Ketika Anak Jadi Korban Cyber Bullying, ini yang Harus Dilakukan Orangtua Anak rentan mengalami cyber bullying. (foto: norton)

MEDIA sosial bukan lagi monopoli orang dewasa. Anak-anak pun bisa dengan mudah berselancar di media sosial. Tidak sedikit anak-anak yang sudah aktif bermedia sosial di usia amat dini. Sayangnya, tak selamanya media sosial membawa pengaruh positif. Tak jarang anak-anak dan remaja jadi sasaran cyber bullying.

Di usia mereka yang masih muda, anak-anak mungkin belum paham dengan apa yang terjadi, tapi mereka pastilah merasa takut atau bahkan marah. Saat anak jadi korban cyber bullying, ada beberapa hal positif yang bisa dilakukan orangtua.


1. Jangan menanggapi pelaku

Berikan pengertian kepada si kecil bahwa hal utama yang harus dilakukan ketika terjadi kekerasan di media sosial terjadi kepadanya ialah tidak membalas atau menanggapi si pelaku. Beri tahu bahwa semua komentar negatif atau cercaan yang ditujukan kepadanya diabaikan saja.

Jelaskan kepada anak, meski sangat sulit untuk menahan diri agar tidak melawan, justru hal itu akan mencegah keadaan semakin buruk. Biasanya orang yang melakukan cyber bullying cenderung lebih senang karena ‘umpannya’ diterima korban.


2. Bangun kembali kepercayaan diri si kecil

bullying
Dukung si kecil, jangan menyalahkan mereka. (foto: pixabay/geralt)

Sangat wajar jika anak dan remaja Anda sangat ketakutan, cemas, marah, dan sedih dalam waktu yang bersamaan. Sebagai orangtua, amat penting Anda membuatnya tenang dan mengembalikan kepercayaan dirinya.

Jelaskan bahwa hal itu bisa saja terjadi pada siapa pun, tak hanya pada dirinya. Ada banyak orang yang tak bertanggung jawab dan menggunakan media sosial untuk menindas orang lain. Jika memang perlu, Anda bisa mengajak si kecil ke psikolog untuk memantau kondisi mentalnya.

Penting untuk tidak menyudutkan atau menyalahkan anak, misalnya pertanyaan, 'apa yang kamu lakukan sampai-sampai dirundung?'. Apa pun alasannya, cyber bullying pada anak tidak bisa dibenarkan.

3. Kumpulkan bukti, lalu laporkan

Setelah berhasil menahan diri, tanyakan si kecil apa saja bentuk kekerasan media sosial yang ia dapatkan. Entah itu komentar yang tidak pantas atau bahkan foto pribadinya. Kumpulkan semua hal tersebut untuk dijadikan barang bukti.

Banyak anak yang justru menghapus semua bukti tersebut karena merasa ketakutan. Jadi tenangkan dirinya dan berikan penjelasan bahwa hal itu bisa dijadikan barang bukti. Jika memang Anda sudah memiliki bukti yang cukup, laporkan kepada pihak sekolah atau pihak mana pun yang berwenang dalam situasi ini, sehingga si pelaku tidak akan melakukan kekerasan pada anak lainnya.

Yang terpenting, orangtua harus selalu memantau segala kegiatan si kecil di media sosial. Ketahui akun apa saja yang ia miliki hingga teman-teman mereka di kanal tersebut. Tak ada salahnya orangtua menyaring unggahan anak di akun media sosial mereka. Selain itu, orangtua harus lebih peka dan cepat mengetahui tanda-tanda saat si kecil mengalami cyber bullying.(*)



Dwi Astarini