Saat Film Hanum & Rangga dan A Man Called Ahok Terjebak Dalam Perdebatan Politik Amien Rais ayahanda Hanum Rais (Foto: Muhammad Adimaja/Antara)

MerahPutih.Com - Para penikmat film di Tanah Air dalam sepekan mendapat suguhan film karya anak bangsa yang secara politik berseberangan. Film pertama karya anak Amien Rais, Hanum Rais yang bertajuk Hanum & Rangga yang diadaptasi dari buku Faith and the City karya Hanum Rais.

Sementara film kedua, A Man Called Ahok yang mengisahkan masa kecil mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok karya Rudi Valinka yang berasal dari buku dengan judul yang sama.

Menariknya, film dengan kisah dari dua tokoh yang berbeda pandangan politik itu langsung mengundang perbebatan sengit diantara pendukung kubu masing-masing.

Film A Man Called Ahok

Film A Man Called Ahok yang sedang tayang di bioskop (Foto: Twitter @basukibtp)

Dalam hal politik, pandangan dua sosok ini berseberangan. Hanum Rais, putri Amien Rais, adalah kader Partai Amanat Nasional. Baik Amien Rais dan partainya lantang bersuara dalam kasus penistaan agama yang menimpa Ahok.

Sementara Ahok, yang terpilih sebagai wakil gubernur DKI Jakarta bersama Joko Widodo, punya basis pendukung yang berbeda.

Film Hanum & Rangga
Film Hanum & Rangga (Instagram/Hanum Rais)

Sebagaimana dilansir BBC Indonesia, perbedaan pandangan politik yang ditopang dengan fanatisme pendukung masing-masing membuat film Hanum & Rangga dan A Man Called Ahok kontan menjadi topik perdebatan politik di media sosial.

Wakil Direktur Eksekutif Pusat Kajian Politik (Puskapol) FISIP UI, Hurriyah mengatakan segmen penonton untuk kedua film ini sudah jelas, hanya medan perangnya saja yang berbeda, dari media sosial sekarang ke sinema.

"Dari sisi politik, sudah jelas film ini punya intensi untuk memperkuat keyakinan pemilih mapan di kedua kubu dan mungkin meraih dukungan dari segmen pemilih lain," katanya.

Hurriyah menegaskan, kedua film tersebut mewujudkan glorfikasi tokoh yang didukung apalagi bertepatan dengan tahun politik seperti sekarang ini.

"Meskipun saya agak ragu kedua film ini mampu mempengaruhi segmen pemilih yang lain. Apalagi kedua film ini kecenderungannya sama: glorifikasi terhadap figur dan nilai yang ingin diusung, pas di tahun politik, "ujar Hurriyah di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Pendapat berbeda justru datang dari sutradara film Joko Anwar. Joko menyesalkan sikap kedua pendukung yang menyeret film sebagai karya seni yang melibatkan banyak orang ke dalam pertikaian politik. Hal itu diungkapkan Joko Anwar melalui sebuah cuitan di akun twitter @jokoanwar.

Sementara itu, meski sama-sama dirilis pada tanggal 8 November 2018 lalu, jumlah penonton A Man Called Ahok lebih besar dibandingkan Hanum & Rangga. Dilansir dari filmindonesia.or.id, hingga pekan ketiga bulan November A Man Called Ahok meraih jumlah penonton sebanyak 587.747. Sementara Hanum & Rangga hanya mendapat penonton sebanyak 201.378.

Apakah sebuah film harus bebas dari prasangka dan kepentingan politik tertentu? Bukankah sebagai produk budaya, film berhak memiliki sikap dan nilai yang harus dikampanyekan kepada penontonnya? (*)

Baca berita menarik lainnya dalam artikel: Beli Saham PT Freeport, Inalum Gelontorkan Dana Rp58,4 Triliun



Eddy Flo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH