Kereta Cepat Harus Utamakan Keselamatan Penumpang Menteri BUMN Rini Soemarno (ketiga kiri), Dubes China untuk Indonesia Xie Feng (kedua kiri) berjabat tangan usai pembukaan Pameran Kereta Cepat dari Tiongkok di Jakarta, Kamis (13/8). (Foto Antara)

MerahPutih, Bisnis-Pemerintah Jepang dan Tiongkok tengah berkompetisi untuk memenangkan proyek kereta cepat Trans Jakarta-Bandung (High Speed Train/HST) senilai US$6,7 miliar atau Rp60 triliun dengan rel sepanjang 150 kilometer. Jarak Jakarta-Bandung dapat ditempuh hanya dalam tempo 30 menit. 

Menteri Perhubungan Ignasius Jonan menekankan bahwa yang terpenting adalah keselamatan penumpang kereta. Mantan Dirut PT KAI ini menyatakan keselamatan penumpang adalah harga mati. 

"Yang terpenting adalah safety. Keselamatan penumpang tidak diukur dari biaya," ujar Jonan sambil berjalan menuju lift elevator di kantor Kementerian Perekonomian, Jakarta Pusat, Rabu (2/9).

Sebelumnya, Jepang dan Tiongkok membuat studi kelayakan kereta cepat, yang saat ini masih dipelajari Pemerintah Indonesia. Dalam proposal skema proyek kereta api cepat Jakarta-Bandung tersebut, pemerintah Tiongkok mengajukan biaya US$4 miliar dengan bunga pinjaman 2 persen selama 25 tahun. Pengelola merupakan konsorsium antara pihak Indonesia dan Tiongkok. 

Sementara, Jepang mengajukan biaya lebih murah, yakni US$3,3 miliar dengan masa pinjaman (tenor) 40 tahun dan bunga pinjaman 0,1 persen per tahun. Cicilan pinjaman mulai dibayarkan setelah 11 tahun kereta beroperasi. Komponen akan dproduksi di dalam negeri.  (rfd)

Meski bertumbuh cepat, kereta cepat buatan Tiongkok pernah menorehkan sejarah buram dalam peta transportasi mereka. Dua kereta super cepat di jalur KA Ningbo-Taizhou, Wenzhou bertabrakan di Shuanyu, Zhejiang sehingga keluar dari rel. Dalam peristiwa kecelakaan akibat kematian sistem kelistrikan mendadak itu sedikitnya 36 orang tewas dan 192 lainnya luka-luka.

Di sisi lain, kereta cepat produksi Jepang, Shinkansen belum pernah mengalami kecelakaan berakibat fatal sejak dioperasikan 40 tahun lalu. Namun, salah seorang penumpang terjepit pintu kereta di Jepang. Kereta cepat buatan Jepang dilengkapi sistem pendeteksi gempa, yang akan menghentikan jalannya kereta secara otomatis jika terjadi gempa. Pada 2004 silam, kereta Shinkansen terlepas dari rel saat terjadi gempa, tapi tidak ada korban luka-luka dalam peristiwa ini.  

Menteri BUMN Rini Soemarno menyatakan, pihaknya lebih memilih Tiongkok daripada Jepang untuk mengoperasikan kereta cepat Trans Jakarta-Bandung. Pasalnya, Tiongkok tidak meminta jaminan. Selain itu, pihak Tiongkok akan melakukan transfer teknologi. 

"Jadi tidak ada beban bagi pemerintah Indonesia," katanya. 

Saat ditanya, Rini mengatakan pemerintah belum memutuskan pemenang proyek ini. "Belum, kita masih review," tukasnya sambil bergegas. (rfd)  

Baca Juga: 

Proyek Kereta Cepat Tidak Dibiayai dari APBN 

Tiongkok Sebut Berpengalaman Bangun Kereta Cepat di Daerah Beriklim Tropis 

Tiongkok Tawarkan Bangun Stasiun di Halim



Luhung Sapto

LAINNYA DARI MERAH PUTIH