Kiai Ma'ruf Paparkan Peran Kiai dan Santri dalam Birokrasi Pemerintah Cawapres nomor 01 Ma'ruf Amin. (MP/Fadhli)

MerahPutih.Com - Peran para kiai dan santri dalam birokrasi pemerintah sudah setua dengan sejarah Indonesia. Selain ikut berjuang dalam revolusif fisik merebut dan mempertahankan kemerdekaan, para kiai serta santri ikut membangun negeri lewat jabatan birokrasi pemerintahan.

Ingatan dan peran sejarah itu sempat sengaja dihilangkan namun tak mengurangi sumbangsih para kiai dan santri terhadap NKRI.

Hal ini diungkapkan calon wakil presiden Kiai Ma'ruf Amin dalam Silaturahmi Nahdliyin di Serang, Banten, Minggu (16/12).

KH Ma'ruf Amin mengajak para kiai Banten untuk kembali mengingat sejarah bangsa ini.

"Kita harus belajar dari sejarah, bagaimana para pendahulu kita membangun kesepakatan, mitsaq. Berupa NKRI dan Pancasila. Nabi sendiri pernah melakukan mitsaq, kesepakatan untuk kedamaian Madinah," kata KH Ma'ruf Amin.

Kiai Ma'ruf Amin di kediamannya
Kiai Ma'ruf Amin bertemu warga di kediamannya (MP/Ist)

Di Indonesia, menurut Kiai Ma'ruf, para ulama juga menjaga negara ini dengan luar biasa. Ketika Indonesia sudah memproklamasikan kemerdekaan 17 Agustus, beberapa bulan kemudian, di bulan Oktober, Belanda dan Sekutu ingin merebut Indonesia.

Para Ulama yang dipimpin Rais Akbar mengeluarkan Resolusi Jihad yang melahirkan semangat Umat Islam untuk melawan penjajah Belanda.

"Ulama kita telah membangun kesepakatan tentang konsep dan dasar Negara ini. Sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia, berdasarkan Pancasila. Kita harus menaati dan menjaga kesepakatan itu. Jika dilihat dari isi Pancasila, apa negara ini islami, ya tentu Indonesia ini negara kebangsaan yang bertauhid, karena ada Sila Ketuhanan yang Maha Esa," katanya.

Pasangan Jokowi ini juga mengingatkan para Nahdliyin untuk tidak kagetan. Terbawa arus opini yang mendegradasi santri dan kiai seolah Santri dan Kyai tak layak jadi pemimpin, tak layak jadi politisi dan memimpin birokrasi.

"Santri itu bisa jadi apa saja. Zaman dulu, Bupati dan Wedana itu Kyai, di Serang ada Kyai Sjam'un, Kiai Abdul Halim Bupati Pandeglang. Sekarang banyak juga santri dan kiai jadi Kepala Daerah. Jawa Barat dipimpin oleh Kyai. Wakil Gubernurnya Kyai. Jawa Tengah wakil Gubernur nya Kyai, putranya Mbah Moen. Jawa Timur juga dipimpin Nyai Khofifah, dia itu santriwati. Gus Dur juga pernah jadi Presiden. Jadi kalau Kyai dipilih jadi Wakil Presiden, bukan hal aneh," kata Ma'ruf Amin.

Kiai Ma'ruf Amin bersama Presiden Jokowi
Kiai Ma'ruf Amin bersama Jokowi dan Jusuf Kalla (MP/Fadhli)

Karena itu, KH Ma'ruf pun mengajak masyarakat untuk membantah tudingan bahwa dia dipilihnya sebagai Cawapres oleh Presiden Joko Widodo hanya akan jadi alat.

"Masa Saya jadi alat. Saya tentu paham politik. Sebab sejak muda saya sudah jadi anggota DPRD DKI, menjadi anggota DPR-MPR, menjadi Dewan Pertimbangan Presiden dua periode, menjadi Rais Aam PBNU, Ketua MUI, masa bisa diperalat. Saya menerima tawaran menjadi Wapres adalah untuk memperjuangkan kemaslahatan bangsa ini," katanya.

Upaya pembelaan terhadap umat, kata Kiai Ma'ruf sebagaimana dilansir Antra, dilakukan sejak lama dan banyak mendapat respon positif di era Presiden Jokowi.

"Saya pernah usul kepada Pak Jokowi, Ekonomi Islam itu sangat penting bagi umat, sekaligus juga potensial untuk meningkatkan ekonomi nasional. Di antaranya adalah konsep bagi hasil. Kemudian Pak Jokowi setuju membentuk Komite Nasional Keuangan Syariah. Saya usulkan juga agar Presiden langsung yang menjadi ketua Komitenya," kata KH Ma'ruf Amin.(*)

Baca berita menarik lainnya dalam artikel: Lima Hari Usai Perusakan, Keluarga Pelaku Pengeroyokan Anggota TNI Masih Trauma



Eddy Flo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH