Kesetaraan Gender Bukan Soal Kompetisi Kesetaraan gender bukan soal perlombaan. (Foto: Institute of Entrepreneurship Development)

KESETARAAN gender selalu terjebak dalam perdebatan. Dua gender itu dianggap memiliki peran yang berbeda. Saat pria mencari nafkah, perempuan mengurus rumah tangga saja. Biarkan urusan berat dikerjakan oleh seluruh kaum Adam.

Perempuan kerap diremehkan karena dianggap lemah. Di Amerika sebelum masuk abad ke 20 perempuan tidak jarang direndahkan. Bekerja sih bekerja, tapi upah yang diterima lebih kecil dari pria. Untuk itu muncullah teori feminisme yang dipelopori seorang penulis bernama Virginia Woolf.

Teori tersebut secara garis besar ingin memperjuangkan agar perermpuan dapat setara dengan pria. Lantas apa yang dimaksud dengan kesetaraan gender? Mungkin beberapa pria merasa rendah jika harus 'kalah' maupun disamakan dengan perempuan.

Namun, bukan seperti itu yang dimaksud. Kesetaraan gender bukan soal perlombaan antara pria dan perempuan, demikian menurut Maya Juwita, Executive Director IBCWE (Indonesia Business Coalition for Women Empowerment).

"Saya harus katakan bahwa dari pandangan IBCWE dan saya pribadi ini bukan kompetisi. Bukan berarti perempuan harus lebih hebat dari laki-laki, sangat tidak," tegas Maya.

Setara artinya memiliki hak yang sama dan kewajiban yang sama. Dengan demikian perempuan memiliki peran yang sama dengan pria. Seperti misalnya di sebuah perusahaan, perempuan memiliki hak sebagai pemimpin.

Dalam hal ini Maya menegaskan agar pria tidak perlu merasa tertandingi dengan kemajuan seorang perempuan. Kedua belah pihak tetap bernaung di atas kepentingan yang sama. Secara bijak kesetaraan gender dimaksudkan agar perempuan dan pria bisa bekerjasama dan saling membantu.

"Bagaimana agar kedua belah pihak bisa bekerjasama," ungkapnya.

Maya pun menilik ke belakang, masalah kesetaraan gender memang bukan hal baru. Sudah berlangsung sejak ribuan tahun lalu. Sampai-sampai ada negara yang tidak memberikan hak pilih kepada wanita meskipun sudah merdeka.

Beruntung bagi Indonesia sendiri perempuan sudah memiliki hak pilih sejak merdeka.

"Masalahnya dari ribuan tahun lalu perempuan dengan laki-laki startnya tidak sama. Misalnya banyak kondisi perempuan dinomorduakan. Indonesia sendiri beruntung dari zaman merdeka, perempuan sudah punya hak pilih," kata Maya.

Akan tetapi tetap saja perempuan dianggap lebih pantas mengerjakan pekerjaan rumah. Padahal, kesanggupan perempuan sebenarnya tanpa batas. Terlebih di bidang ekonomi yang seharusnya kehadiran perempuan perlu dipertimbanhkan.

"Sementara perempuan sebagai manusia utuh juga punya ambisi dan juga punya potensi ekonomi yang bisa diberdayakan," katanya.

Maya pun tidak menampik bahwa kesetaraan gender memang harus mengedepankan pemberdayaan ekonomi. Sebab hal ini akan memiliki dampak positif bagi perekonomian negara secara makro.

Dalam ruang lingkup kecil terutama keluarga, pemberdayaan ekonomi perempuan pastinya akan menyejahterakan keluarga. Artinya perempuan tidak hanya diam dan akan membantu keluarga dengan penghasilan tambahan yang tidak bergantung dengan penghasilan suami.

"Kalau dari pandangan IBCWE, kesetaraan gender yang didengungkan memang mengarah kepada pemberdayaan ekonomi perempuan. Karena pemberadayaan ekomi perempuan itu akan membuat negara menjadi sejahtera secara makro. Secara kecilnya ketahanan ekonomi keluarga," papar Maya.

Hasil maksimal dari pemberdayaan ekonomi perempuan akan memberikan kepercayaan yang tinggi bagi perempuan. Sehingga dapat merubah sudut pandang dan juga mengurangi tindak kekerasan yang kerap dialami wanita.

"Dan kalau perempuan lebih confidence, kekerasan tidak akan terjadi," tutup Maya. (ikh).

Kredit : digdo

Tags Artikel Ini

Paksi Suryo Raharjo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH