Ketua DPD RI Kritik BLT Minyak Goreng: Oligarki Sawit Menang Hattrick

Mula AkmalMula Akmal - Selasa, 05 April 2022
Ketua DPD RI Kritik BLT Minyak Goreng: Oligarki Sawit Menang Hattrick
Ketua DPD RI La Nyalla Mattalitti. Foto: Humas DPD

MerahPutih.com - Pemerintah akhirnya mengeluarkan dana Bantuan Langsung Tunai (BLT) untuk masyarakat terdampak kenaikan harga minyak goreng.

Bantuan senilai Rp 100 ribu per bulan akan diberikan selama 3 bulan kepada 20,5 juta masyarakat miskin dan 2,5 juta penjual gorengan.

Baca Juga:

Oposisi Akui Kesuksesan Kartel Pangan Mainkan Drama Minyak Goreng Langka

Keputusan pemberian BLT tersebut dinilai Ketua DPD RI, LaNyalla Mattalitti, sebagai shortcut, karena pemerintah tidak mampu melakukan paksaan terhadap perusahaan kelapa sawit dan turunannya untuk memastikan DMO (domestic market obligation) menjadi prioritas dan HET (harga eceran tertinggi) tetap di Rp 14 ribu per liter dapat berjalan di lapangan.

“Ini namanya Oligarki sawit menang tiga kali berturut-turut alias hattrick. Pertama, menang karena harga CPO dunia naik. Kedua menang karena akhirnya HET minyak murah dicabut pemerintah. Ketiga, menang karena pengumunan para mafia minyak goreng batal dan hilang ditelan bumi,” kata LaNyalla, di Jakarta, Selasa (5/4).

Dikatakan LaNyalla, kenaikan harga CPO membuat Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) tahun 2021 mencatat rekor pengumpulan pungutan dana ekspor sebesar Rp.69 triliun lebih.

Dengan nilai ekspor FOB Sawit di kisaran angka USD 28,99 miliar atau sekitar Rp 409 triliun.

Seorang calon pembeli minyak goreng sedang melihat-lihat minyak goreng ukuran dua liter di rak pajangan Toko Modern Jogya Junction Jalan Sudirman, Kota Bogor, Senin (28/3). (ANTARA/Linna Susanti)
Seorang calon pembeli minyak goreng sedang melihat-lihat minyak goreng ukuran dua liter di rak pajangan Toko Modern Jogya Junction Jalan Sudirman, Kota Bogor, Senin (28/3). (ANTARA/Linna Susanti)

“Tapi jangan salah, dana di BPDPKS itu 90 persen kembali ke perusahaan kelapa sawit. Untuk peremajaan sawit dan untuk pengembangan proyek B-30. Kalau lihat dari alokasi, ada sisa sekitar Rp 10 triliun. Itu mungkin yang digunakan untuk BLT, yang totalnya sekitar Rp 7 trilliun,” ujar LaNyalla.

Dengan demikian, lanjut LaNyalla, lagi-lagi negara harus mengalah dengan melakukan intercept agar pengusaha-pengusaha besar itu tidak rugi. Sehingga HET dicabut, diganti dengan bantuan BLT ke masyarakat, agar masyarakat punya daya beli harga keekonomian.

“Padahal sudah berulang kali saya sampaikan. Negara ini tidak akan mampu melakukan intercept atas semua kesulitan rakyat. Karena kemampuan negara sangat terbatas dengan sistem ekonomi seperti hari ini. Dimana semua kekayaan alam dikelola swasta dengan pola royalti,” tandasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Presiden Jokowi mengumumkan pemerintah memberi BLT untuk 2,5 juta pedagang kaki lima (PKL) gorengan, dan 20,5 juta keluarga yang berhak untuk meringankan beban masyarakat di tengah mahalnya harga minyak goreng. Nilainya Rp 300 ribu untuk bulan April, Mei dan Juni 2022. (Pon)

Baca Juga:

Warga Yogyakarta Keluhkan Minyak Goreng Subsidi Sulit Dicari di Pasaran

#Ketua DPD #La Nyalla Mattalitti #Jokowi #Minyak Goreng
Bagikan
Ditulis Oleh

Ponco Sulaksono

Bagikan