Kirab Sepeda Tua di Denpasar, Satukan Pencinta Sepeda Lawas dari Berbagai Negara R Adam, peserta Kirab Sepeda Tua dari Inggris. (Foto: MP/MKF)

MEMILIKI sepeda tua bisa menjadi hobi yang asyik. Meski sepedanya lawas, tetapi trennya kekinian. Anda bisa menikmati gowes sendirian. Namun, mengayuh bersama komunitas atau sesama pencinta sepeda lawas lain juga tidak kalah seru.

Anda bakal mendapat tambahan wawasan tentang modifikasi dan tempat membeli komponen. Selain itu, riset menunjukkan berolahraga bersama-sama bagus bagi kesehatan serta dapat menghalau stres. Jika tidak tergabung dalam komunitas, Anda juga bisa mengikuti parade sepeda klasik.

Dengan mengikuti parade tersebut, Anda bisa berkenalan dengan penggemar lain. Bukan cuma dari Indonesia, tetapi juga dari negara lain. Seperti Kirab Sepeda Tua yang dihelat International Veteran Cycle Association (IVCA) di Denpasar, Bali, 12-15 April ini.

Kirab Sepeda Tua seperti ini ternyata menarik minat para pencinta sepeda lawas dari berbagai negara. Sekitar 8 ribu peserta dari berbagai kota di Tanah Air dan 200 peserta dari 30 negara lain mengikuti pawai tersebut. Seketika jalanan di rute yang mereka lalui berubah bak jalan-jalan di era kolonial. Dipenuhi sepeda buatan tahun 1870-an dan sesudahnya.

Seluruh peserta terlihat antusias mengikuti kirab. Dengan penuh semangat, mereka mengayuh sepeda klasik kesayangan. Swafoto pun tidak ditinggalkan.

R Adam
Peserta Kirab Sepeda Tua dari Inggris, R Adam. (Foto: MP/MKF)

Mereka swafoto untuk mengabadikan momentum langka ini. Maklum, Kirab Sepeda Tua kali ini merupakan yang pertama dan terbesar yang dihelat IVCA. Bukan hanya sepeda yang mereka pamerkan lewat foto-foto tersebut, tetapi juga busana yang dikenakan.

Jefri Denijian, peserta dari Selangor, Malaysia, mengenakan busana khas Melayu. “Ini pakaian bangsa Melayu,” terangnya.

Mungkin Anda bakal terkejut kalau tahu berapa banyak penggemar sepeda yang berangkat ke Bali bersama Jefri. “Saya ke sini bersama 32 kawan-kawan saya, untuk mengikuti parade sepeda tua ini,” terangnya.

Jefri mengungkapkan pula kegembiraannya karena dapat berpartisipasi dalam parade tersebut. Ia berharap pawai seperti ini dapat menambah kemesraan warga serumpun, Malaysia dan Indonesia.

Orang-orang disini sangat menghormati para tamu yang dari luar. Kita gembira sekali bisa mengayuh bersama-sama dengan seluruh penggemar sepeda tua di dunia," ujarnya.

Peserta bukan hanya dari Asia, tetapi juga Eropa. R Adam dari Inggris rela datang ke Indonesia karena memang ingin mengikuti parade ini. Ia menyebut parade seperti ini amat bagus karena banyak orang dari negara berbeda, tetapi punya satu kegemaran sama, bisa berkumpul di satu kota dan mengayuh bersama-sama.

"Sangat fantastis, dan event ini sangat bagus di Bali. Kita bisa berkumpul bersama-sama dari negara yang berbeda-beda. Saya harap dengan adanya event sepeda tua ini. Kita bisa terus menjaga (melestarikan) event ini," ujarnya. (*)

Artikel ini dibuat berdasarkan laporan MKF, kontributor Merahputih.com wilayah Denpasar dan sekitarnya. Selain artikel ini, Anda juga dapat membaca artikel lain mengenai sepeda ontel di sini.

Kredit : rina


Rina Garmina

LAINNYA DARI MERAH PUTIH