Ketika Kaum Tuli Masih Mengalami Diskriminasi di Asia Anggota ADYS kiri ke kanan, Laura, Yukako. Yew, dan Raymond (Foto: MP/Ikhsan Digdo)

CUACA Minggu (3/5) begitu panas. Terik matahari sangat menyengat. Tapi sesampainya merahputih.com di Ace PPKM, Jakarta Selatan, suasana langsung sejuk. Ruangan tempat itu sangat nyaman dengan dilengkapi pendingin ruangan.

Minggu (3/5), merahputih.com berkesempatan hadir di sebuah acara seminar kecil atau sesi sharing. Menariknya, acara sharing tersebut dilakukan tanpa suara. Ya, acara sharing tersebut khusus hanya dihadiri oleh individu penyandang disabilitas yang tidak bisa mendengar, atau tuli. Sekiranya ada sekitar puluhan orang tuli yang hadir pada kesempatan tersebut.

Saat pertama kali datang, awalnya merahputih.com juga dikira kaum tuli. Salah satu panitia yang juga tuli menghampiri dan mengajak bicara dengan bahasa isyarat. Seperti bahasa asing lainnya, bahasa isyarat sulit dipahami bagi orang awam. Merahputih.com hanya bisa menunjukkan kartu pengenal wartawan, barulah panitia tersebut memahami tujuan kedatangan media daring ini.

ADYS dan WDF wadah advokasi kaum tuli. (Foto: MP/Ikhsan Digdo)

Pembicara datang dari sebuah organisasi kepemudaan bagi individu tuli. Organisasi tersebut bernama ADYS, dan sudah terbentuk secara internasiona. ADYS merupakan sektor kepemudaan bagian dari WFD (World Federation of The Deaf) RSA (Regional Secretariat for Asia) sebuah advokasi dan promosi orang tuli.

Perwakilan ADYS datang dari berbagai negara Asia. Di antaranya adalah Yukako Aoyama (Jepang), Raymond J Manding (Filipina), Yew Hau En (Singapura), dan tentunya Laura L Wijaya (Indonesia).

Acara pun dimulai sekitar pukul 11 siang. Tampak antusiasme dari kaum tuli. Raut wajah mereka sungguh ceria dan penasaran dengan kedatangan ADYS. Maklum, sebenarnya undangan acara ADYS bersifat kejutan. Peserta (kaum tuli) hanya diberitahu untuk mendaftar melalui sebuah link. Intinya kedatangan ADYS memiliki tujuan untuk berbagi kepada kaum tuli di Indonesia untuk sadar bahwa hak mereka sama dengan orang biasa.

Selama berjalannya sesi sharing suasana memang sangat sunyi. Sampai-sampai hanya suara percikan air mancur di halaman depan ACE PPKM yang terdengar. Proses komunikasi menggunakan bahasa isyarat. Agar saling memahami, komunikasi mengunakan bahasa isyarat internasional dan diterjemahkan dengan bahasa isyarat Indonesia. Beruntung ada seorang penerjemah bahasa isyarat bernama Uci yang membantu merahputih.com memahami isi sesi sharing tersebut.

Kaum tuli masih merasakan diskriminasi. (Foto: MP/Ikhsan Digdo)

Inti dari sesi tersebut adalah, bahwa kaum tuli masih mengalami diskriminasi di setiap negara. Terutama asia. Salah satu bentuk diskriminasi kaum tuli adalah terkait pekerjaan. Misalnya di Jepang. Ada perbedaan soal pembayaran upah kepada para pekerja. Individu tanpa kekurangan memiliki upah yang selalu meningkat. Tapi tidak bagi kaum tuli. "Kaum tuli gajinya enggak pernah naik kalau di Jepang," ungkap Yukako Aoyama, ketua ADYS, kepada merahputih.com.

Selain itu, ditambahkan pula oleh Yukako, untuk berkomunikasi bagi kaum tuli juga sulit di negeri matahari itu. Pasalnya, Juru Bahasa Isyarat (JBI) tidak ada di sana. Proses komunikasi akhirnya dilakukan dengan mempelajari bahasa isyarat bagi setiap kaum tuli. "Untuk komunikasi juga susah di Jepang," tambahnya. Dengan kata lain kaum tuli masih dikesampingkan di sana.

Selain Jepang, Filipina juga belum memberikan akses dan kemudahan bagi kaum tuli. Raymond J Manding, wakil ketua ADYS mengatakan di negaranya kaum tuli sulit menempuh jenjang pendidikan perkuliahan. Kaum tuli langsung ditolak kata Raymond saat mendaftar ke Universitas.

Namun, tetap ada jalan kata Raymond agar kaum tuli bisa duduk di bangku universitas di Filipina. Biasanya akan ada bantuan organisasi yang memperjuangkan hak-hak orang tuli yang berbicara kepada pihak universitas untuk memberikan akses kepada orang tuli. "Ada beberapa universitas yang akhirnya memberikan akses ke orang tuli," tutur Raymond kepada merahputih.com.

