Kenali Gejala Stockholm Syndrome Sindrom Stockholm berawal dari peristiwa traumatis. (foto: (Foto_ Pixabay_meelimello)

KAMU yang sudah menonton film Sebelum Iblis Menjemput 2 beberapa waktu lalu pastinya tidak terlalu asing dengan penyakit kejiwaan Stockholm syndrome. Beberapa artis ternama bahkan menggunakan nama penyakit ini sebagai judul lagu yang populer. Tak banyak yang tahu bahwa sindrom ini sama menyeramkannya dengan penyakit kejiwaan lain. Kamu tetap harus waspada.

Melansir Britannica.com, sindrom ini berawal dari peristiwa penyanderaan yang terjadi pada 1973. Saat itu, ada dua pria berusaha mencuri bank di Stockholm dan menyandera empat karyawan selama enam hari. Namun, peristiwa itu rupanya membuat para korban menunjukkan perasaan positif dan setuju kepada para pencuri. Pengidap sindrom ini bahkan bisa menggantungkan hidupnya kepada sang penyandera. Kira-kira apa ya penyebabnya?

BACA JUGA: Mitos Menstruasi yang Tidak Benar, Nomor 4 Mengejutkan

1. Takut

takut
Ketakutan yang cukup besar bisa menyebabkan trauma. (Foto_ Pixabay_Free-Photos)

Penculikan, penyanderaan, dan tindakan kriminal lainnya berpotensi membuat seseorang mengalami trauma dan depresi. Gejala sindrom Stockholm merupakan salah satu efek samping dari rasa takut berlebihan para korban. Akibatnya, korban bisa jatuh dalam jurang depresi dan malah balik bergantung kepada penculiknya. Sindrom Stockholm juga bisa dikatakan sebagai strategi bertahan hidup yang muncul begitu saja di dalam alam bawah sadar akibat rasa takut yang diderita korban.

2. Terisolasi

kesehatan mental
Terisolasi dari dunia luar. (Foto_ Pixabay_nmagwood)

Akibat disandera dan terisolasi, korban tidak mendapatkan informasi dari luar lagi. Maka sudut pandang yang korban dapatkan hanya dari si penculik. Ini lah yang menyebabkan gejala sindrom Stockholm syndrome muncul perlahan. Mau tidak mau korban akhirnya setuju dengan penculiknya.

3. Putus Asa

sindrom Stockholm
Merasa putus asa. (Foto_ Pixabay_Free-Photos)

Seseorang yang merasa putus asa dalam keadaan sempit seperti diculik bisa menderita stockholm syndrome. Penyebabnya karena korban merasa sudah tidak ada jalan keluar lagi dan tidak bisa kabur dari situasi tersebut. Mereka akhirnya terbiasa hidup dengan penculiknya.

4. Menganggap si Penyandera Baik Hati

sindrom stockholm
Korban akhirnya luluh pada penculik. (Foto_ Pixabay_422694)

Memang tidak semua kasus penculikan bisa menyebabkan para korbannya mengalami gangguan stockholm syndrome. Tetapi sebagian kasus yang kebetulan penculiknya memberikan makan dan mengurus korban dengan baik berpotensi menyebabkan gejala penyakit ini muncul. Korban merasa penculiknya baik hati karena mengurusnya dengan baik meskipun kenyataannya sangat lah mengerikan. (mar)

BACA JUGA: #DiRumahAja, Blake Lively Dapat Kiriman Pewarna Rambut



Dwi Astarini

LAINNYA DARI MERAH PUTIH