Keumamah, dari Ikan Segar hingga Dinikmati dengan Sepiring Nasi Keumamah jadi favorit kuliner Aceh. (Foto: instagram@dapurma_atik)

ACEH merupakan surganya kuliner tradisional. Tanah Rencong terkenal memiliki sajian kaya akan bumbu dengan citarasa pedas. Selain olahan daging dan ikan, Aceh juga punya banyak penganan khas yang bisa memanjakan para food traveller.

Bagi pecinta kuliner nusantara, jangan lupa untuk mencicipi ikan keumamah ketika melancong ke Aceh. Keumamah berbahan baku ikan, dan lazimnya berasal dari ikan tongkol.

"Pada dasarnya ikan keumamah ini merupakan ikan yang sudah dikeringkan. Setelah diiris dalam bentuk tipis-tipis, kemudian direndam air panas beberapa menit, sebelum di masak dengan bumbu dan dicampur dengan rempah-rempah," ucap Muhammad Nur Usman (65), pemilik salah satu pengolahan ikan di Lampulo, Kota Banda Aceh, seperti dikutip Antara.

Kelezatan dan kegurihan ikan ini membuatnya semakin banyak digemari. Apalagi jika makanan itu disajikan dalam menu masakan bersantan, dan disantap dengan nasi putih yang masih hangat.

Banyangkan saja, satu resep makanan ikan keumamah yang dicampur dengan asam sunti atau asam terbuat dari belimbing wuluh dikeringkan, bawang putih, bawang merah, cabai rawit, cabai merah, cabai hijau, kunyit, jahe, lengkuas, batang serai, dan air putih secukupnya.


Cara Mengolah Keumamah

Keumamah. (Foto: instagram.com/mom_and_me_cake)
Keumamah. (Foto: instagram@mom_and_me_cake)


Orang luar di Aceh sering menyebutnya dengan ikan kayu karena memiliki tekstur daging yang keras ini. Tahukah kamu bagaimana cara mengolah keumamah?

Muhammad Nur Usman (65), pemilik industri rumahan ikan keimanan yang telah digelutinya sejak tahun 1970-an mengaku, dibutuhkan waktu sedikitnya tiga hari untuk menghasilkan ikan yang memiliki kualitas baik.

Keumamah dimulai dari bahan baku ikan tongkol yang masih segar, kemudian ikan itu dibuang bagian kepala, dan isi dalam perut. Lalu direbus ke dalam air yang telah ditaburi garam, sampai dalam kondisi setengah masak.

Kemudian ikan diangkat dari proses perembusan menggunakan keranjang bambu, dan dikeringkan dalam keranjang di bawah teriknya sinar matahari.

Setelah kering, lanjut Nur Usman, ikan dibelah menjadi dua bagian untuk dibuang tulang belulangnya, dan baru dijemur kembali menggunakan kawat jemuran agar kandungan airnya menetes keluar.

"Pengeringan itu, paling cepat selama dua hari. Penggunaan garam saat proses perebusan, dan penjemuran membuat ikan kayu tahan hingga dua tahun lamanya," katanya menjelaskan. Meskipun demikian, serangkaian proses ikan keumamah ini sama sekali tidak mengurangi citarasa asli dari ikan tongkol, yakni lemak dan gurih.

Keumamah. (Foto: instagram.com/syaffasegaff)
Keumamah yang awet selama dua tahun. (Foto: instagram@syaffasegaff)

Sementara itu, Teuku Arizal (45), pemilik salah satu sentra pengolahan ikan rumahan di Lamdingin, Banda Aceh, mengatakan, proses awal tongkol segar menjadi keumamah mengurangi volume ikan sekitar 700 gram dalam setiap satu kilogram.

"Rata-rata berat ikan yang kami olah, termasuk ikan kayu berkurang dengan perbandingan satu ton ikan segar, menjadi 300 kilogram ikan siap dipasarkan," kata dia.

Ia menjelaskan bahwa usaha pengolahan ikan miliknya setiap hari mampu memproduksi sekitar 200 kilogram ikan "keumamah" yang dipasarkan di pasar tradisional, seperti Banda Aceh dan Aceh Besar.

Tidak jarang pihaknya juga melayani permintaan pedagang, seperti dari Aceh Jaya, Pidie, Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Utara, dan sebagainya, meski hingga kini ikan ini masih digemari penduduk lokal.

"Kami masih dapat untung, untuk membayar gaji empat orang karyawan. Ikan 'keumamah' ini kami lepas seharga Rp35 ribu hingga Rp40 ribu per kilogram, sedangkan tongkol segar saat ini cuma Rp13 ribu per kilogram," tutur Ari, panggilan akrab Teuku Arizal.

Ikan keumamah merupakan warisan dari pejuang-pejuang Aceh di zaman perang. Namun kini, telah berubah menjadi kuliner yang memiliki cita rasa istimewa, dan cuma ada di Aceh.

Keumamah. (Foto: instagram.com/meutya_marora)
Keumamah cuma ada di Aceh. (Foto: instagram@meutya_marora)

Wali Kota Banda Aceh Aminullah Usman akan menjadikan ikan "keumamah" sebagai salah satu hidangan favorit pusat kuliner halal di kawasan Pantai Ulee Lheue, Kecamatan Meuraxa.

Hal tersebut dilakukan sebagai upaya pemerintah daerah, guna menunjang pengembangan pariwisata di Ibu Kota Provinsi Aceh tersebut.

"Kami akan menjadikan Pantai Ulee Lheue sebagai pusat kuliner halal. Rencananya pembangunan dilakukan pada 2019. Dan salah satu menunya, yakni ikan 'keumamah' warisan pejuang di Aceh," katanya.

Apalagi dewasa ini Kota Banda Aceh semakin dikenal dengan kuliner, dan cita rasa khas Aceh semakin diminati wisatawan, baik Nusantara maupun mancanegara. (*)

Baca juga berita lainnya dalam artikel: Asem Pedes Sajian Wajib Para Pelancong di Bumi Laskar Pelangi

Kredit : zulfikar


Zulfikar Sy

LAINNYA DARI MERAH PUTIH