Ketika Payakumbuh Jadikan Rendang Ikon Kota Seorang pekerja mengeringkan rendang daging sapi yang dimasak menggunakan tungku, di rumah randang Rajo-rajo, di Padang, Sumatera Barat, Rabu (11/4). (ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra)

Siapa yang tidak kenal rendang? Aneh rasanya ketika orang Indonesia tidak kenal dengan rendang. Jangankan di Indonesia, orang luar negeri saja sudah banyak mengenal rendang setelah makanan khas Sumatera Barat itu disebut-sebut salah satu makanan terlezat di dunia.

Lalu, dari mana lebih tepatnya asal rendang? Sebagian kita mungkin saja langsung menyebut rendang dari Padang. Bagi orang luar Sumbar, rendang dapat dikenal dari tempat-tempat makan khas Padang. Baru-baru ini, Kota Payakumbuh akan menjadikan olahan daging yang tahan lama itu jadi ikon. Secara lebih khusus untuk memperkuat branding rendang Payakumbuh atau rendang khas Kota Payakumbuh ke dunia.

Pemerintah Payakumbuh berencana menjadikan rendang sebagai ikon kota karena kuliner khas Minang tersebut sudah dikenal luas dan rendang khas Payakumbuh punya cita rasa yang khas.

"Rendang bisa dijadikan produk Payakumbuh yang memiliki daya saing kuat sampai ke level internasional," kata Wali Kota Payakumbuh Riza Falepi di Payakumbuh, dilansir Antara.

Menurutnya untuk bisa maju suatu daerah harus memiliki ikon dan merek tersendiri yang memiliki daya saing di level nasional dan internasional.

"Misalnya Jepang diasosiasikan dengan Toyota, Jerman dengan Mercedes, Amerika dengan Apple dan Italia dengan Hugo Boss dan Prada, kalau Indonesia saat ini asosiasi di luar negeri adalah Indomi. Itu kita ubah dengan rendang, jadi kalau bicara Indonesia orang ingat rendang. Di mana rendangnya? Ya di Payakumbuh," ujarnya.

Ia menyampaikan untuk mewujudkan keinginan itu, Pemkot Payakumbuh menggelontorkan anggaran membangun Sentra Rendang.

Dengan berdirinya sentra rendang sehingga pengusaha rendang bisa berkumpul di sana dan kualitas serta mutu produk bisa dijaga, ujarnya.

"Rendang Payakumbuh mesti go internasinal, bila kita bisa memperbesar produksi dan memperluas marketing, tidak sedikit pendapatan yang bisa diperoleh pengusaha. Kalau satu kaleng rendang saja dihargai Rp 5.000, bayangkan bila produksinya bisa mencapai sepuluh juta kaleng," katanya.

Wali Kota optimistis rendang bisa menjadi seperti produk susu nestle negara Swiss yang keuntungan bersih per tahun mencapai setara Rp 700 triliun dan berkontribusi kepada pajak negara sebesar Rp 300 triliun.

"Negara Swiss itu kecil, kurang lebih sebesar Sumatera Barat, dari produk susu Nestle saja mereka bisa dapat perolehan pajak hingga Rp 300 triliun per tahun, kita ingin produk rendang kita juga seperti itu," katanya.

Ia mengatakan saat ini sudah dibangun pabrik pengalengan rendang, dan segera dibangun sentra rendang, pangsa pasarnya cukup luas, yaitu jamaah haji dan umrah di seluruh dunia, jadi mimpi memiliki PAD Rp1 triliun itu tidak muluk-muluk.

Oleh sebab itu ia meminta keseriusan dan dukungan seluruh pihak, khususnya para pengusaha rendang di Kota Payakumbuh, untuk mewujudkan mimpi besar tersebut.

"Mari bersama mewujudkan rendang sebagai ikon baru Kota Payakumbuh, ikon Payakumbuh sebagai Kota Batiah kita ubah menjadi Payakumbuh Kota Rendang, dan semoga menjadi asosiasi negara Indonesia di luar negeri," ujarnya.

Sebelumnya Gubernur Sumbar Irwan Prayitno mengatakan rendang merupakan produk unggulan Sumbar yang sudah mulai dikenal oleh dunia.

"Tinggal memperluas jaringan untuk pemasaran saja," katanya.

Ia optimistis rendang dapat menjadi salah satu produk unggulan Indonesia dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN. (*)

Kredit : zulfikar

Tags Artikel Ini

Zulfikar Sy

LAINNYA DARI MERAH PUTIH