Kesehatan Mental
Kerja Bersama Bantu Ibu Survive dari Baby Blues Para ibu muda butuh dukungan dan perhatian. (foto: unsplash/kevin liang)

BABY blues dan post partum depression merupakan masalah nyata yang dihadapi para ibu. Jika tak lekas ditangani, hal itu bisa membawa dampak yang lebih buruk bagi ibu dan bayi. Meski demikian, penanganannya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Di Indonesia, tidak semua ibu cukup beruntung untuk mendapat penanganan dari pakar.

Kondisi itu diperparah stigma terhadap ibu muda. Sebagai contoh, di masyarakat Bali, para ibu dituntut selalu kuat dan tidak boleh cengeng terutama setelah menghadapi persalinan.

BACA JUGA:

Berawal dari Penyintas Postpatrum Depresi, Nur Yana Yirah Berhasil Mendirikan Mother Hope Indonesia

Tidak kalah menyedihkan, para perempuan yang tinggal di pedalaman Kalimantan Selatan yang juga merasakan pahitnya tuntutan di tengah letihnya kondisi setelah melahirkan. Koordinator Motherhope di wilayah Kalimantan Selatan, Voni Candra, mengungkapkan lebih dari 10 ibu yang baru melahirkan mengalami tekanan di dalam rumah.

"Adat di daerah yang lebih dalam masih sangat kental. Mereka yang tinggal sama mertua mendapat banyak tuntutan. Hal tersebut membuat kondisi kejiwaan menurun dan berpengaruh pada kehamilan," ungkapnya dalam acara Accelerator Community Lebih Dekat dengan Ibu yang digelar daring, Rabu (2/12).

ibu
Para ibu muda kerap menerima stigma. (foto: unsplash/CDC)

Menurutnya, para ibu muda lebih banyak mengurung diri. Stres dan mengurung diri membuat para ibu muda ini kerap mengalami kontraksi di awal bulan. "Kehamilannya harus dipantau terus," ujar Voni.

Lain lagi dengan tantangan yang dihadapi ibu di wilayah Sukorejo. Mereka akan mendapat label dari masyarakat setempat jika menampakkan gejala post partum syndrome atau baby blues. "Masyarakat masih meyakini bahwa yang mengalami depresi hanya yang lemah iman atau kurang bersyukur. Para ibu muda pun menjadi malu dan tidak berani mengungkapkan bahwa ia mengalami post partum syndrome atau baby blues," tutur koordinator Motherhope Sukorejo Leila Nisya Ayuanda.

Belum lagi stigma dan tuntutan yang dialami perempuan Indonesia di wilayah lainnya. Ada yang mendapat cibiran dari ibu sendiri karena tidak bisa setangguh sang ibu saat melahirkan dulu. Ada pula yang mendapat komentar negatif dari tetangga.

Lalu bagaimanakah cara para bidan dan relawan Motherhope membantu para ibu keluar dari lingkaran setan bernama stigma? "Supaya tidak jatuh dalam depresi, mereka harus tetap dapat penanganan," ujar koordinator Motherhope di wilayah Bali dr Prahesti Utami.

Supaya lebih efektif, perempuan yang akrab disapa dokter Hesti tersebut melibatkan tokoh masyarakat setempat. "Mereka lebih masuk dengan orang asli daripada orang asing. Untuk itu, kami coba mengedukasi dengan mengajak bidan yang asli sana," jelasnya.

home visit
Relawan Motherhope menggunakan home visit sebagai medium edukasi. (foto: istimewa)

Hal serupa juga dilakukan relawan Motherhope regional Jakarta dan sekitarnya. Koordinator Motherhope Jakarta, Ariny, mengatakan ia dan timnya akan merangkul ibu kader di wilayah setempat. Menurutnya, ibu kader merupakan bantuan yang sangat besar. Mereka lebih bisa menjangkau warga.

