Kisah Inspiratif
Kepala Tegak Bersama Lakukan Lompatan Besar Lalui Pandemi Presiden Joko Widodo bicara tentang 'lompatan besar' dalam pidato pada sidang tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR-DPD di Komplek Parlemen Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2020). (ANT/Akbar Nugroho Gumay)

MAAF enggak diperpanjang. Kalimat itu bagai petir di siang bolong bagi Adit, ketika menanyakan nasib kontrak kerjanya siang itu ke bagian personalia kantornya. Perusahaan tempat Adit bekerja memang telah merumahkan sejumlah karyawannya, bahkan terpaksa melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat pandemi COVID-19 yang melanda sejak Februari 2020 lalu.

Walaupun Adit sadar satu-persatu dirinya atau rekan sejawatnya tinggal menunggu giliran, kabar PHK tetap saja sempat membuat dunianya seolah runtuh hari itu. Apalagi, istrinya tengah hamil tua menunggu kelahiran anak pertamanya. Tak mau takluk oleh keadaan, dia langsung memutar otak. Desainer grafis itu bertekad merintis usaha sendiri dengan modal pesangon yang diterimanya.

Baca Juga:

Antiboros, Jurus Waras Finansial Pandemi

"Aku izin pakai uang pesangon untuk beli iMac ya. Aku mau kencengin usaha freelance," kenang Adit, mengutip ucapannya saat meminta persetujuan sang istri siang itu sekitar dua bulan yang lalu, ketika berbincang dengan MerahPutih.com, Selasa (13/10).

Ilustrasi: Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di tengah pandemi dapat memicu stres dan gangguan psikologi (Foto: pixabay/geralt)

Hari itu usai membeli komputer sesuai spesifikasi kebutuhan edit video dan desain, Adit langsung menemui teknisi di kantornya untuk minta tolong memasang program aplikasi yang diperlukan, sekaligus pamitan. Hari itu juga dia memulai usaha freelance dan langsung mengontak teman-temannya yang mungkin membutuhkan jasanya.

Perjuangan Adit pun mulai menuai hasil. Dua bulan berselang hampir tiap pekan ada saja proyek editing atau grafis yang dikerjakannya. Bahkan, dia mampu menabung untuk persiapan biaya persalinan istrinya di tengah kondisi sulit pandemi saat ini. Baginya, kehilangan pekerjaan saat pandemi COVID menjadi pengalaman pahit yang tak boleh terulang.

Adit pun berkomitmen akan berjuang di atas kaki sendiri, bekerja secara mandiri dan tak lagi bergantung pada perusahaan. Apalagi dengan berwiraswasta, dia lebih punya banyak waktu menemani istri yang hamil tua. "I am the master of my fate. I am the captain of my soul (Saya adalah penguasa takdir saya. Saya adalah kapten dari jiwa saya)," demikian pedoman hidupnya yang kini.

Kreatif Melihat Peluang

Kisah berbeda dialami Komaruddin Bagja Arjawinangun, jurnalis media online di Jakarta. Pandemi COVID-19 memicu ide kreatif mencari peluang penghasilan tambahan. Dia merintis usaha jamu tradisional dari rempah rempah seperti jahe, temulawak, kunyit, dengan memilih merek dagang Mponix, singkatan dari empon-empon mix. Produk berbentuk bubuk ini dikemas dalam toples kecil bersegel. Untuk mengonsumsinya cukup diseduh air panas mirip menyeduh kopi instan.

Bersama istri, Bagja menekuni bisnis ini sejak Maret lalu, tepatnya saat awal-awal pandemi COVID melanda Indonesia. Metode penjualannya melalui Instagram @Griya_Alamia, Tokopedia dan pemesanan Whatsaap. Lewat bisnis yang dijalaninya, dia merasa terbantu mengelola perasaan agar tetap waras saat pandemi ini dan sekaligus tetap bisa produktif.

Komaruddin Bagja Arjawinangun
Komaruddin Bagja Arjawinangun menunjukkan produk herbal Mponix yang dijualnya. (MP/Kanugrahan)

Selain berbisnis dan ikut membantu orang agar hidup sehat saat pandemi ini, Bagja sekaligus ingin mengingatkan Indonesia sebagai surganya rempah-rempah dunia. "Karena bangsa kita punya segala macam sumber daya alam untuk dijadikan obat. Minuman ini bukan untuk menyembuhkan COVID tapi untuk menyehatkan orang," tutur Ketua Jurnalis Jakarta Pusat ini, ketika berbincang dengan MerahPutih.com.

Bahan baku meracik herbal didapat Bagja dari Purbalingga dan Solo. Saat ditanya soal penghasilan, dia buka-bukaan pendapatannya berjualan Mponix bahkan lebih tinggi daripada gajinya sebagai kuli tinta. "Omzet rata rata Rp5 juta per bulan dan keuntungan bersih," ungkap warga Bekasi, yang juga memiliki usaha bekam itu.

Guyub Bangkit Bersama

Barista Asuh
Nabila Sintya Dewi (tengah) barista asuh yang sempat nge-shif di Obar Cafe, Bali, bersama rekan-rekan sejawatnya. (Dok: Barista Asuh/Obar Cafe)

Pandemi COVID-19 memang memukul dunia usaha dan kondisi perekonomian di tanah air. Namun, budaya guyub bangsa Indonesia terbukti mampu bertahan di tengah pandemi, malah semakin kuat. Setidaknya itu yang dibuktikan komunitas Barista Guild of Indonesia (BGI). Hampir saban hari, pengurus BGI menerima laporan ada barista yang jadi korban PHK. Totalnya sudah ratusan lebih barista dirumahkan. Coffee shop tempat mereka bekerja tak lagi kuat menghadapi pandemi COVID-19. Tumbang. Tutup atau bangkrut. Fenomena ini membuat Yudistira Bawono dan koleganya di komunitas industri kopi terus putar otak: bagaimana caranya ikut berkontribusi menjaga industri kopi Tanah Air tetap kuat melawan pandemi dan memberi semangat para barista korban PHK. Hasil dari diskusi mereka akhirnya tercetuslah ide: Barista Asuh yang dimulai sejak Mei lalu.

Barista Asuh sebuah gerakan mengajak pengusaha coffee shop yang masih bertahan di tengah pandemi mau “mengadopsi” barista korban PHK. Maksud “mengadopsi” adalah memberikan kesempatan satu shift perminggu bekerja untuk barista itu. “Tapi terkait jumlah shift, jangka waktu dan mekanismenya bisa ditentukan masing-masing coffee shop,” kata Yudis, sapaan akrab pengurus BGI itu.

Baca Juga:

Omzet Obar Cafe Bali Naik Drastis Saat Jalankan Program Barista Asuh

Inti dari gerakan ini menjaga semangat para barista yang dirumahkan, sekaligus menyambung tali silaturahmi dan tetap mendapat pemasukan. Lantas apa manfaat bagi coffee shop yang mengasuh barista? Nah, dengan ikut gerakan Barista Asuh, coffee shop juga jelas mendapatkan keuntungan. Barista yang ikut program otomatis mengumumkan di media sosialnya tentang coffee shop pengasuhnya. Selain dapat tambahan exposure media sosial, para pelanggan tetap barista itu akan membeli produk coffee shop.

Di sisi lain, barista dan coffee shop juga bisa saling belajar dan tukar pengalaman ilmu perkopian. Dengan begitu, ekosistem industri kopi ini tetap terjaga. Makin kuat menghadapi pandemi. Berdasarkan data terakhir sudah ada 45 Coffee Shop di seluruh Indonesia yang bergabung gerakan Barista Asuh.

Nabila Sintya Dewi yang sempat menjadi korban PHK atau dirumahkan karena pandemi COVID-19 merasakan langsung manfaat gerakan Barista Asuh. Sejak 31 Mei, dia resmi menjadi barista asuh di Obar Cafe Bali tepat seminggu setelah mendaftar. Tak hanya kembali mendapatkan penghasilan, dia pun dapat mengasah kemampuannya sebagai barista.

"Setelah sekian lama akhirnya bisa nge-bar lagi. Pengunjung tidak putus-putusnya berdatangan silih berganti. Rame banget!” ungkap Nabila, saat tampil dalam acara ngobrol bareng di live IG MerahPutih.com, 13 Juni lalu, tentang program Barista Asuh.

Nabila
Nadyah Febriyanti mendapat banyak ilmu dan pengalaman berharga saat menjadi barista asuh di Kopi Lima Detik (Foto: Dok Barista Asuh)

Peserta Barista Asuh lainnya Nadyah Febriyanti mengungkapkan gerakan ini menjadi jawaban keresahannya setelah hampir 3 bulan dirumahkan dari coffee shop tempatnya bekerja akibat pandemi. Tiga bulan lepas dari rutinitas sebagai barista membuat dirinya rindu akan suasana coffee shop sehingga akhirnya berinisiatif mendaftarkan diri ikut program.

"Terus saya kaget juga di-whatsapp disuruh nge-shift dikasih tahu feenya. Alhamdulillah banget," tutur perempuan yang jadi anak asuh di Kopi Lima Detik itu. "Seneng banget, soalnya saya lagi kangen nge-shift, Alhamdulilah bisa ketemu mesin lagi, bisa kalibrasi lagi. Kangen!"

Akhir kata, Nadyah berharap gerakan Barista Asuh ini bisa ditiru dan diadaptasi di komunitas atau lini profesi lainnya, khusus dalam menjangkau mereka di luar sana yang dirumahkan akibat pandemi. "Selain dapat ilmu dan pengalaman, juga bisa dapat pemasukan. Terima kasih Barista Asuh," ujar dia.

Lompatan Besar

Jejak langkah Adit, Bagja dan Gerakan Barista Asuh mengingatkan COVID-19 bukan akhir dunia. Selama ada kemauan, kreativitas dan dengan kekuatan bersama mampu menaklukan dampak pandemi dan semua efek turunan dengan kepala tegak. Mereka telah menunjukkan ketangguhan dan optimisme nyata, yang berjalan beriringan dengan program-program yang digulirkan pemerintah dalam mengatasi dampak ekonomi akibat COVID-19.

Barangkali, pidato Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR-DPD Tahun 2020, menjelang puncak HUT Ke-75 RI yang jatuh 17 Agustus lalu, tentang "membajak momentum" mendapatkan seberkas wujud dari jejak orang-orang tangguh seperti mereka. Ketika itu, Presiden menegaskan pandemi sekarang ini menjadi waktu tepat untuk membajak momentum krisis agar bisa melakukan berbagai lompatan besar, termasuk dalam usaha ekonomi dan investasi.

Apa yang dilakukan Adit, Bagja dan Gerakan Barista Asuh mungkin masih langkah awal dalam mengepakan sayap bangkit di tengah deraan pandemi. Namun, apa yang mereka tunjukan layak menjadi inspirasi optimisme dunia belum kiamat, langit akan kembali terang dan perekonomian akan lebih baik. "Saatnya kita bajak momentum krisis untuk melakukan lompatan-lompatan besar," mengutip semangat Presiden Jokowi dalam pidatonya kala itu di hadapan para wakil rakyat. (TIM)

Baca Juga:

Lebih dari Tiga Kali Jokowi Serukan 'Membajak Momentum Krisis' Saat Pidato Kenegaraan

LAINNYA DARI MERAH PUTIH
Kendaraan Tanpa 'Surat Sakti' yang Coba Masuk DKI Terus Meningkat, Tembus 3.000 Unit
Indonesia
Kendaraan Tanpa 'Surat Sakti' yang Coba Masuk DKI Terus Meningkat, Tembus 3.000 Unit

9 titik pos pemeriksaan SIKM di wilayah Jakarta merupakan penyekatan lapis pertama

 Oknum Polisi Diciduk Dalam Kasus Novel Diharapkan Tidak 'Pasang Badan' Tutupi Aktor Utama
Indonesia
Oknum Polisi Diciduk Dalam Kasus Novel Diharapkan Tidak 'Pasang Badan' Tutupi Aktor Utama

Menurut Alghiffari harus dipastikan bahwa keduamya bukanlah orang yang "pasang badan" untuk menutupi pelaku yang perannya lebih besar.

Polisi Bakal Tindak Tegas Pelaku Sweeping Atribut Natal
Indonesia
Polisi Bakal Tindak Tegas Pelaku Sweeping Atribut Natal

Polda Metro Jaya mengingatkan ormas untuk tidak melakukan aksi sweeping saat perayaan Natal.

[HOAKS atau FAKTA]: Adidas Bagikan Ribuan Sepatu hingga Kaos Gratis
Indonesia
[HOAKS atau FAKTA]: Adidas Bagikan Ribuan Sepatu hingga Kaos Gratis

Melalui pesan bernatai WhatsApp, beredar informasi mengatasnamakan Adidas terkait dengan pembagian hadiah secara gratis.

KPK Belum Terima Salinan Putusan Korting Hukuman Koruptor dari MA
Indonesia
KPK Belum Terima Salinan Putusan Korting Hukuman Koruptor dari MA

KPK mengaku belum menerima salinan putusan 22 koruptor yang hukumannya dikorting oleh Mahkamah Agung (MA) lewat putusan Peninjaun Kembali (PK)

Iuran BPJS Naik, Pengamat: Jangan Salahkan Jokowi, Tapi Pembisiknya
Indonesia
Iuran BPJS Naik, Pengamat: Jangan Salahkan Jokowi, Tapi Pembisiknya

Presiden memang harus cepat mengambil sikap

Begini Pernyataan PT KAI Terkait Penipuan Rekrutmen Jabatan Kepala Stasiun
Indonesia
Begini Pernyataan PT KAI Terkait Penipuan Rekrutmen Jabatan Kepala Stasiun

KAI menyayangkan aksi penipuan puluhan sarjana pencari kerja dengan iming-imingan sebagai kepala stasiun dan beberapa jabatan penting lainnya.

Hadi Pranoto Polisikan Balik Pelapor, Dalihnya Terhina Dibilang Profesor
Indonesia
Hadi Pranoto Polisikan Balik Pelapor, Dalihnya Terhina Dibilang Profesor

Kuasa Hukum mengklaim Hadi Pranoto tidak pernah mengaku bergelar profesor

 Tidak Disiplin, Agustus Indonesia Masih Dicengkeram Pandemi COVID-19
Indonesia
Tidak Disiplin, Agustus Indonesia Masih Dicengkeram Pandemi COVID-19

"Optimisme kita untuk meredakan Covid-19 di bulan Juni-Juli adalah tantangan kita bersama, sebab kuncinya adalah disiplin kita semua," ucap Yuri.

Pidana dan Pengembalian Dana Ancam Pendaftar Kartu Prakerja
Indonesia
Pidana dan Pengembalian Dana Ancam Pendaftar Kartu Prakerja

Program diberikan kepada pencari kerja, pekerja atau buruh yang terkena PHK, pekerja atau buruh yang membutuhkan peningkatan kompetensi kerja serta peningkatan kompetensi.