Kisah Abdul Karim Oey dan Geliatnya untuk Indonesia Bung Karno dan Warga Bengkulu. (Foto/istimewa)

SEPERTI mayoritas etnis Tionghoa pada umumnya, Oey Tjeng Hien mulai menjajal kemapuan berdagangnya di usia dini. Ia memulainya bersama sang kakak. Setelah berkembang, Oey lalu mendirikan dan memajukan usahanya sendiri. Seiring usahanya berkembang, pemuda yang dilahirkan di Padang Panjang, Sumatera Barat ini, pindah ke Bintuhan, Bengkulu.

Di sana, Oei menjadi pengusaha yang suksen dan kaya raya, tapi hatinya terasa kosong dan hampa. Kekosongan tersebut membawanya ke dalam kegelisahan yang berlarut-larut. Setelah 2 tahun di Bengkulu, Oey memulai petualangannya mempelajari agama-agama lainnya. Buku-buku yang membahas tentang agama menjadi konsumsi favoritnya.

Setiap melancong ke tanah Jawa untuk urusan dagang, Oey menyelinginya dengan membeli buku-buku favoritnya itu. Semua pertanyaan yang menjanggal di benaknya ia kulik di buku-buku pembeliannya. Sampai suatu saat, Oey muda tertarik mengupas tentang agama Islam. Pernyataan, tentang kejelekan Islam yang diperoleh dari mulut ke mulut dalam hidupnya mulai ia pertanyakan.

Setelah menemukan jawaban, Oey Tjeng Hien resmi memeluk agam Islam. Ia mengucapkan dua kalimat sahadat pada usia 20 tahun. Di hadapan Ustaz Abdul Kadir, Oey mengucapkan “asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna muhammadar rasulullah.” Ia berganti nama menjadi Abdul Karim Oey.

"Ananda adalah orang yang mampu, orang keturunan baik-baik mengapa mau masuk suku Melayu, pakaian jorok dan serba buruk itu," tanya Oey Tiang Seng (Sang Ayah) seperti dikutip dari buku Leo Suryadinata dengan judul Tokoh Tionghoa dan Identitas Indonesia yang diterbitkan Komunitas Bambu tahun 2010. Tetapi Oey tetap pada pendiriannya. Bahkan pada akhirnya Oey membuat ayahnya mengikuti langkahnya masuk Islam.

Setelah mengucapkan kalimat syahadat, Oey semakin memperdalam ilmu agama Islam. Kesibukannya saat melancong ke Jakarta bertambah. Selain urusan dagang dan membeli buku agama, Abdul Karim juga meluangkan waktu untuk berkenalan dengan tokoh-tokoh pergerakan nasional dan Islam.

Abdul Karim Oey masih terus mempelajari Islam. Ia sempat berguru kepada Fikir Daud seorang alumni Sumatera Thawalib, sekolah Islam di tanah kelahiran Oey sendiri. Dia belajar sebanyak dua kali dalam seminggu setelah shalat maghrib. Guru Fikir pandai sekali mengajar, pertanyan-pertanyaan Oey selalu dijawabnya dengan jelas dan semuanya berdasarkan Al-Quran dan Hadits.

Sukarno, Buya Hamka, dan Abdul Karim Oey. (Foto/Istimewa)
Sukarno, Buya Hamka, dan Abdul Karim Oey. (Foto/Istimewa)

Hingga suatu saat, pada 1938. Oey kedatangan tamu pembangkang Belanda, bernama Sukarno di Bengkulu. Di sana Bung Karno dan Oey sering berdiskusi. Mereka semakin akrab. Tak berselang lama, Bung Karno memilih Oey untuk menduduki jabatan Ketua Cabang Muhammadiyah Bengkulu.

Di Muhammadiyah, Oey kenal juga dengan Abdul Malik Karim Amrullah atau yang beken dikenal dengan nama Buya Hamka. Oey kenal betul siapa Buya Hamka dan begitu juga sebaliknya. Hamka sendiri menilai Oey sebagai seorang muslim yang mempunyai jiwa Nasionalisme tinggi. "Di samping muslim yang taat, dia pun dipupuk, diasuh dan menjadi seorang nasionalis Indonesia sejati," kata Hamka.

Waktu berjalan, tiba saat Indonesia merdeka. Masyarakat mulai membentuk partai politik. Tiga bulan usan proklamasi, tepatnya pada tanggal 7 November 1945 berdiri sebuah Partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) di Yogyakarta. Pada tahun 1946, Masyumi didirikan juga di Bengkulu, di sana Abdul Karim Oey Tjeng Hien diangkat menjadi Ketua Umumnya.

Namun, jabatan itu tak bertahan lama. Pasca agresi militer Belanda ke-2, Oey menjadi buronan tentara Belanda. Mengetahui hal ini, dia bersama Residen Mr. Hazairin, Letkol Barlian, Affan, dan kawan-kawannya melarikan diri ke pedalaman Bengkulu dengan mobil. Perjalanan Oey dan kawan-kawan penuh dengan bahaya.

Oey memiliki jalan terjal bersama Masyumi di Bengkulu. Dalam pelariannya, di daerah Curup, Bengkulu, saat sudah masuk waktu shalat Jumat, di Masjid Muhammadiyah, tiba-tiba terdengar suara pesawat terbang Belanda. Pesawat tersebut kemudian melakukan tembakan membabi buta. Bangunan milik tentara, polisi, dan kantor pemerintah, dan mobil-mobil menjadi sasarannya hingga ada yang terbakar.

Setelah kejadian itu, Oey dan kawan-kawannya melanjutkan perjalanan ke Muara Aman. Di sana tak selamanya aman, beberapa tembakan sempat dilesatkan oleh pesawat Belanda. Memasuki desa Taberenah, pesawat Belanda muncul kembali, jembatan, rumah-rumah penduduk, dan mobil menjadi sasaran tembak. Akhirnya, tak lama bertahan partai ini bubar. Namun, di bidang keagamaan dia tetap aktif di Muhammadiyah.

Pada tahun 1961, Oey membentuk PITI (Persatuan Islam Tionghoa Indonesia). Organisasi ini adalah gabungan dua organisasi serupa. Organisasi ini juga sempat berganti nama pada masa orde baru. Organisasi dakwah di kalangan etnis Tionghoa ini sementara diganti menjadi Pembina Iman Tauhid lslam karena menggunakan kata Tionghoa.

Karim Oey meninggal dunia pada 14 Oktober 1988 di usia 83 tahun. Ia meninggalkan 3 orang anak. Jenazahnya dimakamkan di pemakaman umum Tanah Kusir, berdekatan dengan Maemunah Mukhtar, istrinya yang wafat pada tahun 1984. (*)

Kredit : zaimul

Tags Artikel Ini

Zaimul Haq Elfan Habib

LAINNYA DARI MERAH PUTIH