Kikis Ketimpangan, Akademisi Aceh Rekomendasikan 8 Kebijakan Strategis Masjid Baitussalam, Aceh. Foto: Net

MerahPutih.com - Himpasay (Himpunan Mahasiswa Pascasarjana Aceh Yogyakarta) merekomendasikan 8 kebijakan strategis kepada pemerintah Provinsi Aceh. Kebijakan tersebut dituangkan dalam buku bertajuk “Ruang dan Masyarakat Baru”.

Hal itu disampaikan oleh Ketua Himpasay Heri Maulizal, saat peluncuran buku “Ruang dan Masyarakat Baru” yang digelar di Kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Jumat (26/7)

Baca Juga: Tradisi Ramadan Unik di Aceh, Berburu Daging di Hari Meugang

“Sebagai Putra Daerah Aceh, kami bertekad untuk mengikis ketimpangan melalui 8 rekomendasi kebijakan,” ujar dia.

Ia menuturkan, mahasiswa asal Aceh secara serius merumuskan berbagai kebijakan dalam menjawab persoalan ketimpangan pembangunan yang mengakibatkan Aceh menjadi salah satu provinsi termiskin di Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, posisi Aceh sebagai daerah termiskin ke-6 di Indonesia dan posisi ke-1 termiskin di Sumatera.

Kebijakan Strategis

Hery menyebutkan, 8 kebijakan tersebut tertuang dalam judul tulisan buku “Ruang dan Masyarakat Baru”. Pertama, Ketahanan sosial masyarakat dalam menghadapi Gerakan radikal. Kedua, Membangun Aceh membangun sistem informasi.

Ketiga, Kajian evaluasi dalam kesiapsiagaan bencana Tsunami dengan pendekatan berbasis masyarakat. Keempat, Aktualisasi nilai kesejarahan Seulawah, Cakra Donya dan Gajah Puteh dalam integrasi sistem informasi transportasi antarmoda di kota Sabang sebagai destinasi wisata Bahari international.

Baca Juga: Pengamat: Isu Referendum Aceh Hanyalah Ilusi dan Pepesan Kosong

Kelima, Meninjau implementasi Syariat Islam dalam keistimewaan Aceh sebagai daerah Serambi Mekkah. Keenam, Siblah Buleun mita sibuleun pajoh. Ketujuh, Nostalgia baru kebangkitan Ekonomi Aceh. Kedelapan, Ekspansi di Tanah Rencog. Semoga karya ini menjadi masukan bagi pemangku kepentingan di Aceh (Pemda, Dewan Perwakilan Rakyat dan dunia usaha serta LSM).

Ketua Himpasay Heri Maulizal
Ketua Himpasay Heri Maulizal

Masa Lalu Aceh

Hery mengisahkan, jika mendengar kata ‘Aceh’ maka yang terbayang di benak adalah syari’at Islam, kopi dan ganja. Kata-kata ini sering didengar dari orang-orang non-Aceh.

“Padahal, Aceh sangat menarik ketika ditransformasikan menjadi daerah berasaskan syariat Islam, daerah yang membedakan dengan daerah lain di Indonesia. Beda halnya dengan budaya ke-Acehan mulai memudar di era millenial, yang di pengaruhi oleh enkulturasi kebaratan ke sendi-sendi sosial. Fenomena ini sudah mulai mewabah di Aceh berimbas pada lunturnya nilai-nilai tradisi yang sejatinya dipertahankan,” terang mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga itu lagi.

Terobosan Penting

Mahasiswa Aceh, kata Hery, sering mengadakan diskusi yang berinovasi dan komprehensif tentang dunia literasi ke-Acehan baik dari perspektif budaya, politik, hukum dan lain-lain. Mahasiswa Aceh di perantauan sangat kreatif dan inovatif sebagai intelektual muda yang peduli terhadap kemajuan negeri 1001 kedai kopi ini.

Baca Juga: Tanggapan Moeldoko soal Wacana Referendum Aceh

“Buku ini merupakan hasil dari ijtihad ilmiah intelektual muda Aceh yang sedang menempuh studi di Yogyakarta, sekaligus bentuk legitimasi keseriusan Mahasiswa Aceh untuk memberi dampak signifikan terhadap kemajuan Aceh dengan khas Syari’at Islamnya,” tutup dia. (*)


Tags Artikel Ini

Andika Pratama

LAINNYA DARI MERAH PUTIH