Kementan Petakan Pemberantasan Penyakit hog cholera Ilustrasi. (Foto/agrinak.com)

MerahPutih.com - Kementerian Pertanian tengah menyusun peta jalan pengendalian dan pemberantasan penyakit hog cholera pada babi sebagai upaya untuk mengembangkan komoditas ekspor di Provinsi NTT dan wilayah lainnya.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian I Ketut Diarmita mengatakan, babi menjadi komoditas unggulan ekspor setelah ayam ras dalam Rencana Strategis 2015-2019 sehingga pengendalian penyakit hog cholera menjadi penting untuk dilakukan.

"Hog Cholera merupakan penyakit yang sangat signifikan berpengaruh secara ekonomi, untuk itu perlu segera dikendalikan dan diberantas," katanya seperti dilansir Antra, Selasa (7/11).

Ia menjelaskan, penyakit Hog Cholera cepat menyebar dalam populasi babi dan dapat menyerang segala umur dengan morbiditas dan mortalitas sangat tinggi mencapai 95 sampai 100 persen.

Ada pun Hog Cholera atau juga dikenal dengan Sampar Babi, merupakan salah satu penyakit virus yang menyerang ternak babi dan masuk salah satu dari daftar 25 jenis penyakit hewan menular strategis.

Ketut memaparkan tujuan pengendalian Hog Cholera, yakni meningkatkan populasi ternak babi dan mengamankan daerah sumber bibit ternak babi dari hog cholera sehingga mengurangi risiko penularan penyakit ke daerah penerima ternak babi bibit.

Selain itu, terjadi peningkatan pendapatan masyarakat dari hasil usaha peternakan babi serta perdagangan ternak babi baik domestik maupun eskpor.

Ketut menyarankan, pengendalian dan pemberantasan penyakit babi difokuskan pada daerah tertentu, seperti di Provinsi Sumatera Utara, Kalimantan Barat, Bali, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Utara.

Hal ini dengan mempertimbangkan faktor potensi daerah sebagai produsen ternak babi, kepadatan populasi ternak babi, penyakit Hog Cholera yang sudah menjadi endemis, daerah tersebut berisiko menyebarkan Hog Cholera ke daerah lain dan sudah ada program pengendalian di daerah tersebut.

Berdasarkan data Ditjen PKH, produksi daging babi menduduki urutan ketiga terbesar setelah daging ayam ras dan daging sapi.

Kontribusi produksi daging babi terhadap produksi daging nasional sebesar 10,78 persen. Perkembangan populasi babi di Indonesia terjadi peningkatan sebesar 1,7 persen, yaitu dari 7,9 juta ekor pada 2012 menjadi 8,1 juta ekor pada 2016. Sementara itu, aspek peningkatan produksi meningkat 9,6 persen yaitu dari 232.143 ton (2012) menjadi 342.346 ton (2016).

"Meningkatnya produksi daging babi di Indonesia dan terbatasnya segmentasi pasar daging babi, menjadi peluang peningkatan ekspor daging babi," ungkap Ketut. (*)


Tags Artikel Ini

Zaimul Haq Elfan Habib

LAINNYA DARI MERAH PUTIH