OPINI

Ketika Beasiswa Menjadi Ujian Kesetiaan

Mula AkmalMula Akmal - Senin, 23 Februari 2026
Ketika Beasiswa Menjadi Ujian Kesetiaan

Paspor Warga Negara Indonesia. (Foto: kanimtasik.kemenkumham.go.id)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

Penulis: Immanuel B.B Hutasoit. Ketua Ikatan Alumni StuNed (Studeren in Nederland)

Catatan: Seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

MERAHPUTIH.COM - Beberapa hari terakhir, jagat media sosial kita diramaikan oleh sebuah pernyataan tentang kewarganegaraan. Seorang penerima beasiswa negara mengungkapkan sesuatu yang memantik perdebatan panjang di ruang publik. Bukan soal benar atau salahnya pernyataan itu yang ingin dibahas di sini, namun penulis tergerak dan terdorong untuk berbagi refleksi tentang apa artinya menerima kepercayaan sebuah bangsa, dan apa yang seharusnya kita lakukan dengan kepercayaan itu.

Penulis jugalah seorang penerima program beasiswa. Program beasiswa itu bernama StuNed, Studeren in Nederland. Sebuah program kerjasama antara pemerintah Belanda dan Indonesia, yang telah menghasilkan lebih dari 4.600 alumni dari seluruh penjuru Nusantara.

Karena program ini lahir dari kerjasama khusus kedua negara, maka sebagai persyaratan, sebelum berbicara soal kemampuan bahasa asing, sebelum urusan Letter of Acceptance, serta segala persyaratan teknis yang lazim ada pada seleksi beasiswa, ada satu syarat yang tertulis paling atas. Syarat yang terkesan paling sederhana, namun menyimpan makna yang paling dalam, yaitu harus Warga Negara Indonesia.

Saat pertama membacanya, syarat itu hampir terlewat begitu saja. Toh, rasanya seperti hal yang sudah semestinya. Tapi makin ke sini, makin terasa dan perlu diresapi bahwa syarat itu adalah sebuah harapan yang dititipkan dengan sengaja. Bahwa siapapun yang terpilih, suatu hari nanti, diharapkan akan turut membangun Indonesia yang lebih baik. Bukan karena diwajibkan, bukan karena diperintahkan, tetapi karena layak untuk dipercaya. Dan kepercayaan itu tentulah bukan perkara kecil.

Baca juga:

Pemerintah Siapkan 5.750 Kuota Beasiswa LPDP di 2026

Perantauan adalah Cermin Diri

Ada sesuatu yang tidak bisa diajarkan di dalam kelas manapun. Sesuatu yang hanya bisa ditemukan ketika kita jauh dari rumah, jauh dari bahasa ibu, jauh dari segala hal yang selama ini membuat kita merasa aman dan nyaman.

Di perantauan, tanpa disadari, sejatinya kita sedang belajar tentang diri kita sendiri. Perbedaan budaya, perbedaan bahasa, perbedaan tata krama dan cara berpikir, semuanya seperti cermin besar yang memantulkan siapa kita sesungguhnya. Seberapa tangguh kita, seberapa lentur menghadapi tantangan, seberapa jauh resiliensi yang selama ini kita kira miliki, apakah benar-benar ada ketangguhannya, atau justru tidak ada sama sekali.

Di Belanda, dan dari banyak kisah sesama perantau di berbagai negara, ada satu hal yang selalu terasa berbeda. Di sana, setiap orang didorong untuk berpendapat. Bukan sekadar diperbolehkan, tapi memang diharapkan untuk berpendapat. Ruang diskusi tidak dianggap hidup jika hanya satu atau dua suara yang berbicara. Ide harus sebanyak mungkin ditaruh di meja tengah, diadu, dipertajam, lalu disepakati bersama.

Hal ini berbeda dengan kebiasaan yang tanpa sadar banyak kita bawa dari kecil. Sejak dini, banyak dari kita tumbuh dalam budaya menurut. Bukan salah siapapun, memang begitulah yang diwarisi. Dan perlahan hal itu terbawa hingga dewasa, hingga ke meja kerja, dimana acap kali kita merasa lebih nyaman untuk diam dan menyimpan pendapat untuk diri sendiri.

