Kian Tergerus, Jual-Beli Dolar di Bank BUMN Mulai Tembus di Atas Rp17.000 Ilustrasi Kurs rupiah. Foto: Net/Ist

MerahPutih.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) semakin melemah di perdagangan antar bank di tengah pandemi global COVID-19. Bahkan, sejumlah bank BUMN Nasional tercatat nilai jual-beli rupiah menembus angka Rp17.000 per dolar.

Berdasarkan penelusuran sejumlah situs resmi perbankan nasional, Senin (23/3), Bank Rakyat Indonesia (BRI) tercatat nilai jual 1 dolar AS mencapai Rp16.935, sedangkan, nilai tukar beli Rp16.365 pada pukul 15.00 WIB.

Pada kisaran jam yang sama, Laman resmi Bank Mandiri mematok tarif beli Rp16,195 per dolar. Adapun 1 dolar AS dijual setara dengan Rp16.995.

Baca Juga:

Jumat Siang, Kurs Rupiah Kian Anjlok Tembus di Atas Rp16.000 per Dolar

Bahkan, laman Bank Nasional Indonesia (BNI) di bagian transaksi valas membandrol nilai tukar rupiah sudah di atas Rp17.000. Bank Plat merah itu menjual 1 dolar AS senilai Rp17.184, sedangkan tarif beli Rp16.179.

Bank nasional lainnya Bank Tabungan Negara (BTN) mematok nilai beli 1 dolar di angka Rp16.330. Untuk nasabah yang ingin membeli dolar di BTN dibandrol dengan nilai jual Rp 17.131 per dolar.

BNI
Pengunjung melihat kain tenun sutera Sengkang mitra usaha Bank BNI pada Pameran Hari Koperasi Nasional (Harkopnas) Expo 2017. (ANTARA FOTO/Dewi Fajriani)

Pagi tadi, nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antar-bank di Jakarta pada awal pekan kembali tertekan menembus level Rp16.500 per dolar AS. Pada pukul 09.53 WIB, rupiah bergerak melemah 590 poin atau 3,7 persen menjadi Rp16.550 per dolar AS dari sebelumnya Rp15.960 per dolar AS.

"Rupiah kemungkinan bisa tertekan lagi hari ini mengikuti sentimen negatif yang membayangi pergerakan aset berisiko pagi ini seperti indeks saham futures AS, indeks saham Australia, Nikkei (Jepang) dan Kospi (Korea Selatan) yang bergerak negatif serta sebagian mata uang Asia yang melemah terhadap dolar AS," kata Kepala Riset Monex Investindo Futures di Jakarta, Senin, dikutip Antara.

Baca Juga:

Rupiah Anjlok ke Rp 15 Ribu per Dolar AS

Menurut Ariston, kekhawatiran terhadap peningkatan penyebaran wabah COVID-19 ditambah dengan stimulus pemerintah AS senilai 1,3-2 triliun dolar AS yang belum mencapai kata sepakat dengan senat AS, menjadi penyebab sentimen negatif tersebut.

WHO sendiri masih terus melaporkan peningkatan kasus penularan wabah COVID-19 di dunia dengan lebih dari 294 ribu positif. Sementara itu, pasar masih menunggu kabar kesepakatan stimulus pemerintah AS malam ini. Bila sepakat, lanjut Ariston, bisa membantu memberikan sentimen positif ke pasar keuangan karena stimulus yang besar.

"Pergerakan USD-IDR hari ini masih berpotensi untuk naik mendekati level tertinggi Juni 1998 di Rp16.850 dengan potensi support di kisaran Rp15.900," tutup Ariston. (*)

Baca Juga:

Triliunan Rupiah Disiapkan untuk Antisipasi Dampak Virus Corona terhadap Ekonomi


Tags Artikel Ini

Wisnu Cipto

LAINNYA DARI MERAH PUTIH