Kesaksian Jemaat Ketika Serangan Bom di Gereja Pentekosta Arjuna Anton, salah seorang jemaat Gereja Pentekosta (MP/Budi Lentera)

MerahPutih.Com - Serangan bom di sejumlah gereja di Surabaya Minggu (13/5) pagi benar-benar diluar dugaan. Seorang jemaat gereja Pentekosta menuturkan kembali detik-detik sebelum korban menerobos ke dalam halamat gereja.

"Kalau saja bom itu meledak lima menit mundur ke belakang, tentu ratusan jamaah di dalam gereja sudah mampus. Untungnya bom meledak saat menjelang pemberkatan doa." kata Anton, salah satu jemaat yang berada di Gereja Pentekosta, jalan Arjuna Surabaya, saat bom itu meledak.

Pada Minggu pagi yang cerah, Anton bersama istri dan 4 empat keponakannya sedang berada dalam gereja Pentekosta untuk mengikuti ibadah.

Lima menit sebelum bubaran, tepatnya pembacaan agenda menjelang pemberkatan doa, tiba tiba dikejutkan dengan dua ledakan keras dan kobaran api.

"Blar... kaca kaca pecah. Kobaran api itu masuk ke dalam. Semua panik dan berjatuhan. Berdesakan, teriak minta tolong." kata Anton.

Anton memberikan keterangan
Anton memberikan keterangan kepada awak media (MP/Budi Lentera)

Kepanikan makin terjadi ketika para jamaah berebut masuk ke lorong samping untuk menyelamatkan diri.

Anton mulai bingung, ia pun menyuruh istrinya ke luar menuju lorong. Dan ia lebih memilih ke halaman lantaran melihat seorang perempuan yang terbakar punggungnya.

"Saya katakan pada istri saya, ada yang terbakar di luar. Kalau tidak ditolong akan mati." kata Anton.

Anton lantas berlari ke halaman, dan memadamkan api yang membakar perempuan itu dengan air kran. Ia pun tidak terpikir kalau-kalau sampai ada bom meledak lagi.

Alangkah terkejutnya Anton saat melihat wajah perempuan yang ditolong.

"Saya nggak nyangka. Yang terbakar dan saya tolong itu ternyata Fenny. Keponakan saya sendiri."

Korban bom bunuh diri di Surabaya
Petugas mengevakuasi korban di lokasi ledakan di Gereja Kristen Indonesia, Jalan Diponegoro, Surabaya, Jawa Timur (ANTARA FOTO/Didik Suhartono)

Anton lemas, hampir tak bisa menggerakkan kakinya. Namun, ia tak mau berlarut-larut berada di halaman. Ia bergegas membopong keponakannya ke luar. Selanjutnya, Anton kembali ke halaman melihat seorang perempuan tergelak di pintu dengan kondisi berdarah darah.

Lagi, Anton dikejutkan dengan wajah perempuan itu, yang tak lain adalah keponakannya juga.

"Jujur, saya trauma. Kalau bom itu meledak lima menit agak terlambat, tentu banyak yang meninggal. Untung bom meledak saat orang orang masih di dalam." tutupnya.(*)

Berita ini ditulis berdasarkan laporan Budi Lentera, reporter dan kontributor merahputih.com untuk wilayah Surabaya dan sekitarnya.

Baca berita menarik lainnya dalam artikel: Tiga Bom Meledak di Surabaya, Tapi #KamiTidakTakut, #SUROBOYOWANI



Eddy Flo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH