Kerap Berkamuflase, Identifikasi Pelaku Teror Tak Hanya Bermodal Pakaian Polisi berjaga pascabom bunuh diri di Mapolrestabes Medan, Sumut, Rabu (13/11/2019). (ANTARA FOTO/Irsan Mulyadi/aww)

MerahPutih.com - Pengamat terorisme dari UIN Jakarta M Zaki Mubarak melihat bahwa tidak bisa mengidentifikasi pakaian atau penampilan seseorang sebagai teroris.

"Saya kira model seperti ini akan bervariasi, bisa menggunakan perempuan dan anak-anak, kamuflase dalam bentuk ojol, orang yang kecurian motor dan sebagainya," ujar Zaki kepada wartawan dalam diskusi Perspektif Indonesia, di kawasan Kebon Sirih, Jakarta, Sabtu (16/11).

Baca Juga:

Pengamat: 80 Persen Pelaku Serangan Teror Terkoneksi JAD, Termasuk di Medan

Menurut Zaki, hal itu membuat semakin sulit dideteksi kepolisian. Aparat keamanan tidak memantau dan menganggap mereka sebagai orang yang potensial melakukan aksi teror.

Satuan Brimob Polri saat penangkapan terduga teroris di Tangerang Selatan. (MP/Rizki Fitrianto)
Satuan Brimob Polri saat penangkapan terduga teroris di Tangerang Selatan. (MP/Rizki Fitrianto)

Zaki juga menambahkan, terorisme yang dikenal sebagai lone wolf atau bekerja sendiri sulit dideteksi karena tidak punya struktur dan tidak juga terkait dengan struktur JAD.

"Teroris sekarang menggunakan strategi yang sederhana tapi efektif. Misalnya yang di Wonokromo ngakunya kehilangan motor. Kemudian mau ketemu polisi untuk laporan, ternyata itu hanya dalih. Di medan kamuflasenya kan sederhana, pakai jaket ojek online. Karena ojol kan lalu lalang, ada yang kirim makanan, kirim barang, antar orang jadi tidak terdeteksi," sambungnya.

Lalu masalah pelibatan perempuan dan anak-anak dalam aksi pengeboman, menurut Zaki, karena kurangnya peran laki-laki dalam kelompok-kelompok tersebut.

"Di Indonesia kekurangan sumber daya. Karena aktivis laki-laki itu banyak yang masuk penjara, atau banyak yang tewas, kemudian mereka menggunakan sumber daya yang siap. Maka perempuan dan anak-anak diajak untuk melaksanakan itu," kata Zaki.

Baca Juga:

Pengamat Ungkap "Nuansa Lokal" Serangan Teror yang Berbeda dari Titah Pimpinan ISIS

Zaki mencontohkan kelompok Jamaah Islamiyah (JI) yang juga masih ada di Indonesia.

Jaringan yang sempat menggegerkan Indonesia pada periode 2004 hingga 2009 itu disebut Zaki tak pernah menarget polisi sebagai pihak yang harus diberantas.

Satuan Brimob Polri saat penangkapan terduga teroris di Tangerang Selatan. (MP/Rizki Fitrianto)
Satuan Brimob Polri saat penangkapan terduga teroris di Tangerang Selatan. (MP/Rizki Fitrianto)

Justru saat ini, kata dia, JI punya pola baru. "Mereka punya konsentrasi untuk membangun laskar di beberapa tempat dan dakwah untuk membangun ideologi di masyarakat," kata Zaki.

Sedangkan JAD, menurut Zaki, lebih banyak melakukan aksi yang mereka sebut sebagai jihad atau serangan kepada thogut. Apalagi, JAD merupakan kepanjangan tangan dari kelompok teror ISIS yang ada di Suriah.

"Sekitar 80 persen pelaku serangan teror itu terkoneksi dengan JAD, baik secara struktural maupun secara fungsional," kata Zaki. (Knu)

Baca Juga:

Keterlibatan Perempuan dalam Aksi Teror di Medan sebagai Strategi ISIS



Zulfikar Sy

LAINNYA DARI MERAH PUTIH