Kenaikan Iuran BPJS Kesehatan Bentuk Perlawanan Jokowi Terhadap Putusan MA BPJS Kesehatan. Foto: Net

MerahPutih.com - Peneliti Lokataru Foundation dan Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI) mengecam langkah Pemerintah yang kembali menaikkan besaran iuran BPJS Kesehatan.

Perwakilan Lokataru Foundation dan KPDI Fian Alaydrus mengatakan, seharusnya Pemerintah tetap teguh berpegang pada prinsip pedoman hak atas kesehatan, salah satunya prinsip aksesibilitas keuangan yang memastikan layanan kesehatan harus terjangkau secara biaya oleh semua warga.

Baca Juga

Iuran BPJS Naik, Fadli Zon: Rakyat sudah Jatuh Tertimpa Tangga, Lalu Dilindas Mobil

"Pemerintah tidak memiliki sensitivitas dan kemampuan untuk membaca gelombang protes tersebut dan tetap memilih menaikkan iuran," kata Fian dalam keteranganya di Jakarta, Kamis (14/5).

Fian mengatakan, dengan kembali dinaikkan, artinya pembatalan kenaikan iuran hanya bertahan selama tiga bulan; April, Mei, Juni.

Selain itu, kebijakan Presiden yang ngotot menaikan iuran BPJS Kesehatan meski sebelumnya telah dibatalkan oleh keputusan Mahkamah Agung adalah sebuah tabiat yang tak terpuji dalam demokrasi dan kehidupan bernegara.

Jokowi
Presiden Jokowi. Foto: ANTARA

Keputusan Mahkamah Agung seharusnya mengikat secara hukum bagi semua pihak, tak terkecuali Presiden.

"Oleh karena itu, Perpres No. 64/2020 tak lain adalah sebuah upaya melawan hukum," jelas Fian.

Fian menilai Pemerintah tidak memiliki komitmen yang kuat untuk menghormati, melindungi dan memenuhi hak atas jaminan kesehatan warga.

Lokataru Foundation sejak awal menilai kebijakan menaikkan iuran untuk menutup lubang defisit BPJS Kesehatan tidak dapat memastikan bahwa di kemudian hari BPJS Kesehatan tidak akan mengalami defisit lagi.

Hingga hari ini, BPJS Kesehatan masih belum membuka hasil audit BPKP terhadap BPJS Kesehatan secara publik. Padahal Maret lalu Komisi Informasi Pusat (KIP) telah memutuskan bahwa dokumen audit tersebut adalah dokumen publik.

"Selama dokumen tersebut masih ditutup-tutupi, kami tidak bisa menerima penjelasan resmi pemerintah yang menyalahkan defisit kepada para peserta BPJS," jelas Fian.

Fian meminta Presiden Joko Widodo agar teguh pada komitmen terhadap penghormatan, perlindungan dan pemenuhan hak atas jaminan kesehatan warga, terutama di tengah pandemi COVID-19.

Lalu, kepada Pemerintah dan BPJS Kesehatan untuk memperbaiki tata kelola lembaga serta mengevaluasi permasalahan-permasalahan yang selama ini masih terjadi pada penyelenggaraan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) sebelum menaikan besaran iuran BPJS Kesehatan.

"Kepada Pemerintah dan BPJS Kesehatan untuk membuka kepada publik dokumen hasil audit BPKP terhadap BPJS Kesehatan. Sementara, terkait dengan aturan baru yang diterbitkan Presiden, tidak ada jalan lain, kami akan lakukan upaya hukum;" tutup Fian.

Sebelumnya Mahkamah Agung (MA) telah membatalkan Peraturan Presiden No 75 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Peraturan Presiden No 82 Tahun 2018 tentang Jaminan Kesehatan, per 6 Mei 2020.

Anehnya, Presiden Joko Widodo justru mengeluarkan Peraturan Presiden No 64 tahun 2020 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Presiden No 82 Tahun 2018 Tentang Jaminan Kesehatan. Kebijakan ini akan berlaku bertahap dimulai pada 1 Juli 2020.

Melalui kebijakan Perpres terbaru ini, besaran iuran BPJS Kesehatan memang lebih rendah dari Perpres yang dibatalkan oleh MA. Dalam Perpres terbaru, besaran iuran bagi kelas III untuk kelas PBPU dan BP/kelas mandiri jumlahnya sebesar Rp 25.500 yang sebanyak Rp 16.500 dibayarkan oleh Pemerintah.

Namun, kebijakan itu hanya berlaku pada tahun 2020, pada tahun 2021 besarannya akan naik menjadi Rp 35.000 dengan Rp 7.000 dibayarkan Pemerintah.

