Keuangan Merugi, PHK Garuda Mulai Merembet ke Pilot Ilustrasi foto pesawat Garuda Indonesia. Merahputih.com/Rizki Fitrianto

MerahPutih.com - PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk memutuskan untuk melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dengan sejumlah pilotnya

Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengatakan, pihaknya memutuskan untuk mempercepat penyelesaian kontrak kerja pilot karena keungannya tengah merugi.

Baca Juga

KPK Akhirnya Tangkap Nurhadi, Buron Kasus Mafia Peradilan MA

"Pada dasarnya kebijakan yang Garuda Indonesia berlakukan adalah penyelesaian lebih awal atas kontrak kerja pegawai dengan profesi penerbang dalam status hubungan kerja waktu tertentu," ujarnya dalam keterangan terhadap wartawan, Selasa (2/6).

Langkah tersebut diambil merespon anjloknya jumlah penumpang penerbangan selama masa pandemi COVID-19.

"Adapun kebijakan tersebut dilakukan sebagai langkah berkelanjutan yang perlu ditempuh dalam upaya menyelaraskan supply and demand operasional penerbangan yang saat ini terdampak signifikan imbas pandemi COVID-19," tuturnya.

Ilustrasi pesawat Boeing 747 milik maskapai Garuda Indonesia. Merahputih.com/Rizki Fitrianto
Ilustrasi pesawat Boeing 747 milik maskapai Garuda Indonesia. Merahputih.com/Rizki Fitrianto

Dia mengakui, hal tersebut menjadi keputusan berat yang harus diambil. Kebijakan tersebut, ujar Irfan, telah melewati pertimbangan yang matang dengan tetap memperhatikan hak-hak dari pegawai yang kontraknya diselesaikan lebih awal.

"Ini keputusan berat yang harus kami ambil," ucapnya.

Irfan melanjutkan, Garuda Indonesia tidak akan memperpanjang kontrak kerja dengan pilot dalam status hubungan kerja waktu tertentu.

"Melalui penyelesaian kontrak tersebut, Garuda Indonesia tetap memenuhi kewajibannya atas hak-hak penerbang sesuai masa kontrak yang berlaku," kata dia.

Irfan yakin Garuda Indonesia akan dapat terus bertahan dan kondisi operasional perseroan akan terus membaik dan kembali kondusif. Sehingga, Irfan pun yakin maskapai pelat merah ini mampu melewati masa yang sangat menantang bagi industri penerbangan saat ini.

Perseroan memang tengah berjibaku dengan sejumlah strategi demi mempertahankan kelangsungan usaha akibat dampak pandemi virus corona yang menghantam bisnis penerbangan dalam negeri dan global.

Dalam kesempatan sebelumnya, Direktur Keuangan Garuda Indonesia Fuad Rizal menjelaskan perseroan telah menerapkan pemotongan gaji mulai dari 10% hingga 50% untuk seluruh karyawan maskapai penerbangan BUMN ini.

Pendapatan operasi Garuda juga turun sebesar 89% pada April 2020. Pandemi juga menyebabkan arus kas negatif karena peningkatan tunggakan utang dagang perseroan sebesar 47% atau sebesar US$ 236 juta selama kuartal I-2020 dibandingkan kuartal terakhir 2019.

Sebelum pilot Garuda, maskapai pelat merah ini telah merumahkan pegawai yang berstatus kontrak alias Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT). Kabar soal ratusan pegawai yang dirumahkan sementara ini awalnya disampaikan oleh Ikatan Awak Kabin Garuda Indonesia (IKAGI).

Baca Juga

Bansos ke Warga Terdampak COVID-19 Diperpanjang hingga Desember 2020

Namun, jumlah 800 ini lebih besar dari yang disampaikan IKAGI, yang hanya 400 orang, terdiri dari pramugari dan pramugara PKWT.

Dari seluruh pegawai yang dirumahkan, tak ada yang mendapatkan gaji, melainkan hanya menerima asuransi kesehatan dan Tunjangan Hari Raya (THR) yang sudah dibayarkan sebelumnya. (Knu)


Tags Artikel Ini

Andika Pratama

LAINNYA DARI MERAH PUTIH