Baca juga:

Baru 1,1 Juta Mahasiswa Dapat Beasiswa, Presiden Prabowo Ingin Diperbanyak

Padahal sejatinya, bangsa yang maju lahir dari warganya yang berani berpendapat, bukan dari mereka yang pandai mengangguk.
Perantauan mengajarkan keberanian itu. Dan pertanyaan yang kemudian tidak bisa lepas dari benak adalah: apakah pelajaran ini hanya menjadi milik kita sendiri, ataukah bisa kita bagikan kepada orang-orang di sekitar?

Jembatan yang Hidup

Mendapat kesempatan belajar di luar negeri bukan sekadar soal gelar atau ilmu yang dibawa pulang. Tanpa disadari, setiap penerima beasiswa otomatis menjadi apa yang dalam diplomasi kerap disebut sebagai living bridge, jembatan yang hidup. Bukan jembatan besi yang diam dan kaku, melainkan jembatan manusia yang bergerak, berbicara, dan menghubungkan dua dunia.

Di satu sisi, kita menjadi jembatan antara dua negara. Kita memahami cara berpikir orang setempat, mengerti konteks sosial dan budayanya, sekaligus membawa perspektif Indonesia ke dalam setiap interaksi di sana. Relasi yang terbangun selama masa studi, jaringan yang terbentuk di kampus dan komunitas, semua itu adalah aset diplomatik dan kultural yang nilainya tidak bisa diukur hanya dengan lembar ijazah.

Di sisi lain, dan ini yang sering terlupakan, kita adalah juga jembatan kemajuan untuk negeri sendiri. Setiap ide baru yang diperkenalkan, setiap keberanian berpendapat yang ditularkan, setiap pintu yang dibuka agar orang lain bisa merasakan kesempatan yang sama, semua itu adalah kerja-kerja jembatan yang nyata. Sepulang dari perantauan, itulah yang paling penting untuk diwujudkan, agar akses yang pernah terbuka untuk satu orang, bisa terbuka juga untuk orang-orang di sekitarnya. Sebab kemajuan memang seharusnya digetok-tularkan, bukan dimonopoli.

Baca juga:

150 Ribu Guru Bakal Dapat Beasiswa, Diberi Rp 3 Juta Per Semester

Kemana Arah Menghadap

Sejarah mencatat, Bung Hatta menghabiskan waktunya bertahun-tahun di Belanda sebelum akhirnya pulang ke tanah air. Bukan karena ia tidak cinta Indonesia. Justru sebaliknya, dari tanah Eropa itulah ia berjuang, berpikir, menulis, dan membangun fondasi kemerdekaan yang kelak menjadi warisan bagi seluruh bangsa. Ketika ia rasa saatnya tiba untuk melanjutkan perjuangan dari tanah air, barulah ia pulang.

Yang penting bukan kapan pulangnya. Yang penting, ke mana hatinya mengabdi.

Hari ini, ada ribuan diaspora Indonesia yang tersebar di berbagai penjuru dunia. Tidak sedikit dari mereka yang justru dari luar negeri membangun jembatan, membuka akses, dan memastikan bahwa kemajuan yang dirasakan juga bisa dinikmati oleh generasi berikutnya di tanah air. Setiap beasiswa pun memiliki ketentuan dan semangat yang berbeda-beda, ada yang mewajibkan kembali, ada yang tidak. Namun apapun ketentuannya, semangat yang seharusnya menyatukan semua alumni adalah satu, jangan putus dari tanah air, meski ragamu jauh darinya. Bukan di mana kita berdiri, tapi ke arah mana kita menghadap, itu yang penting.

Bagi yang sedang membawa nama Indonesia, yang sedang mengemasi koper menuju negeri orang, atau yang baru saja pulang dengan ijazah di tangan, pahamilah bahwa kita bukan sekadar penerima beasiswa, kita adalah penerima kepercayaan. Di balik setiap lembar dokumen seleksi yang dilalui, ada harapan yang dititipkan oleh banyak pihak. Harapan itu tidak selalu menuntut untuk langsung pulang, langsung bekerja di instansi tertentu, atau langsung melakukan hal-hal yang terlihat besar. Harapan itu hanya menuntut satu hal yang sederhana: jangan nikmati sendiri kemajuan itu. Bagikan ilmunya. Buka pintunya. Jadilah jembatan yang hidup, bukan sekadar alumni yang bergelar.

Baca juga:

Beasiswa dan Tunjangan Guru di Bawah Kementerian Agama Bakal Ditambah

WNI Adalah Panggilan Hidup

Dalam pidato Presiden Prabowo di Pembukaan Kongres ke-XVIII Muslimat Nahdlatul Ulama di Surabaya, 10 Februari 2025, ditegaskan dengan lantang: “Tugas ke luar negeri, tugas belajar boleh, tugas untuk atas nama negara boleh. Jangan tugas yang dicari-cari untuk jalan-jalan. Kalau mau jalan-jalan pakai uang sendiri.”

Sebagaimana kita tahu, pernyataan itu lahir dari konteks efisiensi anggaran, namun tanpa disadari statement itu juga menyentuh sesuatu yang lebih dalam. Bahwa kepergian ke luar negeri, apalagi dengan beasiswa negara, bukanlah privilege yang patut dinikmati sendiri. Itu adalah mandat, dan mandat hanya bermakna jika hasilnya dikembalikan kepada bangsa, dalam bentuk apapun yang bisa dilakukan.

Penguatan SDM Indonesia merupakan salah satu pilar utama dalam visi Bersama Indonesia Maju, Menuju Indonesia Emas 2045. Cita-cita besar itu tidak akan terwujud hanya dari kebijakan dan anggaran. Ia akan terwujud dari manusia-manusia yang pulang membawa lebih dari sekadar ilmu, yang datang dengan keyakinan bahwa kemajuan yang mereka rasakan adalah titipan, bukan kepemilikan pribadi.

Di tengah perdebatan yang sedang ramai, rasa-rasanya tidak perlu ikut berteriak. Cukup duduk sejenak dan mengajak siapapun untuk bertanya pada diri sendiri: Apakah kemajuan yang kita rasakan, juga kita bawa untuk orang-orang di sekitar kita?

WNI bukan status, WNI bukan sekadar syarat administrasi yang harus dipenuhi sebelum mengisi formulir beasiswa. WNI adalah panggilan hidup, dan panggilan itu tidak pernah kedaluwarsa.(*)

Penulis: Immanuel B.B Hutasoit. Ketua Ikatan Alumni StuNed (Studeren in Nederland)

#WNI #Beasiswa #LPDP #Belanda
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Mula Akmal

Jurnalis, editor, dan periset dengan pengalaman lebih dari satu dekade di bidang politik, hukum, pertahanan, keamanan nasional, dan ruang digital. Menempuh magister Peperangan Asimetris di Universitas Pertahanan RI, dengan fokus pada perang kognitif, keamanan siber, perang narasi, dan konflik nonkonvensional.
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Indonesia
Penerima Beasiswa LPDP Jakarta Bisa Kuliah di Kampus Top Dunia
Pramono memiliki keinginan agar para peserta LPDP ala Jakarta tak hanya belajar mata kuliah yang umum tetapi juga belajar keterampilan yang dibutuhkan saat ini.
Alwan Ridha Ramdani - Kamis, 15 Oktober 2026
Penerima Beasiswa LPDP Jakarta Bisa Kuliah di Kampus Top Dunia
Indonesia
2 WNI Jadi Korban Serangan Bandara Riyadh, KBRI Ingatkan Sanksi Berat Penyebar Foto Rudal dari Kerajaan Saudi
Dua WNI terluka akibat serangan Houthi di Bandara Riyadh. KBRI ingatkan sanksi pidana berat dari Saudi jika nekat sebar foto/video rudal!
Wisnu Cipto - Rabu, 14 Oktober 2026
2 WNI Jadi Korban Serangan Bandara Riyadh, KBRI Ingatkan Sanksi Berat Penyebar Foto Rudal dari Kerajaan Saudi
Indonesia
Beasiswa LPDP Perdana Jakarta Bakal Diberikan ke 75 Mahasiswa di 2027, Yuk Segera Daftar!
Saat ini, Pemprov DKI Jakarta menjalankan program Kartu Jakarta Pintar (KJP) Plus yang menjangkau sekitar 700 ribu peserta didik.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 13 Oktober 2026
Beasiswa LPDP Perdana Jakarta Bakal Diberikan ke 75 Mahasiswa di 2027, Yuk Segera Daftar!
Indonesia
Arab kembali Bersitegang dengan Houthi, WNI Diminta Jauhi Lokasi Rawan
WNI di Arab Saudi diimbau agar tetap tenang, mengutamakan keselamatan, serta mengikuti perkembangan informasi melalui sumber resmi.
Dwi Astarini - Selasa, 13 Oktober 2026
Arab kembali Bersitegang dengan Houthi, WNI Diminta Jauhi Lokasi Rawan
Indonesia
Mesir Berikan Kuota Tambahan Beasiswa Bagi Mahasiswa Indonesia
Prabowo menyoroti kerja sama sektor pendidikan kedua negara yang sudah terjalin erat, terbukti dari banyaknya mahasiswa Indonesia yang menempuh pendidikan di Mesir.
Alwan Ridha Ramdani - Minggu, 11 Oktober 2026
Mesir Berikan Kuota Tambahan Beasiswa Bagi Mahasiswa Indonesia
Olahraga
Kick-off 01.45 WIB, Duel 2 Rival Abadi Belanda Vs Jerman Disiarkan Gratis. Klik di Sini!
Saksikan siaran langsung Belanda vs Jerman di UEFA Nations League malam ini gratis di RCTI. Cek prediksi susunan pemain, H2H, dan link streaming resmi!
Wisnu Cipto - Jumat, 25 September 2026
Kick-off 01.45 WIB, Duel 2 Rival Abadi Belanda Vs Jerman Disiarkan Gratis. Klik di Sini!
Indonesia
Jubir Kemlu Terima WhatsApp dari WNI Gabung Militer Rusia, Isinya Titip Pesan Buat Menlu
Jubir Kemlu terima pesan WhatsApp dari WNI yang diduga gabung militer Rusia. Pesan dititipkan untuk Menlu Sugiono, investigasi perekrutan ilegal terus digali.
Wisnu Cipto - Kamis, 17 September 2026
Jubir Kemlu Terima WhatsApp dari WNI Gabung Militer Rusia, Isinya Titip Pesan Buat Menlu
Indonesia
Mulai 2027 Nanti 75 Warga Bisa Dapat Beasiswa LPDP Jakarta , KJMU Tetap Dipertankan
Selain LPDP Jakarta, Pergub tersebut juga mengatur mekanisme pemberian Kartu Jakarta Mahasiswa Unggul (KJMU).
Alwan Ridha Ramdani - Kamis, 17 September 2026
Mulai 2027 Nanti 75 Warga Bisa Dapat Beasiswa LPDP Jakarta , KJMU Tetap Dipertankan
Indonesia
Makkah Jadi Target Serangan Drone, WNI di Jeddah Hingga Taif Diminta Waspada
Arab Saudi dihujani serangan drone Houthi yang mengincar kawasan Makkah. Kemlu RI minta WNI tingkatkan kewaspadaan dan catat nomor darurat ini!
Wisnu Cipto - Rabu, 16 September 2026
Makkah Jadi Target Serangan Drone, WNI di Jeddah Hingga Taif Diminta Waspada
Dunia
Transportasi Umum Belanda Lumpuh akibat Pemogokan Tolak Pemotongan Anggaran Kesejahteraan
Transportasi umum di Belanda nyaris lumpuh pada Rabu (9/9) akibat pemogokan nasional.
Yusuf Abdillah - Rabu, 09 September 2026
Transportasi Umum Belanda Lumpuh akibat Pemogokan Tolak Pemotongan Anggaran Kesejahteraan
Bagikan