Bagi kelas II PBPU dan BP/kelas mandiri besaran iurannya menjadi Rp 100.000, lebih rendah Rp 10.000 dari Perpres yang telah dibatalkan oleh MA sebelumnya.

Baca Juga

Naikkan Iuran BPJS Kesehatan Bukti Pemerintah Jokowi tak Punya Sense of Crisis

Sedangkan untuk kelas I jumlah besaran iuran menjadi Rp 150.000, lagi-lagi selisih Rp 10.000 dari Perpres sebelumnya.

"Kami menilai Pemerintah seolah hendak mempermainkan warga yang menolak secara menyeluruh kenaikan iuran BPJS Kesehatan sejak awal," pungkasnya

Sejak wacana kenaikan iuran digulirkan hingga diberlakukannya Perpres 75 Tahun 2019 pada Januari silam, gelombang ketidaksetujuan warga telah diungkapkan melalui aksi 792.854 orang yang memilih turun kelas. (Knu)

LAINNYA DARI MERAH PUTIH
8,8 Juta Pekerja Bakal Dapat Subsidi Upah Dampak PPKM Darurat
Indonesia
8,8 Juta Pekerja Bakal Dapat Subsidi Upah Dampak PPKM Darurat

Peningkatan kebutuhan penanganan COVID-19 akan dibiayai dari realokasi belanja beberapa Kementerian/Lembaga.

Polda Metro Beri Kelonggaran Izin Melintas untuk Ojol dan Angkutan Logistik
Indonesia
Polda Metro Beri Kelonggaran Izin Melintas untuk Ojol dan Angkutan Logistik

Dari semula hanya khusus untuk bus Transjakarta kini juga sudah diperluas penggunaannya untuk ambulan

Sehari Tambah 1.693, Total Kasus Positif COVID-19 Indonesia Capai 128 Ribu
Indonesia
Sehari Tambah 1.693, Total Kasus Positif COVID-19 Indonesia Capai 128 Ribu

Untuk pasien meninggal pada hari ini berjumlah 59 orang dan total akumulatif ada 5.824 orang.

Selama PSBB Total, MRT Jakarta Batasi Waktu Operasional
Indonesia
Selama PSBB Total, MRT Jakarta Batasi Waktu Operasional

PT MRT telah secara konsisten menerapkan pembatasan terhadap penumpang kereta sejak diberlakukannya PSBB pertama kali

Pengusaha di Bandung Diajak Nyumbang Oksigen Medis
Indonesia
Pengusaha di Bandung Diajak Nyumbang Oksigen Medis

"Cadangan yang ada sekarang jelas masih sangat kurang. Oleh karena itu kita menggenjot, mengajak kepada perusahaan-perusahaan yang ada di Kota Bandung untuk membantu melalui program CSR nya," kata Wali Kota Bandung Oded.

JK Tegaskan Konflik Papua Bisa Diselesaikan
Indonesia
JK Tegaskan Konflik Papua Bisa Diselesaikan

"Berbeda halnya dengan kelompok bersenjata di Papua, ada banyak faksi di sana dan garis komando-nya tidak jelas. Antara satu kabupaten atau kampung lainnya tidak terhubung garis komando," kata JK.

[HOAKS atau FAKTA]: Vaksin dari Tiongkok Memakan Korban di Zimbabwe
Indonesia
[HOAKS atau FAKTA]: Vaksin dari Tiongkok Memakan Korban di Zimbabwe

Klaim bahwa foto seseorang dengan bekas luka di punggung adalah masyarakat Zimbabwe yang terkana penyakit kulit berair akibat suntik vaksin Tiongkok adalah klaim yang salah.

Bawaslu Sebut Pandemi COVID-19 Berpotensi Ganggu Pilkada 2020
Indonesia
Bawaslu Sebut Pandemi COVID-19 Berpotensi Ganggu Pilkada 2020

Hasil penelitian Bawaslu menyebutkan, pandemi berpotensi mengganggu pelaksanaan tahapan Pilkada 2020.

Karyawati Bakar Kantor SPBU di Senen, Hilangkan Barang Bukti Penggelapan Uang
Indonesia
Karyawati Bakar Kantor SPBU di Senen, Hilangkan Barang Bukti Penggelapan Uang

Pelakunya adalah karyawati SPBU tersebut dengan tujuan menghilangkan barang bukti penggelapan uang.

Camat Johar Baru Ungkap Kendala Atas Banjir di Wilayahnya
Indonesia
Camat Johar Baru Ungkap Kendala Atas Banjir di Wilayahnya

Camat Johar Baru, Nurhelmy Fitriyani mengungkapkan, kendala untuk mengatasi banjir di wilayahnya.