Narapidana dan tunakarya.

Keinginannya tercapai, Pondok Pesantren At-Tha'ibin berdiri di daerah Pondok Rajeg, Cibinong, Bogor. Selain itu, di dalam kawasan pondok, Anton mendirikan sebuah masjid yang unik dengan khas Tionghoa. Masjid yang diberi nama Jami' Tan Hok Liang tersebut memang ide pribadi Anton.

Saat ini, keseharian Anton adalah mendalami ilmu agama di kediamannya yang terletak tak jauh dari pondok pesantren. Selain itu, ia juga rajin berdakwah kemana-mana. Dan pada tahun 2012-2017 ia diangkat sebagai Ketua Umum Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI). Namanya bersanding dengan tokoh-tokoh besar, seperti konglomerat Liem Sio Liong dan Tokoh Mahasiswa Soe Hok Gie. (*)

Kredit : zaimul

Tags Artikel Ini

Zaimul Haq Elfan Habib

LAINNYA DARI MERAH PUTIH