Ketum NOC Indonesia Buka Rahasia Kekuatan Olah Raga Tiongkok yang Mampu Kuasai Dunia

Mula AkmalMula Akmal - Jumat, 06 Oktober 2023
Ketum NOC Indonesia Buka Rahasia Kekuatan Olah Raga Tiongkok yang Mampu Kuasai Dunia
Ketua NOC Indonesia Raja Sapta Oktohari bertemu dengan Wakil Ketua COC Zhou Jinqiang di China House, Hangzhou, Kamis (5/10). (Foto: NOC Indonesia)

MerahPutih.com - Hegemoni Tiongkok dalam panggung olah raga dunia rupanya sudah tak diragukan lagi. Buktinya, dalam gelaran Asian Games 2022 Hangzhou, perolehan medali emas mereka tak ada yang mampu mengejar.

Komite Olimpiade Indonesia (NOC Indonesia) menyoroti dua hal penting yang dilakukan Tiongkok dalam membangun prestasi olahraga di kancah dunia.

Baca Juga:

NOC Indonesia Puji Perjuangan Tim Sepak Takraw di Asian Games 2022

Kedua hal itu adalah sistem kompetisi berjenjang yang beracuan dengan standar dan peraturan Federasi Internasional (IF) serta membangun olahraga melalui jalur pendidikan.

Ketua NOC Indonesia Raja Sapta Oktohari mengatakan hal tersebut usai bertemu dengan Wakil Ketua COC Zhou Jinqiang di China House, Hangzhou, Kamis (5/10).

Dalam pertemuan tersebut NOC Indonesia dan COC membicarakan perkembangan olahraga Asia, termasuk potensi kerja sama antarkedua negara.

Sebagai informasi, Tiongkok merupakan salah satu negara terkuat di kancah olahraga dunia. Hingga kemarin, tuan rumah unggul di puncak klasemen sementara dengan 179 keping emas, 99 perak, 55 perunggu.

“NOC Indonesia memanfaatkan kesempatan seperti Asian Games guna mencari tahu, kenapa mereka sukses. Padahal, kulit kita sama, makanan mirip-mirip, tapi peforma jauh berbeda,” kata Okto dalam keteranganya, Jumat (6/10).

Menurut Okto, di samping peran swasta yang dominan dalam memberikan sponsor terhadap olahraga, ada dua hal penting yang dilakukan Tiongkok. Pertama adalah sekolah. Mereka memiliki sekolah olahraga yang menerapkan sistem boarding school, dan juga adanya Universitas Olahraga.

"Atlet yang menjadi juara Olimpiade langsung mendapat gelar profesor dan juara dunia mendapat gelar Associate Professor," jelas Okto.

Disamping itu, Okto mengatakan, hal terpenting adalah membangun kompetisi berjenjang yang inline dengan dengan aturan Federasi Internasional. Sebab, regulasi olahraga dunia tersebut menjadi pondasi utama untuk bersaing di level internasional.

Tiongkok memiliki multievent nasional yang sudah disesuaikan dengan kalender dan regulasi IF. Dari situ seleksi dilakukan, yang menjadi atlet pelatnas, dan dibentuk seleksi berjenjang dimulai dari regional, kontinental, serta dunia.

Baca Juga:

NOC Indonesia Puji Prestasi Balap Sepeda di Asian Games 2022

Jadi tidak heran kenapa atlet negeri Tirai Bambu itu banyak.

"Bahkan wasitnya, pelatihnya, dll. Sebab fokusnya sudah jelas yakni bersaing di kancah dunia,” kata Okto.

Ia melihat pondasi olahraga yang telah dibangun Tiongkok dapat menjadi referensi bagi Indonesia dalam merealisasikan target Indonesia emas 2045. Pemerintah sendiri telah memiliki Desain Besar Olahraga Nasional (DBON) yang dirancang untuk merealisasikan hal tersebut.

“Target utama adalah Olimpiade, tetapi untuk menuju ke arah sana sudah tidak bisa lagi by accident, harus by design. Ini yang bersama harus kita pikirkan. Jadi kita pun harus melihat regulasi olahraga dunia jika ingin bersaing di panggung internasional,” terang Okto.

Di sisi lain, Wakil Ketua COC Zhou Jinqiang dalam pertemuan tersebut turut mengapresiasi olahraga Indonesia. Ia memuji penampilan atlet Tim Indonesia di beberapa cabang olahraga, seperti angkat besi, sport climbing, balap sepeda BMX, dan menembak.

Pria yang juga menjabat sebagai Ketua Federasi Angkat Besi China serta Deputi Kementerian Olahraga Tiongkok mengaku COC menawarkan kerja sama dengan NOC Indonesia untuk mengembangkan olahraga kedua negara.

“Kami akan mempererat kerjasama ini dan melakukan pertukaran training camp antar kedua negara, nantinya atlet dapat mengikuti pelatihan dan bertanding di berbagai laga cabang olahraga masing-masing negara,” kata Zhou.

Ia juga mengatakan negaranya melakukan multievent nasional yang sangat kompetitif dan menjadi seleksi ketat bagi para atlet. Waktu penyelenggaraannya pun disesuaikan, yakni satu tahun setelah penyelenggaraan Olimpiade.

“Sistem kami ini mungkin juga bisa menjadi referensi bagi sistem pengembangan atlet olahraga di Indonesia,” ujar Zhou. (Knu)

Baca Juga:

Ketum NOC Indonesia Minta Atlet Bikin Gentar Lawan di Asian Games Hangzhou

#Asian Games #Asian Games Hangzhou #NOC Indonesia #Tiongkok
Bagikan
Bagikan