Ketika Teror Terjadi, Tahan Jempolmu Saat terjadi serangan, berpikirlah sebelum mengunggah sesuatu ke media sosial. (foto: scared path)

TEROR bisa terjadi di mana saja. Di Tanah Air, teror bom telah berkali-kali terjadi. Meskipun menimbulkan kedukaan, serangan tersebut malah membangkitkan rasa geram terhadap terorisme. Kegeraman itu pun dimanifetasikan dalam pernyataan tegas 'kami tidak takut'.

Demikianlah juga yang terjadi ketika bom mengguncang tiga gereja berbeda di Kota Surabaya. Tagar #KamiTidakTakut dan #Suroboyowani menghiasi lini masa media sosial. Hal itu merupakan bentuk perlawanan terhadap tindakan teror yang bertujuan menciptakan rasa takut dan kekacauan.

Namun, sebelum kamu ikut meramaikan lini masa media sosial dengan postingan seputar kejadian tersebut, ada baiknya tahu dulu aturan bermedia sosial pascaserangan teroris.


1. Cari info dari sumber resmi

Hoax
Ilustrasi. (Pixabay)

Aturan paling mendasar sebelum mengunggah sebuah informasi ke media sosial kamu ialah jangan percaya semua yang kamu baca secara daring. Pasalnya, unggahan media sosial mungkin saja mengandung berita yang tidak benar. Alih-alih jadi informatif, kamu malah menyesatkan banyak orang.

Cara terbaik ialah menunggu informasi resmi, seperti dar petugas penyelamat, pihak kepolisian, atau pernytaan resmi dari pemerintah. Memang amat menggoda untuk jadi yang paling pertama mengunggah atau meneruskan informasi terkini yang kamu temui di medsos, tapi amat baik jika kamu pastikan dulu informasi itu valid dari sumber yang tepercaya.


2. Jika mengetahui sesuatu, kontak pihak berwenang

Gereja
Ilustrasi. (Antara Foto)

Beberapa saat setelah serangan merupakan hal yang amat krusial. Terutama dalam hal penanganan kegawatdaruratn korban dan pengamanan.

Oleh karena itu, jika kamu kebetulan menyaksikan langsung sebuah serangan, segera laporkan ke pihak berwenang, seperti polisi atau petugas pemadam kebakaran. Jangan langsung mengunggahnya di media sosial. Langkah pertama yang terpenting yang harus kamu lakukan ialah menghubungi pihak berwenang, bukan memvideokan untuk diunggah ke media sosial.

Lengkapi juga laporan kamu dengan detail kejadian, seperti di mana lokasi, waktu kejadian, dan situasi sebelum dan ketika serangan terjadi. Informasi tersebut bisa jadi amat berguna bagi petugas untuk mengungkap pelaku penyerangan.

3. Jangan pernah mengunggah gambar korban/kejadian

korban

Dalam masa-masa penuh ketidakpastian pascaserangan, jangan pernah tergoda untuk membagikan gambar-gambar yang menunjukkan korban serangan ataupun foto kejadian ke media sosial. Pasalnya, foto serangan akan menimbulkan rasa takut atau bahkan kengerian bagi yang melihatnya. Dengan begitu, kamu sama saja membantu penyerang untuk mencapai tujuannya menciptakan rasa takut.

Selain itu, kamu harus berempati terhadap para korban dan keluarga mereka. Caranya, jangan pernah mengunggah foto-foto para korban. Sama seperti foto kejadian serangan, foto para korban akan membangkitkan rasa takut bagi yang melihat. Selain itu, bayangkan jika keluarga para korban mengidentifikasi kerabat mereka hanya dari media sosial, bukan penegasa pihak berwenang. Pastilah akan menimbulkan rasa tak nyaman dan kesedihan mendalam.

Ketimbang membagikan gambar-gambar mengerikan, kamu bisa menuliskan rasa empatimu kepada para korban. Tentunya tanpa kebencian ya. Bagikanlah hal-hal positif yang menguatkan, memberanikan para korban dan keluarga mereka.

Yang juga tak kalah penting, jangan menebarkan unggahan berbau SARA. Kamu harus tahu bahwa serangan merupakan tindakan yang melukai rasa kemanusiaan, terlepas dari perbedaan SARA. Tidak membagiak hal-hal berbau SARA berati kamu telah ikut andil dalam menjaga situasi tetap terkendali.

4. Patuhi seruan pihak berwenang

Gereja
Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Rudy Setiawan (kanan) menghimbau warga untuk menjauh dari sekitar lokasi ledakan di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS), Surabaya, Jawa Timur, Minggu (13/5). ANTARA FOTO/Moch Asim


Saat serangan terjadi, pihak kepolisian mengeluarkan saran bagi kamu untuk melakukan hal-hal yang amat penting untuk menyelamatkan nyawa korban maupun dirimu sendiri. Langkah-langkah yang harus kamu ambil, yaitu:

a. Menjauh : jauhkanlah dirimu dan orang-orang sekitar dari lokasi serangan. Jangan mendekati area serangan ataupun akses untuk menuju ke sana. Itu akan memberikan ruang bagi pihak keamanan untuk bertindak.

b. Sembunyi: jika menjauh tidak memungkinkan, cobalah untuk tidak terlhat. Sembunyikan diri kamu di area tertutup, seperti ruangan atau di bawah meja tertutup. Matikan suara ponsel kamu agar tak berisik.

c. Bertindak: selalu tinjau ulang keadaan saat serangan. Jika memungkinkan untuk kabur, segera lakukan. Kamu harus bisa menimbang-nimbang rute kabur teraman dan tercepat dari situasi tersebut.

d. Informasikan: tanpa mengabaikan risiko keamanan, laporkan kepada pihak berwenang bahwa telah terjadi penyerangan. Berikan informasi sejelas mungkin. Makin detail infomu, makin baik bagi petugas untuk menanganinya.

Selain itu, ada baiknya kamu menyimpan nomor-nomor darurat di ponselmu, semisal nomor telepon pemadam kebakaran, polisi, dan kontak layanan gawat darurat.

Di saat penuh ketidakpastian dan kebingungan pascaserangan, mencari informasi memang perlu. Sama pentingnya dengan berbagi informasi. Meskipun demikian, tahan jempolmu sebelum berbagi. Hal itu agar tidak menambah kekacauan dengan informasi palsu atau bahkan hoax. (dwi)

Kredit : dwi


Dwi Astarini

LAINNYA DARI MERAH PUTIH