Kirab Sepeda Tua di Denpasar, Bak Melihat Indonesia pada Era Kolonial Kirab Sepeda Tua di Denpasar, Bali. (Foto: MP/MKF)

INDONESIA merupakan gudangnya sepeda tua, terutama ontel. Ontel adalah sepeda tua yang ukuran bannya 28 inci dan biasa digunakan pada zaman Hindia Belanda.

Sepeda tua selalu menarik perhatian. Bahkan, tidak jarang perusahaan-perusahaan besar mengundang komunitas pemilik sepeda tua datang ke acara yang mereka helat. Tujuannya, untuk menarik perhatian publik.

Kali ini, pemilik sepeda tua di Indonesia menjadi perhatian International Veteran Cycle Association (IVCA) yang diketuai Dirk van Luchem. Bersama pemilik sepeda tua dari negara lain, para pemilik sepeda tua di Indonesia diajak mengikuti kirab sepeda tua di Denpasar, Bali, pada Minggu (15/4).

Kirab ini merupakan parade sepeda tua terbesar pertama di dunia dan Indonesia terpilih menjadi tuan rumah. Terpilih sebagai tuan rumah tentu saja amat membanggakan sekaligus membuka peluang agar bangsa lain lebih mengenal Indonesia.

Apalagi, Indonesia merupakan negara pertama di Asia yang menjadi tuan rumah sejak kongres IVCA dihelat untuk pertama kalinya di Grantham, Inggris, pada 1981.

Menurut Ketua Panitia IVCA 2018, Waluyojati, parade ini diikuti 8 ribu peserta dari berbagai daerah di Tanah Air dan 200 peserta dari 30 negara lain.

“Untuk rutenya, kita masuk ke dalam Kota Denpasar menuju Puputan (lapangan) dan mengelilingi Kota Denpasar,” terangnya.

Rute ini berjarak hampir 25 kilometer. Kegiatan telah berlangsung sejak 12 April dan berakhir hari ini, 15 April 2018.

Kirab hari ini dibuka Presiden IVCA, Dirk van Lunchem, di Grand Inna Bali Beach Hotel, Sanur, dengan mengibarkan bendera. Agar lebih menunjukkan identitas kota asalnya, peserta mengenakan busana daerah.

Jika peserta Indonesia kebanyakan menggunakan sepeda tua yang rata-rata keluaran era kolonial, peserta dari negara lain lebih memilih mengoleksi sepeda tua Penny Farthing. Penny Farthing adalah jenis sepeda yang roda depannya besar dan roda belakangnya jauh lebih kecil.

Sepeda tua
Sepeda tua jenis Penny Farthing. (Foto: MP/MKF)

Melihat sejarahnya, sepeda dengan spesifikasi seperti ini pertama kali diproduksi James Starley pada 1870. Sepeda tua-sepeda tua yang dipakai peserta rata-rata dibawa ke Bali menggunakan truk. Meski begitu, ada pula peserta yang mengayuh sepeda tuanya dari Jawa Timur. Untuk peserta dari luar Jawa dan Bali, Bambang mengaku telah menyiapkan penyewaan sepeda tua.

Sepeda tertua yang mengikuti parade diproduksi pada 1878.

Di hari terakhir kirab ini akan diisi pula dengan Kongres IVCA untuk memilih presiden baru. “Kami sebagai tuan rumah, harapannya membuat mereka terkesan,” ungkap Bambang.

Karena di Indonesia baru pertama kali ada kongres dan parade sepeda yang diinisiasi IVCA, Bambang juga berharap mereka akan kembali menggelar parade sepeda di Indonesia.

Melihat parade sepeda tua seperti hari ini, bak kembali ke era kolonial. Era di mana sepeda tua menghiasi jalanan kota-kota di Indonesia. (*)

Artikel ini dibuat berdasarkan laporan MKF, kontributor Merahputih.com area Denpasar dan sekitarnya. Ngomong-ngomong, Reuben Elishama mengakhiri statusnya sebagai duda. Sudah tahu, belum? Kalau belum, baca beritanya di sini.

Kredit : rina

Tags Artikel Ini

Rina Garmina

LAINNYA DARI MERAH PUTIH