Kenali Pharmacovigilance Biar Tak Salah Konsumsi Obat Kenali reaksi obat tertentu pada tubuhmu. (Foto: Pixabay/stevepb)

MANUSIA memiliki reaksi biologis berbeda terhadap produk obat. Itulah sebabnya mengapa tidak semua produk obat memberi efek samping serupa untuk setiap orang. Hal tersebut membuat kita perlu merinci dan mencatat sebanyak mungkin reaksi – reaksi yang merugikan betapapun ringan reaksinya terhadap tubuh.

"Besar kecilnya presentase reaksi obat yang terlihat secara absolut sangat penting bagi keselamatan pasien dan produksi obat berkelanjutan," tutur Ketua International Soceity of Pharmacovigilance (ISoP) Indonesia. Dalam dunia medis hal tersebut dikenal dengan istilah pharmacovigilance.

Baca Juga:

Bolehkah Minum Susu Setelah Minum Obat? Ini Faktanya

obat
Pharmacovigilance berhubungan dengan obat-obatan. (Foto: Pixabay/Mizianitka)

World Health Organization mendefinisikan pharmacovigilance sebagai ilmu dan aktivitas yang berhubungan dengan pendeteksian, penilaian, pemahaman dan pencegahan kejadian tidak diinginkan (adverse effects) atau kejadian lainnya yang terkait dengan penggunaan obat.

Dokter Jarir menjelaskan kegiatan Pharmacovigilance seputar pengumpulan laporan dugaan efek yang tidak diinginkan (suspected adverse reaction).

"Efek samping (adverse reaction) juga merupakan respons terhadap produk pengobatan (medical products) yang berbahaya dan tidak diinginkan. Termasuk yang ditimbulkan pada kondisi penggunaan sesuai izin edar yang disetujui. Penggunaan di luar izin yang disetujui termasuk penggunaan dalam dosis berlebih. Penggunaan di luar indikasi (off-label use). Penggunaan yang tidak tepat (misuse). Penyalahgunaan (abuse) dan kesalahan pengobatan (medication error), serta paparan akibat pekerjaan (occupational exposure)," urai dokter Jarir.

Baca Juga:

Dari Alami Hingga Medis, Yuk Intip Pilihan Obat Batuk Berdahak yang Ampuh

obat
dr. Jarir At Thobari, D.Pharm., PhD jelaskan pentingnya pharmacovigilance. (Foto: Istimewa)

Pharmacovigilance dapat didefinisikan sebagai proses yang meliputi langkah-langkah seperti mengumpulkan informasi tentang sifat, karakteristik klinis dan efek samping dari obat, mendokumentasikan dan menganalisis data kejadian tidak diinginkan/efek samping yang dikumpulkan untuk mendeteksi hubungan antara obat dan kejadian tidak diinginkan.

Untuk mendukung kelancaran berbagai proses kegiatan pharmacovigilance, dokter Jarir mengatakan pentingnya partisipasi langsung dari masyarakat yang turut mengonsumsi obat-obatan terkait. "Sebelum didistribusikan ke pasar, semua obat memang telah diuji klinis dengan melibatkan sukarelawan tetapi jumlahnya terbatas. Dengan berbeda-bedanya reaksi obat terhadap tubuh seseorang, itu tidak bisa dijadikan acuan bahwa obat tidak berefek apapun," jelasnya.

Beberapa reaksi yang lazim timbul saat mengonsumsi obat misalnya jantung berdetak cepat, keringat dingin, sakit perut dan lain sebagainya. "Kalau merasakan hal tersebut, segera laporkan pada dokter agar dokter tahu tindak lanjutnya harus seperti apa," tukasnya. (avia)

Baca Juga:

5 Obat Herbal Atasi Ingatan Pendek

Kredit : iftinavia

Tags Artikel Ini

Paksi Suryo Raharjo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH