Ketua MPR Ungkap Marak Penipuan Bermodus Pendirian 'Kerajaan' Ketua MPR Bambang Soesatyo. (ANTARA FOTO/NOVA WAHYUDI)

MerahPutih.Com - Ketua MPR Bambang Soesatyo (Bamsoet) mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai modus penipuan dan tindak pidana lainnya dari berbagai orang yang mengatasnamakan dirinya pendiri kerajaan/keraton tertentu.

Seperti diketahui, belakangan ini masyarakat digegerkan oleh kemunculan kerajaan atau keraton fiktif. Di antaranya Keraton Agung Sejagat, Sunda Empire dan King of the King.

Baca Juga:

Pendiri Negara Rakyat Nusantara Ditangkap Atas Tuduhan Dugaan Makar

Bamsoet menegaskan jika ada orang yang mendirikan keraton/kerajaan dan mendeklarasikan dirinya sebagai raja, apalagi dengan meminta sumbangan kepada masyarakat, patut diduga ia sedang menjalankan penipuan.

Ketua MPR sebut pendirian kerajaan itu bagian dari modus penipuan
Ketua MPR Bambang Soesatyo (Bamsoet) (Foto: antaranews)

Mereka dianggap mencoreng nama baik keraton/kerajaan yang sejak dulu sudah berkiprah demi Indonesia.

"Keraton/kerajaan yang sudah berdiri sejak pra-kemerdekaan Indonesia, yang sampai saat ini masih eksis, mereka tergabung dalam berbagai wadah. Misalnya, Forum Silaturahmi Keraton se-Nusantara (FSKN) yang dibentuk pada tahun 2006 atas fasilitas Kementerian Budaya dan Pariwisata, maupun Majelis Agung Raja Sultan (MARS) Indonesia yang dikukuhkan Kementerian Dalam Negeri pada tahun 2017," kata Bamsoet dalam keterangannya, Jumat (31/1).

Bamsoet juga mengapresiasi langkah cepat kepolisian yang telah mengamankan berbagai orang yang berdalih mendirikan keraton/kerajaan, namun sebenarnya sedang melakulan penipuan publik. Seperti Sunda Empire dan Keraton Agung Sejagat.

"Jika polisi tak bergerak cepat, khawatir kedua keraton/kerajaan fiktif tersebut mendatangkan preseden buruk bagi masyarakat. Lama-lama bisa muncul berbagai keraton/kerajaan dengan argumentasi pendirian yang sumir. Yang pada akhirnya, masyarakatlah yang menjadi korban. Baik sebagai korban penipuan finansial maupun penipuan sejarah," jelas dia.

Baca Juga:

Kerajaan King of The King di Tangerang Terancam Dijerat Pidana Penyiaran Berita Bohong

Bamsoet melanjutkan, menjelang Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, para raja se-Nusantara telah mendeklarasikan dirinya melebur dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

"Setelah Indonesia merdeka, praktis tidak ada lagi pembentukan kerajaan/keraton baru, karena seluruh elemen masyarakat menyatu dalam NKRI," pungkasnya.(Knu)

Baca Juga:

Marak Kerajaan Fiktif, Kapolri: Banyak yang Ingin Jadi Raja

LAINNYA DARI MERAH PUTIH
Anak Buah Luhut Pantau Perekrutan Ribuan Tenaga Kerja dalam Mega Proyek Nikel di Konawe
Indonesia
Anak Buah Luhut Pantau Perekrutan Ribuan Tenaga Kerja dalam Mega Proyek Nikel di Konawe

Kemenko Marves akan terus memantau dan membantu kebutuhan demi terciptanya iklim investasi yang baik.

Anies Dipanggil Polisi karena Rizieq Shihab, ini Tanggapan Wagub DKI
Indonesia
Anies Dipanggil Polisi karena Rizieq Shihab, ini Tanggapan Wagub DKI

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan dipanggil Polda Metro Jaya terkait kegiatan Maulid Nabi dan resepsi pernikahan putri Imam Besar FPI, Rizieq Shihab

Pos Polisi di Tugu Tani Dirusak, Kapolsek: Kemungkinan Dia Sebel Sama Polisi
Indonesia
Gerindra Sebut Penolakan Reklamasi Ancol Bermuatan Politis
Indonesia
Gerindra Sebut Penolakan Reklamasi Ancol Bermuatan Politis

Ia pun menduga ada orang kuat di balik kisruhnya perluasan kawasan tersebut.

 [HOAKS atau FAKTA]: Sitkom Bajaj Bajuri Ramalkan Corona Sejak 17 Tahun Lalu
Indonesia
[HOAKS atau FAKTA]: Sitkom Bajaj Bajuri Ramalkan Corona Sejak 17 Tahun Lalu

"Bajaj bajuri 17 tahun yang lalu.. bahas virus corona.. kok bisa??" kata salah satu pengguna Facebook yang turut membagikan cuplikan video.

Marak Kerajaan 'Abal-Abal' Efek Kekuatan Medsos dan Mitos Cepat Kaya
Indonesia
Marak Kerajaan 'Abal-Abal' Efek Kekuatan Medsos dan Mitos Cepat Kaya

Mereka menyasar para pengikutnya yang berharap masa depan lebih makmur, cepat kaya tanpa harus bekerja keras.

Update COVID-19 Selasa (28/4): 9.511 Kasus Positif, 1.254 Pasien Sembuh
Indonesia
Update COVID-19 Selasa (28/4): 9.511 Kasus Positif, 1.254 Pasien Sembuh

"Penambahan pada pasien positif sebanyak 415 kasus," kata Juru Bicara Pemerintah khusus penanganan COVID-19, Achmad Yurianto

Hari Pahlawan, MUI Soroti Polarisasi Masyarakat yang Semakin Runcing
Indonesia
Hari Pahlawan, MUI Soroti Polarisasi Masyarakat yang Semakin Runcing

"Harus menjadikan pancasila dan UUD 1945 sebagai acuan bersama. Supaya polarisasi dan perbedaan pandangan yang ada saat ini tidak semakin meruncing bahkan memanas," jelas Abbas

Mantan Kepala SKK Migas Rudi Rubiandini Hirup Udara Bebas
Indonesia
Mantan Kepala SKK Migas Rudi Rubiandini Hirup Udara Bebas

"Benar sudah bebas kemarin," kata Kepala Lembaga Pemasyarakatan Sukamiskin, Abdul Karim saat dikonfirmasi, Senin (17/2).

Ada 600 WNI Eks ISIS, BNPT: Berawal dari Informasi Intelijen
Indonesia
Ada 600 WNI Eks ISIS, BNPT: Berawal dari Informasi Intelijen

Kepala BNPT Suhardi Alius mengatakan, pihaknya memang menjalin kerja sama regional dan global.