Ketahui Sebab Mengapa Gorengan Tak Aman
Peningkatan risiko bukan pada saat memakannya. (Pexels/Jonathan Borba)
GORENGAN adalah camilan favorit semua orang yang sangat mudah ditemukan dimana saja. Gorengan yang terdiri dari tempe, tahu, bakwan, singlong, ubi, dan pisang ini langsung ludes bila menjadi teman ngonrol ngalor ngidul.
Leah Cahill, PhD, asisten profesor di Universitas Dalhousie di Kanada mengatakan makanan yang digoreng bisa meningkatkan berbagai jenis risiko penyakit. Risiko utama yang akan dirasakan adalah obesitas, tekanan darah tinggi, dan kolesterol tinggi. Peningkatan risiko bukan pada saat memakannya, melainkan karena kebiasaan yang mengonsumsinya terus-menerus.
Laman Healthline menuliskan bahaya mengonsumsi gorengan berlebihan.
Baca Juga:
Kalori tinggi
Jika dibandingkan dengan metode memasak lainnya, menggoreng memiliki lebih banyak kalori. Sebelum digoreng, makanan tersebut biasanya dilapisi adonan atau tepung. Selanjutnya, ketika makanan digoreng dengan minyak, bahan makanannya akan kehilangan air dan menyerap lemak yang bisa meningkatkan kandungan kalori.
Jadi, sebaiknya untuk tidak selalu mengonsumsi makanan dengan cara digoreng bersama tepung. Mengonsumsi gorengan yang tinggi kalori dapat meningkatkan risiko diabetes.
Lemak trans
Lemak trans terbentuk saat lemak tak jenuh menjalani proses yang disebut hidrogenasi. Produsen makanan sering menghidrogenasi lemak menggunakan tekanan tinggi dan gas hidrogen untuk meningkatkan umur simpan dan stabilitasnya. Hidrogenasi terjadi ketika minyak dipanaskan hingga suhu yang sangat tinggi selama pemasakan.
Proses tersebut mengubah struktur kimiawi lemak hingga membuatnya sulit untuk dipecah oleh tubuh yang pada akhirnya menyebabkan efek negatif kesehatan. Faktanya, lemak trans dikaitkan dengan peningkatan risiko banyak penyakit jantung, kanker, diabetes, dan obesitas.
Baca Juga:
Risiko
Beberapa penelitian menemukan hubungan antara makan gorengan dan risiko akan penyakit kronis. Secara umum, makan lebih banyak gorengan berisiko lebih besar terkena diabetes tipe 2, penyakit jantung, dan diabetes.
Konsumsi makanan yang digoreng menyebabkan tekanan darah tinggi, kolesterol HDL rendah yang baik, dan obesitas. Semua faktor tersebut merupakan faktor risiko penyakit jantung. Selain itu, konsumsi makanan yang digoreng juga membuat kamu berisiko lebih tinggi terkena diabetes tipe 2. Studi menemukan bahwa orang yang makan makanan cepat saji lebih dari dua kali per minggu dua kali lebih mungkin untuk mengembangkan resistensi insulin, dibandingkan dengan mereka yang memakannya kurang dari sekali seminggu.
Makanan yang digoreng mengandung lebih banyak kalori daripada yang tidak digoreng sehingga secara signifikan meningkatkan asupan kalori. Penelitian juga menunjukkan bahwa lemak trans dalam makanan yang digoreng dapat berperan penting dalam penambahan berat badan karena dapat mempengaruhi hormon yang mengatur nafsu makan dan penyimpanan lemak. (vca)
Baca Juga:
Bagikan
Berita Terkait
AS Kurangi Jumlah Vaksin Wajib untuk Anak-Anak, Timbulkan Kekhawatiran Peningkatan Risiko Penyakit
Gubernur Pramono Tegaskan belum Ditemukan Super Flu di Jakarta
DPR Minta Pemerintah Gerak Cepat Antisipasi Ancaman Super Flu, Dorong Kemenkes Terbitkan Vaksin Pencegah
Waspada Super Flu, 62 Kasus Terkonfirmasi di Indonesia Terbanyak di Jawa Timur
Super Flu Masuk ke Indonesia, Kemenkes Imbau Kenali Gejala dan Terapkan Protokol Kesehatan
Teknologi Bedah Robotik Memungkinkan Tindakan Presisi untuk Kenyamanan Pasien, kini Hadir di Siloam Hospitals Kebon Jeruk
30 Kuliner Khas Riau yang Wajib Dicoba: Cita Rasa Melayu yang Kaya Rempah dan Sulit Dilupakan
Merayakan Malam Tahun Baru ala Argentina, Menikmati Torta Galesa hingga Asado
Babak Baru Restoran Latin: Pembagian Menu Lunch dan Dinner untuk Pengalaman Bersantap Lebih Fokus
Chef Paik Jong-won Balik ke TV, Diam-Diam Hapus Video Pengumuman Hiatus