Kenapa Imlek Identik dengan Warna Merah dan Kembang Api? Muhamad Iwan Subakti tokoh etnis Tionghoa Serang (MP/Sucitra)

Perayaan tahun baru Cina alias Imlek, identik dengan warna merah dan kembang api. Ada cerita menarik dibalik dominasi warna merah dan kemeriahan kembang api dalam perayaan awal tahun orang-orang Tionghoa.

Salah satu warga keturunan etnis Tionghoa Kota Serang Muhamad Iwan Subakti yang kini memeluk agama Islam mengatakan, ada dua cerita yang melatar belakangi dominasi warna merah, terutama pakaian orang Tionghoa, juga kembang api tersebut.

Ketika musim semi tiba, hasil panen dan hewan ternak nenek moyang orang-orang Tionghoa habis disantap hewan raksasa yang disebut Nian, bentuknya seperti singa dengan cakar dan taring yang besar. Untuk keselamatan, mereka mempersembahkan sesaji untuk Nian di depan pintu rumah masing-masing.

Salah satu menu Imlek
Menu Imlek (MP/Sucitra)

"Suatu hari penduduk melihat Nian lari terbirit-birit karena melihat bocah berpakaian cheongsam (pakaian tradisional Cina) dengan warna merah,"katanya kepada merahputih.com, Jumat (27/1).

Sementara mengenai kembang api, asalnya dari peristiwa terbakarnya ladang bambu, yang menimbulkan bunyi letusan-letusan dari api yang membakar bambu "Nian lari tunggang langgang, sejak itulah masyarakat membakar kembang api saat musim semi tiba," ungkapnya.

Jadi warna merah yang mendominasi terutama pada pakaian, juga pembakaran kembang api berasal dari dua peristiwa tersebut untuk mengusir Nian. Tetapi Nian kerapkali kembali, sampai akhirnya ditaklukan oleh seorang pendeta Tao bernama Honjun Laozu, dan dijadikan tunggangannya.

Berita ini berdasarkan laporan dan wawancara Sucitra De, reporter sekaligus kontributor merahputih.com untuk wilayah Banten dan sekitarnya.


Tags Artikel Ini

Eddy Flo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH