Ketum Pemuda Indonesia Hebat Nilai Pidato Prabowo Halusinasi Ketua Umum Pemuda Indonesia Hebat Rhuqby Adeana. Foto: MP/Ponco

MerahPutih.com - Ketua Umum Pemuda Indonesia Hebat Rhuqby Adeana buka suara terkait pidato Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto yang menyebut ketimpangan ekonomi disebabkan oleh sistem ekonomi neo liberal yang dianut Indonesia.

Rhuqby menilai, pernyataan mantan Danjen Kopassus itu tak lebih dari halusinasi atau cerita fiksi belaka. Dia pun menyesalkan seorang tokoh dan negarawan sekelas Prabowo justru melontarkan pernyataan tersebut.

"Kalau prabowo terus berhalusinasi dengan pikirannya yang membabi buta kita menyesalkan kapasitas seorang calon presiden seperti ini," kata Rhuqby kepada MerahPutih.com saat ditemui dikawasan Cikini, Jakarta Pusat, Senin (2/4).

Rhuqby lantas menjelaskan, sistem ekonomi neo liberal itu sudah lama dianut oleh Indonesia, bukan dari pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK).

Menurut dia, ketergantungan Indonesia yang cukup tinggi terhadap negara lain dalam penguasaan sebagian sumber daya alam, diawali oleh rezim Orde Baru dibawah kendali Presiden RI kedua Soeharto.

Karena itu, Rhuqby menegaskan bahwa Prabowo merupakan bagian dari Orde Baru. Pasalnya, Prabowo merupakan mantan menantu Soeharto dan anak dari ekonom Sumitro Djojohadikusumo, yang pernah menjabat sebagai menteri perdagangan di masa orde baru.

"Liberalisasi sumber daya alam kita ini dimulai 1967 dimana waktu itu Soeharto mengambil alih kepemimpinan nasional dari Soekarno. Dari situ terus menerus terjadi liberalisasi, gas, minyak dan sumber daya alam kita lainnya," tegasnya.

Ketua Dewan Pimpinan Cabang Banteng Muda Indonesia (BMI) Depok ini juga menegaskan sistem ekonomi yang diusung Presiden Jokowi saat ini justru melawan sistem ekonomi neolib tersebut.

"Apa yang dilakukan oleh Jokowi bagian dari pembenahan yang selama ini diabaikan oleh pemimpin sebelumnya," pungkasnya.

Sebelumnya, saat berpidato di Gedung Serbaguna Istana Kana Cikampek, Sabtu (31/3) kemarin, Prabowo bicara soal sistem ekonomi yang dianut Indonesia. Dikatakan Prabowo, saat menjadi bagian dari rezim orde baru sempat tertarik pada faham neoliberalisme. Hal itu terjadi saat dirinya masih tergabung di Partai Golkar.

Di masa itu, pemerintah menggunakan pendekatan trickle down effect atau teori menetes ke bawah yang diperkenalkan Albert Otto Hirschman, pencetus faham Neoliberalisme.

Sejak saat itu kata Prabowo, ia mulai tak suka kepada elite. Terutama elite Jakarta yang dia anggap kebanyakan adalah penipu. "Saya lihat muka elite Jakarta penuh tipu. Saya mantan komandan sejak muda. Saya terbiasa baca tampang anak buah hingga saya bisa tahu tampang penipu," katanya. (Pon)



Andika Pratama

LAINNYA DARI MERAH PUTIH