"Apalagi biasanya bu kader itu seumuran dengan orangtua para ibu muda. Jadi bisa lebih klop. Keluarga bisa diedukasi tentang post partum syndrome," ucapnya.

Jika koordinator wilayah Bali dan Jakarta merasa menggandeng tokoh masyarakat menjadi cara efektif, koordinator Motherhope wilayah lainnya lebih percaya pada kunjungan langsung atau home visit.

"Ketika home visit, sekali kunjungan bisa kena orang serumah. Jadi lebih mudah," tutur relawan Motherhope Efi Safitri. Ia menggunakan strategi analogi agar bisa dicerna orangtua dari ibu muda.

"Ketika kami analogikan dengan diri mereka sendiri misalnya pengalaman awal menyusui, mereka menemukan jawabannya sendiri. Yang awalnya kontra menjadi mendukung," lanjutnya.

Senada dengan Efi, Leila juga menilai dengan kunjungan ke rumah, para bidan bisa melihat pandangan kakek nenek. "Kalau demikian, kami lebih bisa intervensi ke ranah lingkungan keluarga," ucapnya.

Sementara itu, relawan Motherhope lainnya, Agustina Wanisari Rahutami, mengatakan pasien memiliki kesadaran yang tinggi akan fenomena baby blues atau post partum syndrome. "Mereka familier dengan baby blues dan post partum syndrome," imbuhnya.

Selain itu, kesadaran para ibu untuk mencari tahu di internet membuat proses edukasi berjalan lebih mudah. "Mereka semangat sekali untuk belajar dan mencari tahu," tukasnya.(Avia)

LAINNYA DARI MERAH PUTIH
Mengenal Materai, Penanda Pengesahan Dokumen
Hiburan & Gaya Hidup
Dwayne Johnson Sebagai Black Adam Bikin DC FanDome Ramai
ShowBiz
Dwayne Johnson Sebagai Black Adam Bikin DC FanDome Ramai

Black Adam aka Dwayne 'The Rock' Johnson akan meramaikan DC FanDome.

4 Tipe Orang yang akan Membeli iPhone SE Terbaru
Fun
4 Tipe Orang yang akan Membeli iPhone SE Terbaru

Ponsel pintar iPhone SE memang berbeda dengan produk ponsel pintar Apple lainnya.

5 Roller Coaster Ini Bikin Jantung Hampir Copot, Berani Naik?
Fun
5 Roller Coaster Ini Bikin Jantung Hampir Copot, Berani Naik?

Roller coaster paling menakutkan di dunia ini cocok bagi para penikmat adrenalin.

Pertama di Dunia, Hotel Berlapis Emas
Travel
Suara Disko dan Diskoria Gelar Pesta Virtual 'Siar Suara Gelombang Maya'
Fun
Suara Disko dan Diskoria Gelar Pesta Virtual 'Siar Suara Gelombang Maya'

Pesta tersebut akan disiarkan lewa kanal YouTube dan akun Twitch Suara Disko.

Dokumenter 'Robin's Wish' Tampilkan Hari-hari Terakhir Robin Williams
Fun
Dokumenter 'Robin's Wish' Tampilkan Hari-hari Terakhir Robin Williams

Film dokumenter ini akan dirilis pada 1 September 2020 di Amerika Serikat.

Yuk Simak Program Belajar Lewat TV, Radio dan Online Saat #DiRumahAja
Fun
Yuk Simak Program Belajar Lewat TV, Radio dan Online Saat #DiRumahAja

Yuk Simak Program Belajar Lewat TV, Radio dan Online Saat #DiRumahAja

Fashion Show Ditunda, Dior Buat Miniatur Koleksi Adibusana
Fashion
Fashion Show Ditunda, Dior Buat Miniatur Koleksi Adibusana

Koleksi miniatur adibusana ini diilhami oleh tokoh-tokoh perempuan surealis, seperti Dora Maar, Leonora Carrington, dan Lee Miller.