Kepala Manyung Bu Fat, Bumbunya Menghipnotis Lidah Kepala Manyung Bu Fat (Foto: MP/Ikhsan Digdo)

CUACA Selasa (24/9) siang begitu panas. Seperti biasa, begitulah keadaan kota Jakarta. Tidak hanya membuat haus, cuaca panas ini juga bikin perut lapar. Ya, karena memang sudah waktunya jam makan siang juga sih.

Merahputih.com siang ini memang berencana menyantap makan siang di Jalan Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Sepanjang jalan raya ini banyak rumah makan berjejer. Ada masakan Padang, restoran cepat saji, hingga akhirnya restoran yang menjadi tujuan kami, Kepala Manyung Bu Fat. Alamat tepatnya berada di Jalan Cempaka Putih No 19.

Baca juga:

Lezatnya Menu Baru Talaga Sampireun Ala William Wongso

Kamu yang pernah jalan-jalan ke Semarang kemungkinan besarnya tahu rumah makan ini. Cabang pertama rumah makan ini ada di Semarang. Berdiri pertama kali di Jalan Ariloka, Semarang pada tahun 1969. Milik mendiang Ibu Fatimah. Sementara cabang keduanya berada di Jalan Sukun Raya, Semarang.

Rumah makan berinterior tradisional ini punya menu khas, kepala ikan manyung. Ikan laut yang memiliki moncong seperti ikan lele. Menu khasnya bukan satu ekor ikan utuh, tapi bagian kepalanya saja. Makanya, nama menunya ialah kepala ikan manyung.

Kepala Ikan Manyung (Foto: MP/Ikhsan Digdo)

Pemilik rumah makan ini Banik Yoandanny langsung menyambut kedatangan kami. Dia merupakan cucu mendiang Ibu Fatimah. Generasi ke-3 keluarga besar Fatimah. "Jadi ini cabang ke-3. Kita baru buka di jalan Cempaka Putih Raya ini pada bulan Maret tahun ini," ujar Banik kepada Merahputih.com.

Tanpa menunggu lama. Banik langsung mempersilakan kita menyantap makan siang. Tentu, kami memesan kepala ikan manyung. Kami tidak memesan langsung ke pelayan karena rumah makan ini menyuguhkan masakan mereka dengan cara bufet.

Menu bufetnya juga beragam. Selain ikan manyung, ada makanan-makanan Indonesia lainnya, seperti ayam goreng, mendoan, peyek udang, orek tempe, perkedel hingga kerupuk. Semua dijejerkan di meja bufet itu. Kesan tradisional semakin mengental karena ada alunan suara angklung juga di area bufet.

Kami mengambil satu porsi kepala ikan manyung. Ukuran paling kecil. Serta lauk lain yang menjadi "teman" menyantap kepala ikan manyung (disarankan Banik). "Makan kepala ikan manyung paling enak dengan bunga pepaya dan peyek udang," kata Banik. Kepala ikan manyungnya dicelupkan dulu ke kuah santan untuk dihangatkan oleh pelayan sebelum disajikan.

Disajikan secara bufet (Foto: MP/Ikhsan Digdo)

Di meja bufet juga tersedia empat pilihan sambal. Sambal matah, sambal terasi, sambal kecombarang, dan sambal bawang. Tapi, kalau mau menyantap kepala ikan manyung. Banik tidak menyarankan menggunakan sambal. Kepala ikan manyung sudah disajikan bersama kuah santan pedas. "Jadi supaya kepedasan dari kuahnya asli," saran lulusan Teknologi Informasi itu.

Akhirnya di meja makan kami sudah tersedia satu porsi ikan manyung. Beserta peyek udang dan bunga pepaya. Serta segelas es teh manis yang begitu menyegarkan. Rasa manisnya juga pas, tidak terlalu manis dan tidak terlalu tawar.

Kami pun menyantap ikan manyung ini. Meskipun kepala ikan, dagingnya sangat banyak. Seperti makan daging sapi. Jadi bentuk penyajiannya kepala ikan manyung ini dibelah dua. Tidak lupa, sepiring nasi putih juga kami siram dengan kuah ikan manyung tadi. Nasinya jadi tambah lezat dan gurih.

Baca juga:

Fried Chicken Master, Cita Rasa Ayam Goreng Tepung Khas Taiwan Hadir di Blok M Plaza

Bumbu kepala ikan manyung ini begitu menyerap di lidah. Tidak amis sama sekali seperti makan daging ikan lainnya. Rupanya, rahasia begitu menyerapnya bumbu kepala ikan manyung ini. Serta bisa tidak amis ada di cara pengolahannya.

Sebelum disajikan, kepala ikan manyung akan direbus terlebih dulu di kuah santan (Foto: MP/Ikhsan Digdo)

Cara mengolahnya melalui tiga tahapan. Pertama diasap. Lalu di rebus. Terakhir barulah dicelupkan di kuah mangut sambil direbus lagi. Kepala ikan manyung di rumah makan ini juga dikirim langsung dari Semarang. Kata Banik, ikan manyung dari Semarang memiliki kualitas nomor satu. "Yang paling penting, tidak mengandung formalin," paparnya.

Pengasapannya juga dilakukan di Semarang. Agar tidak mengganggu orang banyak di sekitar rumah makan ini. Soalnya bisa timbul bau ikan jika seseorang terkena asap dari pengasapannya. "Kita punya tempat khusus sendiri untuk pengasapan ikan manyung di Semarang. Setelah itu baru kita bekukan dan kirim ikan manyung dari Semarang menggunakan bis," tuturnya.

Sekadar saran. Paling nikmat menyantap ikan manyung sambil menyeruput kuah santan pedas tadi. Potek dulu dagingnya. Santap dengan nasi. Lalu seruput kuahnya. Kuahnya benar-benar segar. Bikin mata melek.

Sambil menyantap ikan manyung. Kami juga memperhatikan interior rumah makan ini. Jika diperhatikan seksama. Makan di rumah makan ini serasa seperti berada di Semarang. Di bagian dinding ada wallpaper lawang sewu. Tersedia juga area makan lesehan.

Bisa lesehan (Foto: MP/Ikhsan Digdo)

Rumah makan ini memang cocok untuk keluarga. Saat itu, ada banyak juga keluarga yang makan siang di sini. Rata-rata dari mereka juga penasaran dengan menu andalan itu. Mereka juga memesan kepala ikan manyung. Mereka tampak lahap betul saat menyantap kepala ikan manyung.

Menu kepala ikan manyung juga tersedia dalam beberapa ukuran. Yang kami makan ukuran paling kecil, hanya untuk satu orang. Lalu ada yang ukuran sedang, untuk dua orang. Satu lagi ada ukuran besar, untuk empat orang. Dua ukuran lagi ialah ukuran jumbo, untuk 4-5 orang. Ukuran super jumbo untuk 5-6 orang. Tapi, tidak setiap hari semua ukuran itu tersedia.

Satu porsi kepala ikan manyung ukuran kecil sangat mengenyangkan. Perut kami terasa penuh. Belum lagi makan nasi di rumah makan ini bisa sepuasnya. Sekuat apa pun perut kamu menampungnya silakan ambil terus nasinya.

Jadi bagaimana sahabat Merah Putih, sudah ngiler dengan kepala ikan manyung Bu Fat? (Ikh)

Baca juga:

Makanan Jepang Bernama Soba, Mirip Udon Tapi Berbeda

Kredit : digdo

Tags Artikel Ini

Ikhsan Digdo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH