Ketika Novel Indonesia Tak Diterjemahkan Sesuai Karya Aslinya Ahmad Tohari pernah kecewa dengan terjemahan karyanya. (Foto: Ahmad Tohari Society)

SEJAK zaman dulu, Indonesia dikenal melahirkan sejumlah karya sastra terkenal. Dapat dikatakan Indonesia adalah gudangnya sastrawan hebat. Kehebatan mereka dibuktikan dengan banyaknya karya-karya anak bangsa yang diapresiasi begitu hebat oleh negara lain. Bentuk apresiasi tersebut misalnya dengan diterjemahkannya karya sastra Indonesia ke dalam bahasa asing.

Menerjemahkan novel tak semudah menerjemahkan film. Selain bahasa penerjemahan tak boleh kaku, bahasa yang terjemahkan tersebut pun tak boleh keluar dari konteks. Salah satu poin penting dari penerjemahan yakni penerjemah harus paham dengan konteks tulisan yang ingin diterjemahkan.

Penerjemah wajib menyampaikan ide penulis ke bahasa lain tanpa mengurangi esensi tulisan tersebut. Pengalaman hidup dan kebudayaan yang berbeda dapat membuat proses penerjemahan tak selalu berjalan mulus. Bisa saja penggambaran karakter dan alur cerita yang disampaikan ke dalam bahasa asing tak sesuai maksud dari penulis.

Salah satu penulis pernah merasa kecewa ketika salah satu karyanya diterjemahkan ke dalam bahasa asing. Sastrawan tersebut yakni Ahmad Tohari. Meski tak mengungkapkan kekecewaannya, pengarang novel Ronggeng Dukuh Paruh ini mengaku tak puas ketika karyanya diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris.

ahmad tohari
Ahmad Tohari. (Foto: Ahmad Tohari Society)

Novel Ronggeng Dukuh Paruk yang dalam Bahasa Inggris dikenal dengan nama The Dance ini pernah diterjemahkan oleh dua penerjemah dari negara berbeda. Penerjemah pertama berasal dari Inggris sementara penerjemah kedua berasal dari Australia.

"Diksi yang digunakan oleh penerjemah asal Australia lebih tepat sehingga ceritamya terasa lebih mengalir," ucapnya kala ditemui di rumahnya di daerah Tinggarjaya, Jatilawang, Banyumas. Selain itu, deskripsi suasana dan penokohan yang dibuat pun lebih mendekati versi Bahasa Indonesia.

Hal tersebut terjadi bukan tanpa sebab. Tohari mengungkapkan bahwa penerjemah asal Australia melakukan usaha ekstra demi menerjemahkan karyanya tersebut. "Penerjemah tersebut sampai tinggal beberapa bulan di desa ini untuk mendapatkan suasana," jelasnya.

Ia menilai, penerjemahan novel harus dilakukan dengan hati-hati dan teliti. Itu dilakukan karena penerjemah menjadi jembatan penghubung antara pengarang dan pembaca asing. "Salah sedikit saja bisa fatal," ucapnya

Selain dalam bahasa Inggris, Ronggeng Dukuh Paruh diterjemahkan dalam berbagai bahasa seperti bahasa Tiongkok, bahasa Jepang, bahasa Belanda dan bahasa Jerman. (avia)

Kredit : iftinavia

Tags Artikel Ini

Paksi Suryo Raharjo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH