Ketika Wakil Bupati Muda Pengagum Bung Karno Menghilang Wakil Bupati Trenggalek M Nur Arifin. (Ist)

MerahPutih.com - Pasangan bupati dan wakil bupati ini sejatinya sama-sama muda. Emil Dardak baru berusia 32 tahun saat dilantik sebagai Bupati Trenggalek, Jawa Timur pada 2016 silam. Sedangkan M Nur Arifin baru 25 tahun saat resmi mendampingi Emil sebagai orang nomor dua di pemerintahan Trenggalek.

Nah, tak lama lagi, Emil akan dilantik sebagai Wakil Gubernur Jawa Timur. Dia mendampingi Khofifah Indar Parawansa. Otomatis, Arifin naik sebagai Bupati Trenggalek. Tapi, sebelum menempati posisi barunya, hubungan dua orang muda ini memanas.

Arifin dituding tak menampakkan batang hidungnya di lingkungan kantornya sejak seminggu lalu. Bahkan, Emil yang masih menjabat bupati melaporkan wakilnya itu ke Gubernur Jatim Soekarwo.

“Kami mendapat laporan dari Bupati Trenggalek. Suratnya nomor 94 tahun 2019 tertanggal 19 Januari 2019, hari Sabtu sore. Kami menerima dan mendapatkan laporan tentang Wakil Bupati Trenggalek yang tidak ada di tempat dan tidak melaksanakan tugas sebagai pejabat negara, tanggal 9 Januari sampai 19 Januari 2019,” kata Soekarwo kepada wartawan, Senin (21/1).

Soekarwo mengaku akan meneruskan surat laporan Emil ke Menteri Dalam Negeri.

Emil Dardak dan Khofifah
Emil Dardak yang menjadi wakil gubernur Jatim mendampingi Khofifah Indar Parawansa.

Lantas kemanakah wakil bupati muda yang dikenal sebagai pengagum berat Bung Karno itu?

Saat ditanya wartawan, Kepala Bagian Protokol dan Rumah Tangga Setda Trenggalek Triadi Atmono mengaku tak tahu dimana Arifin berada. Kata dia, ajudan dan protokol tidak juga tidak tahu dimana keberadaan wabup yang juga penulis buku ‘Bung Karno Menerjemahkan Al Quran’. Mereka terakhir kali mendampingi pada 9 Januari. Saat kegiatan dinas.

Sementara itu, Lembaga Riset Politik Surabaya Consulting Group (SCG) menilai publik berhak tahu ada apa di balik polemik Emil dan Arifin.

“Dramaturgi politik selalu menghadirkan panggung depan dan panggung belakang. Narasi di panggung depan soal polemik Emil dan Arifin hanyalah soal menyudutkan Arifin. Dia disebut seolah menghilang. Sepertinya itu plot yang ingin dibangun Emil karena dia sendiri yang memulai narasinya dengan berbicara di media,” ujar Direktur Komunikasi Politik SCG Aprizaldi saat dimintai pendapat, Selasa (22/1).

Adapun cerita di panggung belakang sampai saat ini masih samar-samar. ”Padahal, justru yang di panggung belakang, backstage, itulah yang menarik diungkap, terutama untuk melacak ada manuver dan problem politik apa di antara dua pemimpin itu,” jelas Aprizaldi.

Menurut Aprizaldi, menarik untuk mencermati mengapa Arifin cenderung diam menyikapi polemik tersebut. Diamnya Arifin bisa dimaknai dalam dua tafsir politik. Pertama, sebagai bentuk kesantunan berpolitik karena Arifin memang bawahan Emil.

“Mas Ipin dikenal sebagai santri, aktif di Ansor Jatim. Tradisi santri selalu taat kepada seniornya. Sikap diamnya bisa dimaknai bahwa dia menghormati Mas Emil sebagai senior dan atasan, sehingga tak mau berpolemik terbuka,” ujarnya.

Tafsir kedua, sambung Aprizaldi, adalah ada unsur politik di balik sikap diam dan menepinya Arifin dari hiruk-pikuk polemik tersebut.

”Kalau melihat rekam jejak Mas Ipin, dia bukan orang yang lari dari tugas. Hampir tiap hari dia bikin program Lapor Rakyat untuk mengabarkan kerjanya. Publik juga mengenal dia sebagai sosok muda tangguh yang memulai perjuangan politiknya dari bawah, dari nol, tanpa membawa orang tua atau patron tertentu. Jadi menarik untuk tahu ada apa di balik sikap Mas Ipin,” jelas Aprizaldi.

Di sisi lain, Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) DPP PDI Perjuangan Bambang Dwi Hartono menduga, kisruh di Trenggalek tak lepas dari suksesi pemilihan wakil bupati setelah Arifin kelak diangkat sebagai bupati. (*)



Thomas Kukuh

LAINNYA DARI MERAH PUTIH