Ketika Etnis Tionghoa dan Orang Minangkabau Berbaur Kawasan Kampung Cina di Padang, Sumatera Barat. (Foto/instagram @gthuzzz)

PEMANDANGAN usang bergaya Tiongkok menghiasi sudut Pondok yang terletak di sepanjang jalan Pondok, Niaga, Kelenteng hingga jalan Batang Arau di muara sungai Batang Arau, Padang, Sumatera Barat.

Ruko-ruko dua lantai, rumah duka, bekas hotel, pabrik, hingga kelenteng semuanya masih mempertahankan bentuk aslinya. Banyak bangunan yang telah berusia lebih dari lima puluh tahun sehingga ditetapkan sebagai benda cagar budaya di daerah itu.

Di sana juga ada Pasar Pondok Kongsi namanya, yang dominan dihuni oleh etnis Tionghoa. Namun tak begitu dengan pedagangnya yang kebanyakan orang Minang. Dari situlah kita bisa melihat betapa harmonisnya kehidupan atara etnis yang berbeda kebudayaan tersebut.

Sejak pagi, suasana di pasar yang berlokasi di Kecamatan Padang Selatan itu sudah ramai oleh pembeli yang hilir mudik dari satu lapak pedagang ke pedagang lain. Suara lantang sang penjual pun ikut meramaikan suasana untuk menarik perhatian pembeli.

"Saya sendiri sudah mulai menggelar lapak sejak pukul 05.00 WIB," kata Yadi, seorang pedagang sayur seperti dilansir Antara.

Keharmonisan tersebut semakin terasa saat Yoe, seorang pedagang daging babi dari etnis Tionghoa mengaku sangat aman berjualan di lokasi tersebut. "Saling menghargai dan menghormati, kebutuhan setiap orang kan berbeda," katanya.

Pasar Tanah Kongsi Padang (Antara Foto/Ikhwan Wahyudi)
Pasar Tanah Kongsi Padang (Antara Foto/Ikhwan Wahyudi)

Tak hanya kenyamanan suasana pasar, Pedagang lainnya, Safii Tanjung, yang baru berjualan di Pasar Tanah Kongsi sejak enam bulan lalu, namun ia mengaku bisa meraup omzet cukup bagus.

Pasar Tanah Kongsi memiliki sejarah yang tidak bisa dilepaskan dari perkembangan Kota Padang. Sejak abad XIV, VOC mulai beroperasi di Indonesia, dan masuk ke Padang melalui Pulau Cingkuak. Pada 1799 muara tersebut menjadi pelabuhan terpenting di Sumatera, dan semenjak saat itu banyak pedagang Cina, India, dan Arab memasuki muara.

Etnis Tionghoa Masuk ke Ranah Minang

Klenteng di Padang tahun 1890 (foto/kitlv)
Klenteng di Padang tahun 1890 (foto/kitlv)

Menilik ke masa lalu tentang kapan orang Cina ini pertama kali datang dan masuk ke Padang tidak ada kebenaran pasti. Salah satu sumber dari catatan Sumatera Courant, Niuews en Advertentieblad, 14-06-1862 menyatakan Li Thong, seorang pedagang besar telah ada di Padang pada tahun 1862.

Namun dari beberapa sumber literatur lainnya, pada tahun 1819 di Padang telah terdapat tak kurang dari 200 orang Tionghoa. Sampai pada tahun 1864, populasi Cina di kota Padang meningkat tajam. Bahkan kala itu telah diangkat pemimpin kelompok ini dengan julukan Kapitein atau Letnan Chinezen. Ditulis dalam catatan Poestaka Depok, hingga 1869 lebih dari 300 orang Cina di kota Padang.

Dijelaskan juga bahwasanya para pedagang Cina telah memperoleh kontrak dari Pemerintah untuk melakukan perdagangan semenjak meletusnya perang Paderi di tahun 1837. Bisa diimplikasikan bahwasanya pedagang cina telah ada semenjak sebelum perang Paderi tersebut.

Pengaruh Asimilasi

Meski dalam konteks budaya Urang Minang (orang Minang) dengan etnis Tionghoa sangat bertentangan. Namun, dalam hal tradisi. Kedua etnis ini banyak kemiripan. Suka berdagang dan Merantau misalkan.

Hingga, Ahli Minangkabau, Mochtar Naim yang juga merupakan antropolog dan sosiolog Indonesia, pernah mengistilahkan orang Minang dengan sebutan "Minang-kiau", sama halnya dengan istilah "Hoa-kiau" sebutan bagi orang Cina Perantauan.

Perbauran yang sudah hampir 2 abad jika dihitung dari sejarah masuknya etnis Tionghoa ke Padang berimbas juga kepada akulturasi budaya. Makanya, tak heran jika ada beberapa kesamaan kesamaan lain dari kedua etnis ini.

Terlihat dalam beberapa pakaian adat Minang yang hampir mirip dengan baju adat etnis Tionghoa. Seperti tutup kepala Bundo Kanduang (julukan yang diberikan kepada perempuan yang memimpin suatu keluarga dalam Minangkabau baik sebagai ratu maupun selaku ibu dari raja), mirip dengan baju yang dipakai oleh etnis Zhuang di negeri tirai bambu sana.

Zhuang girl. (Foto/id.pinterest.com) dan Bundo Kanduang. (Foto/Asiatur Padang)
Zhuang girl. (Foto/id.pinterest.com) dan Bundo Kanduang. (Foto/Asiatur Padang)

Selain itu, pakaian laki-laki etnis Zhuang juga mempunya kemiripan dengan pakaian laki-laki Minagkabau dengan menggunakan warna hitam dengan aksesori berwarna emas pada lengan dan kaki tetapi polanya berbeda.

Zhuang carnaval. (Foto/Xinhuanet). Laki-laki Minangkabau. (Foto/azohri.wordpress.com)
Zhuang carnaval. (Foto/Xinhuanet). Laki-laki Minangkabau. (Foto/azohri.wordpress.com)

Tak hanya itu, Azyumardi Azra, cendekiawan muslim, yang juga rektor UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta selama 1998-2006, dikutip dari beritagar.id, pernah berkisah bahwa baju koko dulu di kampungnya, Sumatra Barat, dikenal sebagai kemeja Cina. "Baju guntiang Cino namanya," kata Azyumardi. (Zai)

Baca juga berita terkait di: Salawat Dulang, Budaya Lisan di Minangkabau yang Masih Dipertahankan

Kredit : zaimul

Tags Artikel Ini

Zaimul Haq Elfan Habib

LAINNYA DARI MERAH PUTIH