Sementara itu, di Singapura juru bahasa isyarat sebenarnya tersedia. Namun sayangnya jumlahnya sangat terbatas. Hanya ada enam juru bahasa isyarat di negara tersebut. Padahal ada ribuan kaum tuli di sana. "Anggota tuli (di Singapura) ada 5000," ungkap Yew Hau En, sekretaris ADYS.

Adanya kemudahan akses yang baik. (Foto: MP/Ikhsan Digdo)

Namun, kata Yew, soal pendidikan jenjang perkuliahan tidak dipermasalahkan di Singapura. Kaum tuli tetap bisa berkuliah. Tapi sayangnya tidak ada fasilitas tersedianya juru bahasa isyarat. Sehingga proses memahami pelajaran sangat sulit. "Kalau masuk universitas JBInya enggak ada," tambah Yew.

Terkait hal ini, masalah paling utama adalah bahasa isyarat. Asalkan bahasa isyarat dapat diakses dengan mudah, menjadi hal paling berharga bagi kaum tuli. Akan tetapi bahasa isyarat memang belum dapat terakses dengan mudah di negara manapun. Misalnya di siaran televisi. Meskipun beberapa siaran ada, seharusnya seluruh saluran televisi menghadirkan fasilitas juru bahasa isyarat.

Karena itu, ADYS ingin sekali mengembangkan kehadiran kaum tuli, terutama di Asia yang menjadi misi utama mereka. Caranya tentu yang paling utama adalah memberikan akses kemudahan bagi kaum tuli. Seperti bahasa isyarat tadi. Lalu, kesadaran juga harus datang dari individu yang tidak memiliki kekurangan. Sebab seperti di Jepang sendiri ada beberapa acara festival yang tidak boleh diikuti kaum tuli.

Penyandang tuli belum menikmati kesetaraan. (Foto: MP/Ikhsan Digdo)

Indonesia sendiri juga belum bisa mewujudkan negara yang ramah disabilitas. Seorang peserta sesi sharing bernama Chatrinka Ustuhanifan Sugiapto pun mengalami hal itu. Mahasiswi semester 6 salah satu kampus swasta di Jakarta ini mengalami kesulitan saat menerima materi dari pengajar saat masih bersekolah. Karena tidak adanya JBI, ia harus kerja keras untuk memahami materi yang ada. Bahkan temannya pun enggan membantu dirinya. "Di sekolah, teman-temannya enggak bantu, gurunya juga ngomong terus," cerita Chatrinka kepada merahputih.com.

Chatrinka berharap bahwa kedepannya identitas kaum tuli semakin dikenal. Ia ingin kaum tuli setara dengan orang biasa. Hak yang diterima pun harus sama. Diskriminasi sebagai kaum tuli juga dirasakan oleh peserta lain bernama Nanda Afrieza. Nanda sampai pernah dilempari batu oleh temannya gara-gara tidak bisa mendengar. Ia pun sempat merasa terkucilkan dan malas keluar rumah. "Saya juga dikatain bolot sama mereka," terang Nanda

.

Para peserta berswafoto bersama (Foto: MP/Ikhsan Digdo)

Namun, yang terpenting baik Chatrinka dan Nanda kini bisa melupakan masa lalu itu. Dari sesi sharing yang dihelat oleh ADYS mereka berdua memahami bahwa harus tetap percaya diri dengan kekurangan yang mereka miliki. Sebab sebenarya kaum tuli juga pasti memiliki kelebihan bersamaan dengan kekurangan mereka.

ADYS memiliki beberapa program demi mengembangkan para kaum tuli. Caranya dengan mengajak kaum tuli mengikuti perkemahan. Dalam perkemahan itu akan diajarkan materi leadership atau kepemimpinan. Sehingga kaum tuli bisa memiliki kepercayaan diri yang tinggi dan mampu menjadi sosok yang dapat memecahkan masalah dengan mengambil keputusan yang tepat. "Yang penting setelah mengikuti perkemahan itu ada rasa bangga," tutur Yukako dengan bahasa isyaratnya.

Dalam waktu dekat ini ADYS akan mengadakan acara perkemahan di FIlipina, tepatnya akhir tahun ini. Selain itu pada tahun 2019 ADYS juga akan mengadakan acara di Prancis. Terakhir pada tahun 2020 ADYS kembali mengadakan acara perkemahan sebelum Yukako, Raymond dan Yew mengakhiri masa jabatan mereka di ADYS. Disamping itu ada pula program penukaran Budaya Asia. Penyandang tuli akan mempelajari perbedaan budaya negara lain.

Di akhir acara, ADYS dan para peserta tuli mengakhiri pertemuan mereka dengan berfoto bersama. Tidak dapat dimungkiri para peserta sangat menghargai kedatangan ADYS. Dengan begini mereka memahami bahwa kehadiran kaum tuli sama pentingnya dengan orang lain. Hal ini terbukti dari peserta yang rela mangantri untuk berfoto dengan anggota ADYS. Sahabat Merah Putih, marilah kita menghargai kehadiran kaum tuli dan mengulurkan tangan kita untuk mereka (ikh).

Baca juga artikel menarik lainnya di sini Surya Sahetapy Ingin Indonesia Ramah Disabilitas

Kredit : digdo

Tags Artikel Ini

Ikhsan Digdo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH