Kim Kardashian Mengaku Terkena Dysmorphia, Apa Pula itu? Kim Kardashian mengidap BDD? (Foto: Into the Gloss)

KIM Kardashian selalu tampil menarik pada kesehariannya. Entah bergaun cantik maupun berpenampilan kasual. Namun ia langsung galau bila ada yang berkomentar negatif tentang tubuhnya,

Kim sendiri mengakui dalam program 'Keeping Up with the Kardashian', ia semakin merasa tidak nyaman dengan tubuhnya. "Kamu berfoto dan kemudian orang-orang memandangi dengan aneh pada dirimu. Saya merasakan hal itu, seperti body dysmorphia," ungkap Kim.

Body dysmorphia merupakan kondisi dimana seseorang merasakan sedikit kecacatan pada penampilan tubuhnya. Ini sebenarnya adalah kondisi kesehatan mental yang tidak dapat dianggap enteng.

Biasanya orang dengan body dysmorphia ini melihat bagian tubuh tertentu atau seluruh tubuhnya terlihat jelek dan dapat merusak penampilannya. Lama kelamaan kemudian berubah menjadi obsesi yang menjajah seluruh hidupnya.

Menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5), body dysmorphic disorder (BDD) merupakan tipe dari obsessive compulsive disorder (OCD). Di Amerika menurut International OCD, BDD diidap oleh 5 dari 7,5 jiuta orang. Bisa jadi Kim menjadi satu dari lima orang itu.

Namun Tom Hildebrandt, pimpinan Division of Eating and Weight Disorders di Mount Sinai Health System, kota New York, menyebutkan seseorang yang mengidap BDD biasanya menggantungkan semua kehidupannya berdasarkan penampilannya atau berusaha menyembunyikan ketidakpatutan dalam berpenampilan.

Jika seseorang sudah mengidap BDD ada kecenderungan menghindar dari kehidupan sosial dan berusaha tidak menonjolkan diri. Bila sudah pada tahap mengkhawatirkan, biasanya pengidap BDD akan berusaha menutupi dirinya dari pandangan orang lain atau melakukan operasi plastik.

Hildebrandt mengatakan jika pengidap BDD memilikberasal dari keluarga kaya, akan melakukan operasi plastik terus-menerus. Hasil operasi tidak pernah membuatnya senang.

Sedangkan pada KIM merasakan komentar negatif dari para hatersnya atau komentar pedas lainnya di depan publik. Komentar-komentar negatif itu yang semakin membuat pengidap BDD semakin memburuk. Namun bukan itu penyebab munculnya penyimpangan ini, demikian Hildebrandt menegaskan.

Penyebab BDD belum jelas sampai sekarang tapi tidak jauh beda dengan OCD. Orang dengan temperamen dan pemikiran tertentu cenderung menjadi BDD dan memperlihatakan gejala OCD pada sebagian hidupnya. Hildebrandt menyebutkan orang-orang ini cenderung memprioritaskan sesuatu yang tidak pada tempatnya ketimbang hal lain yang lebih besar.

Tidak berlebihan kalau seseorang berkomentar tentang bagian dirinya yang dianggap tidak sempurna. Namun menjadi serius bila kemudian dia terobsesi dan berusaha menyembunyikan kekurangannya. (psr)

Kredit : paksi


Paksi Suryo Raharjo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH