Ketegangan Saat Kapal Pasukan Inggris Bridgade ke-49 Berada di Perairan Surabaya  (1) Dua orang Angkatan Laut tentara Inggris sedang memeriksa keadaan menggunakan teropong. Sumber; Imperial War Museum.

KEPALA Markonis Kantor Berita Antara Surabaya, AMINOEDIN Loebis, terengah-engah setiba di halaman depan markas Pemuda Republik Indonesia (PRI), sekarang berlokasi di Gedung Pemuda, 22 Oktober 1945. Ia meneruskan kabar dari Jakarta mengenai tak lama lagi pasukan Inggris akan berlabuh di Surabaya dengan kekuatan satu resimen.

Menerima kabar tersebut, PRI lantas berinisiatif membentuk sebuah tim penghubung untuk merespon kedatangan pasukan Inggris beranggotakan para pemuda nan lihai bercasciscus bahasa Inggris, di antaranya: Roeslan Abdulgani, Jetty Zain, Boesh Effendy, Djamal, Hamid Algadri, Maasjeiwi, dan Des Alwi.

Tiga hari berselang, para pejuang di pelabuhan Tanjung Perak melihat kapal besar mengirim sebuah kode. Tak benar-benar paham arti kode, para pejuang mengira kapal tersebut akan menyerang. Sementara, di atas kapal HMS Waveney, pasukan Brigade ke-49 pimpinan Brigadir Mallaby, mengira pelabuhan tersebut masih dikuasai militer Jepang. Kedua pihak pun berancang-ancang, namun tak satu pun suara tembakan terdengar hingga kapal tersebut berlabuh.

Kapal pasukan Inggris, menurut Roeslan Abdulgani pada Seratus Hari di Surabaya Yang Menggemparkan Indonesia, berisi para perwira Inggris, namun para pasukannya kebanyakan berdarah India dengan tubuh hitam tegap. Kedatangan Brigade ke-49 bertujuan untuk menuntaskan 3 misi utama; mengevakuasi orang-orang sipil Belanda, mengevakuasi tawanan perang dan interniran Eropa, serta memulangkan orang-orang Jepang.

pertempuran surabaya
Kapal perang Inggris di laut Surabaya. Sumber: Imperial War Museum.

Dari geladak kapal, Mallaby mengutus MacDonald bersama seorang petugas intelijen Inggris pergi menemui pemimpin Badan Keamanan Rakyat (BKR) Surabaya, Dokter Gigi Moestopo. Kedua perwira Inggris tersebut menjelaskan kedatangannya untuk menjalankan tugas sebagai pasukan Sekutu. Meski begitu, Moestopo tak lekas percaya. Ia dan para pemuda pejuang Surabaya beranggapan pasukan Inggris tersebut membawa serta serdadu Belanda.

Para pejuang pun bersiaga. Setelah pertemuan, Moestopo kemudian memutuskan berkeliling kota menggunakan mobil bak terbuka sembari terus berteriak, "Siap..Siap!".

Masyarakat saat itu sudah resah ketika pasukan Inggris tiba. Laskar-laskar perjuangan sudah siap senjata di tangan. Menteri Luar Negeri Ahmad Soebardjo bahkan berubah pandangan. Dia semula meminta agar rakyat Surabaya bersikap netral, namun setelah mendapat laporan, membebaskan rakyat Surabaya untuk menentukan sikap.

"Maka segala sesuatunya sekarang terserah sepenuhnya kepada keputusan rakyat Surabaya. Terserah jullie (kamu) yang ada di Jawa Timur," ucapnya kepada Des Alwi, seperti dikutip dalam buku Pertempuran Surabaya November 1945.

Mendengar keputusan Soebardjo, Des Alwi bergegas menemui Gubernur Jawa Timur, Suryo. Di hadapan sang gubernur, ia melapor mengenai pandangan para pemimpin nasional terhadap situasi di Surabaya.

"Sudahlah mas begini saja, buatkan aku pidato," jawab Suryo.

Des Alwi pun segera menyusun teks pidato. Sekira pukul 23.00, mereka menuju studio Nederlands-Indische Radio Omroep (NIROM). Suara Suryo lantas bergaung di udara. Ia meminta rakyat Surabaya untuk tenang tapi tetap waspada. Selepas berpidato, rombongan kembali ke gubernuran untuk menentukan langkah-langkah strategis selanjutnya.

Gubernur Suryo kemudian memutuskan mengevakuasi semua pegawai sipil ke Pansion Marijke di jalan Embong Sawo, kota Surabaya, nomor dua sebelah kiri dari Jalan Kaliasin.

"Lokasi pertahanan pasukan polisi telah dipindahkan ke daerah Bedjeng. Nanti jika Bedjeng sudah tidak bisa dipertahankan, pasukan sampeyan harus mundur ke arah Lamongan," ujar Des Alwi kepada anggota polisi Djarot Soebiantoro. Keadaan Surabaya pun berubah menjadi siaga bertempur. (*)


Tags Artikel Ini

Yudi Anugrah Nugroho

LAINNYA DARI MERAH PUTIH