Kenali penyebab Resistensi Antibiotik Dr. dr. Hari Paraton SpOG(K) (Foto: MP/Iftinavia Pradinantia)

KESADARAN masyarakat untuk menggunakan obat dengan dosis yang tepat dan aman masih rendah. Itu dibuktikan dengan tingginya angka penggunaan antibiotik tanpa resep di tengah masyarakat. Hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 menunjukkan 35.2% masyarakat menyimpan antibiotik yang
diperoleh tanpa resep.

Padahal penggunaan antibiotik yang asal itu sangat membahayakan tubuh karena menyebabkan resistensi antibiotik. World Health Organization mencatat resistensi antibiotik merupakan salah satu ancaman kesehatan global. Resistensi antibiotik diperkirakan telah mengakibatkan 700 ribu kematian di seluruh dunia.

Baca juga:

Siklus Haid Tidak Normal Indikasi Kondisi Kesehatan Serius

Lalu apa itu resistensi antibiotik?

Resistensi antibiotik adalah suatu keadaan dimana bakteri resisten dan tidak dapat dimatikan dengan antibiotik. Akibatnya, kemampuan tubuh dalam melawan penyakit menjadi rendah. Penyakit pun akan sulit disembuhkan dan penyebarannya sulit dihentikan.

Resistensi antibiotik bisa terjadi jika menyalahgunakan antibiotik (Foto: MP/Iftinavia Pradinantia)
Resistensi antibiotik bisa terjadi jika menyalahgunakan antibiotik (Foto: MP/Iftinavia Pradinantia)

Jika dibiarkan dapat mengakibatkan kecacatan dan berujung pada kematian. Proses resistensi bakteri terhadap penyakit berlangsung cepat apabila mengonsumsi antibiotik secara berlebihan.

Jika jumlah bakteri yang resisten terhadap antibiotik semakin banyak, ragam prosedur medis seperti transplantasi organ, kemoterapi, pengobatan diabetes, dan operasi besar menjadi sangat berisiko. Efek dari kondisi ini, pasien harus menjalani perawatan yang lebih lama dan menanggung biaya perawatan yang lebih mahal.

Baca juga:

Penggunaan Antibiotik Sebabkan Kecacatan

Dr. dr. Hari Paraton SpOG(K), Ketua Komite Pencegahan Resistensi Antimikroba menjelaskan ada empat penyebab munculnya resistensi antibiotik. Pertama, pemakaian berlebihan (overused). "Kurangnya kontrol dari pihak pemberi antibiotik maupun inisiatif pengguna antibiotik membuat pengguna mengonsumsi lebih dari dosis," jelasnya.

Kedua, penggunaan antibiotik tanpa indikasi (misused). Banyak orang yang memakai antibiotik tanpa anjuran dokter sehingga menimbulkan resistensi pada suatu antibiotik. Kemudahan mereka dalam mendapatkan antibiotik tanpa resep membuatnya bisa menggunakan tanpa petunjuk dokter.

Sering mengonsumsi antibiotik tak beraturan membuat kuman (Foto: Pixabay/nastya_gepp)
Sering mengonsumsi antibiotik tak beraturan membuat kuman (Foto: Pixabay/nastya_gepp)

Ketiga, penggunaan di bawah dosis yang dianjurkan (underused). "Resistensi antibiotik bisa juga terjadi jika seseorang yang seharusnya rutin minum antibiotik, tetapi tidak mematuhi petunjuk penggunaan tersebut," tuturnya.

Keempat, transmisi bakteri resisten di fasilitas kesehatan akibat abainya menjalankan kewaspadaan universal. “Aturan pengendalian antibiotik sudah dikeluarkan melalui Permenkes No 8 Tahun 2015, yang mengatur setiap rumah sakit diwajibkan memiliki tim PPRA dan menerapkan program-program pengendalian antibiotik," bebernya.

Menurutnya, tantangan utama dari menerapkan PPRA adalah konsistensi dari semua komunitas kesehatan terutama manajemen rumah sakit dalam mengimplementasikan aturan di lapangan. "Jangan hanya andalkan rumah sakit tetapi harus ada kesadaran dari masyarakat," tukasnya.

Baca juga:

Susu vs Yogurt, Manakah yang Lebih Sehat?


Tags Artikel Ini

Muchammad Yani

LAINNYA DARI MERAH PUTIH