Kesaksian Warga Kwitang saat Kerusuhan, Polisi Tembakan Gas Air Mata dan Tendang Portal Polisi tembakan gas air mata ke warga di Kwitang, Jakarta Pusat, Selasa (13/10). Foto: Istimewa

MerahPutih.com - Kasus tembakan gas air mata di pemukiman warga di Kwitang menuai reaksi. Imbasnya, warga di kawasan Kwitang, Jakarta Pusat, terganggu akibat bentrokan yang melibatkan aparat kepolisian dengan massa perusuh.

Misalnya saja di kawasan Masjid Al-Riyadh Kwitang, Jakarta Pusat, yang berlokasi di Jalan Kembang VI. Para warga yang bermukim di sana merasa terusik lantaran ada tembakan gas air mata yang dilepaskan oleh aparat kepolisian.

Wanto dan Bambang, pengusaha warkop yang berjualan tak jauh dari masjid menyebut, kejadian tersebut terjadi pukul 20.00 WIB. Menurut mereka berdua, insiden tembakan gas air mata terjadi karena massa perusuh kabur ke sekitar lokasi.

Baca Juga

Alasan Polisi Tembakan Gas Air Mata ke Mobil Ambulance saat Demo UU Ciptaker

"Itu kan massa dari luar kabur ke sini. Mereka di udak ke sini. Kami kan yang tidak tahu apa-apa, yang lagi di sini malah kena sasaran," kata Bambang saat dijumpai wartawan.

Bambang menyebut, saat itu dia langsung menutup warkop miliknya. Lapak milik Bambang dan Warto tak jauh dari portal di muka jalan dekat dengan masjid.

Bambang melanjutkan, aparat kepolisian, dalam hal ini Brimob melepaskan tembakan gas air mata ke arah massa perusuh yang kabur ke pemukiman warga. Posisi pasukan Brimob, kata Bambang, berada di depan portal yang sudah ditutup.

"Masih buka warkop mas, wah itu langsung saya tutup. Portal depan sudah ditutup. Brimob nembakin gas air mata dari depan portal," sambungnya.

Bambang melanjutkan, jika portal tidak ditutup oleh warga, besar kemungkinan pasukan Brimob masuk ke pemukiman untuk menangkap massa perusuh. Tak hanya itu, pasukan Brimob juga disebut sempat menendang-nendang portal.

"Tapi brimob tidak sampai masuk, kalau tidak di portal, pasti masuk. Karena mereka terhalang portal, polisi saja sampai nendang-nendang portal," beber Bambang.

Sementara itu, Warto menjelaskan jika situasi mulai berangsur kondusif sekitar pukul 22.00 WIB. Saat itu, warga berusaha menenangkan personel Brimob yang terus mendapat lemparan batu dari massa perusuh.

"Nah ketika brimob sudah damai, dari arah belakang ada yang lempar-lempar lagi. Massa yang kabur lempar lagi. Soalnya massa banyak yang lari ke sini. Jam 10 malam sudah kondusif tapi," kata Warto.

Dandim 0501/JP BS, Kolonel Inf Luqman Arief mengatakan, akan melakukan diskusi dengan pihak kepolisian dan pemerintah daerah terkait tembakan gas air mata ke perumahan warga di Kwitang, Jakarta Pusat. Kejadian tersebut terjadi pada Selasa (13/10) malam.

"Sehingga kejadian seperti ini tidak terulang lagi dan warga masyarakat tidak merasa terancam," kata Luqman kepada wartawan, Rabu (14/10).

Lalu, saat dirinya menyambangi pemukiman tersebut. Banyak warga yang mengeluh dan merasa tidak nyaman atas kejadian yang terjadi pada malam tersebut.

"Ya kita sampaikan kepada masyarakat dan apa keluh kesah masyarakat. Tadi mungkin kita mendengar bahwa masyarakat di sini (Kwitang) mungkin sangat tidak nyaman dan mungkin sangat terganggu," ujarnya.

Ia menjelaskan, permasalahan yang terjadi pada malam itu dikarenakan adanya sejumlah kelompok yang anarkis dan telah menyerang aparat kepolisian dan berlari ke arah tersebut.

"Ya karena pelarian dari massa Anarko karena mereka lari setelah menyerang polisi dan aparat lainnya, mereka berlari ke pemukiman untuk menyamarkan diri. Sehingga dari kepolisian menghantam saja dan lupa kalau di sini ternyata warga. Ini perlu kita diskusikan untuk mencari solusi yang terbaik," jelasnya.

"Ini kesulitannya mungkin dari pihak kepolisian dia susah untuk membedakan massa Anarko dengan masyarakat sekitar sini. Akhirnya banyak masyarakat di sini yang menjadi sasaran dan korban. Seperti tadi ada tembakan gas air mata dan lain-lain. Mereka berharap ke depan tidak terjadi lagi," sambungnya.

Selain itu, warga juga ingin agar kejadian tersebut tidak dapat terulang lagi dan membuat warga menjadi tidak nyaman. Mereka pun siap untuk membuat pihak Polri dan TNI untuk menghalau massa yang coba masuk ke daerahnya.

"Mudah-mudahan kita bersama dengan warga juga akan bersama menghalau apabila terjadi demo ke depannya. Itu yang mereka inginkan kepada kami. Insya Allah kami akan berusaha semaksimal mungkin menjembatani semua ini sehingga masalah ini bisa kita selesaikan," ungkapnya.

Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Heru Novianto mengatakan, kejadian itu terjadi saat mereka melakukan pembubaran massa dari Tugu Tani, Jakarta Pusat.

"Itu pas pembubaran massa dari Tugu Tani, mereka dikejar masuknya ke arah perumahan itu dan itu sudah tiga kali. Jadi pertama dikejar dia masuk ke perumahan situ, kita lewat keluar lagi bakar-bakar lagi," kata Heru.

Baca Juga

Kapolres Jakpus soal Tembakan Gas Air Mata ke Perumahan Warga di Kwitang

Lalu, alasan pihaknya sempat melakukan pengejaran ke perumahan tersebut. Karena memang mereka yang bukan warga setempat berlari ke arah sana.

"Kita dorong, masuk situ lagi dan itu memang bukan orang kampung situ semua. Tapi mereka berlindung di kampung situ makanya kemarin penindakannya sampai masuk ke dalam," ujarnya. (Knu)

LAINNYA DARI MERAH PUTIH
Usai Dirumahkan 5 Bulan, 700 Pegawai Garuda di PHK
Indonesia
Usai Dirumahkan 5 Bulan, 700 Pegawai Garuda di PHK

Sebanyak 700 karyawan PT Garuda Indonesia dilakukan pemutusan hubungan kerja. Mereka sebelumnya sudah dirumahkan selama 5 bulan.

Begini Produksi dan Produk Kilang Minyak Balongan Yang Meledak
Indonesia
Begini Produksi dan Produk Kilang Minyak Balongan Yang Meledak

Dari situs Pertamina, Kilang Balongan mulai beroperasi sejak tahun 1994 dengan wilayah operasi di Balongan, Mundu dan Salam Darma.

Update COVID-19 Senin (24/8): 155.412 Positif, DKI Sumbang 633 Kasus
Indonesia
Update COVID-19 Senin (24/8): 155.412 Positif, DKI Sumbang 633 Kasus

1.877 kasus baru COVID-19 ini diketahui setelah pemerintah melakukan pemeriksaan 19.395 spesimen

Cuma Kedalaman 1 Meter Anak Buah Anies Keruk Lumpur Kali Sekretaris
Indonesia
Cuma Kedalaman 1 Meter Anak Buah Anies Keruk Lumpur Kali Sekretaris

Kali Sekretaris dipilih menjadi prioritas lokasi pengerukan karena kawasan tersebut rawan banjir.

Kasad Andika Perkasa Beberkan Penyebab Anak Buahnya Berkhianat
Indonesia
Kasad Andika Perkasa Beberkan Penyebab Anak Buahnya Berkhianat

Menurutnya, banyak sekali prajurit TNI yang melakukan hal serupa dengan motivasi yang berbeda, misalnya utang, asusila, dan merasa tidak cocok dengan pekerjaannya.

Kasus COVID-19 Capai 452 Ribu
Indonesia
Kasus COVID-19 Capai 452 Ribu

Penularan virus corona hingga saat ini, Kamis (12/11), masih terus terjadi di masyarakat.

Ini Jadwal Masuk Sekolah Tatap Muka di Yogyakarta
Indonesia
Ini Jadwal Masuk Sekolah Tatap Muka di Yogyakarta

Pembukaan sekolah tatap muka di seluruh Yogyakarta menunggu hasil evaluasi risiko penularan COVID-19 di perguruan tinggi.

Pemprov DKI: Hanya 3 TPU Dipakai Makamkan Jenazah COVID-19
Indonesia
Pemprov DKI: Hanya 3 TPU Dipakai Makamkan Jenazah COVID-19

Pemprov DKI Jakarta menyebut saat ini hanya tiga tempat pemakaman umum (TPU) yang dapat digunakan untuk mengebumikan jenazah warga terkonfirmasi COVID-19.

Polisi Putar Balik 156 Ribu Kendaraan Selama Operasi Ketupat 2020
Indonesia
Polisi Putar Balik 156 Ribu Kendaraan Selama Operasi Ketupat 2020

Operasi ketupat tahun ini berjalan dengan kondusif

Wagub DKI: Operasi Yustisi Turunkan Penyebaran COVID-19 Sebesar 20 Persen
Indonesia
Wagub DKI: Operasi Yustisi Turunkan Penyebaran COVID-19 Sebesar 20 Persen

Hal itu diungkap Riza Patria dari hasil analisa para pakar dan para ahli.