berita-singlepost-banner-1
Kemenhub Layangkan Surat Denda ke Garuda Pesawat Garuda Indonesia menunggu jadwal take-off. (Foto : garuda-indonesia.com)
berita-singlepost-banner-2
berita-singlepost-mobile-banner-7

Merahputih.com - Kementerian Perhubungan akan menjatuhkan denda kepada Maskapai Garuda Indonesia karena pelanggaran aturan yang memasukan kargo ke pesawat dan tidak dicatat dalam penerbangan pengiriman pesawat Airbus A330-900 Neo dari Toulouse, Perancis 16 November 2019.

“Kita layangkan suatu surat yang mendenda Garuda karena membawa barang tanpa memasukkan dalam daftar (kargo tercatat),” ujar Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi di Jakarta, Jumat (6/12).

Baca Juga

Bosnya Tersangkut Dugaan Penyelundupan Harley, Operasional Garuda Tak Terganggu

Menhub menjelaskan berdasarkan peraturan standar izin penerbangan (flight approval/FA), penumpang dan barang wajib dicatat.

“Berkaitan dengan FA, biasanya standar, jumlah penumpang berapa kargonya berapa, banyak sekali kita lakukan random (acak) karena ini ada yang spesial dan melenceng dari suatu kelaziman bahwa dalam FA itu barang-barang itu tidak tercatat,” jelas dia.

Sementara itu, karena ini bukan penerbangan komersial, masih diperbolehkan kargo manifest yang tidak dicatat sejauh tidak melanggar aturan.

“Kalau penumpang, sejauh itu tidak komersial, itu tidak apa-apa untuk penerbangan seperti itu, karena barang itu tidak tercatat maka ada regulasinya, Garuda didenda jadi hari ini kita sudah lakukan,” ungkap Budi.

Menteri Keuangan, Sri Mulyani didampingi Menteri BUMN, Erick Thohir merilis barang bukti komponen motor Harley Davidson buatan tahun 1972 dan dua sepeda Brompton yang merupakan dugaan penyelundupan yang dilakukan oleh Direktur Utama Garuda Indonesia, I Gusti Ngurah Ashkara Danadiputra dengan pesawat baru Airbus A330-900 milik PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk di Gedung Juanda Kementerian Keuangan, Jakarta, Kamis, (5/12/2019). Petugas DJBC Bandara Soekarno-Hatta menemukan sejumlah koper berisi komponen motor Harley Davidson buatan 1972 dan dua sepeda Brompton yang tidak declare cargo bea cukai di lambung pesawat baru Airbus A330-900 milik PT Garuda Indonesia. Barang bukti penyelundupan tersebut diakui milik Direktur Utama Garuda Indonesia, I Gusti Ngurah Ashkara Danadiputra. Total potensi kerugian negara kalau tidak declare Rp532 juta sampai Rp1,5 miliar. Merahputih.com / Rizki Fitriant
Menteri Keuangan, Sri Mulyani didampingi Menteri BUMN, Erick Thohir merilis barang bukti komponen motor Harley Davidson buatan tahun 1972 dan dua sepeda Brompton yang merupakan dugaan penyelundupan yang dilakukan oleh Direktur Utama Garuda Indonesia, I Gusti Ngurah Ashkara Danadiputra dengan pesawat baru Airbus A330-900 milik PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk di Gedung Juanda Kementerian Keuangan, Jakarta, Kamis, (5/12/2019). Merahputih.com / Rizki Fitriant

Ia mengatakan untuk pelanggaran penyelundupan barang, penegakan hukumnya berada di ranah Bea Cukai, namun Ia menekankan pada izin penerbangan yang tidak mencantumkan kargo tersebut.

Untuk selanjutnya, Menhub akan berkoordinasi dengan pihak Bea Cukai untuk melakukan pengawasan secara intensif dalam penerbangan terutama untuk pencatatan kargo.

“Saya pikir kami akan kerja sama dengan Bea Cukai karena berkaitan dnegan barang-barang yang masuk ke Indonesia itu secara intensif dilakuan oleh Bea dan Cukai namun demikian hal-hal yang berkaitan dengan regulasi, boleh tidaknya, termasuk barang yang mengandung bahaya, kita akan membuat suatu bahasan-bahasan yang lebih detil tim,” katanya.

Baca Juga

Dugaan Penyelundupan Harley Davidson Libatkan Bos Garuda, Erick Thohir: Ini Sangat Menyedihkan

Menteri BUMN Erick Thohir akan memberhentikan Direktur Utama Garuda terkait kasus motor Harley dan Sepeda Brompton yang diduga diselundupkan melalui pesawat baru jenis Airbus A330-900 seri Neo.

Berdasarkan hasil penelusuran di pasaran perkiraan nilai motor Harley Davidson tersebut berkisar antara Rp200 juta sampai dengan Rp800 juta per unitnya , sedangkan nilai dari sepeda Brompton berkisar antara Rp50juta hingga Rp60juta per unitnya. Sehingga perkiraan total kerugian negara berkisar antara Rp532 juta sampai dengan Rp1,5 miliar. (*)


berita-singlepost-mobile-banner-3

Angga Yudha Pratama

LAINNYA DARI MERAH PUTIH


berita-singlepost-banner-4
berita-singlepost-banner-5
berita-singlepost-banner-6