Kembali ke Pesantren Bisa Tangkal Radikalisme Halaqoh Alim Ulama se-Jakarta di Pondok Pesantren Al-Hamid Munjul, Jakarta Timur, Minggu (18/6). (MP/Fadhli)

Direktur Sekolah Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama Ahmad Jayadi menilai, salah satu jawaban untuk menangkal konsep radikalisme agama adalah melalui pendidikan di pesantren.

Ia mengatakan, pesantren adalah wadah pendidikan autentik yang dimiliki bangsa ini. Sejak era prakemerdekaan, pesantren sudah menjadi basis keilmuan yang turut andil dalam perkembangan sejarah bangsa.

Di pesantren, lanjutnya, santri diajarkan bagaimana bernegara dalam keberagaman dan bernegara dalam religiusitas.

"Tantangannya bagaimana kita beragama dalam konteks Indonesia yang majemuk. Dan bagaimana kita bernegara dalam konteks religius. Lalu polanya seperti apa? Kita kembali ke pesantren. Kenapa pesantren dia adalah pendidikan autentik, dia pendidikan asli," terangnya saat menghadiri acara Halaqoh Ulama se-Jakarta di Ponpes Al-Hamid, Jakarta Timur, Minggu (18/6).

Menurutnya, pesantren sebagai lembaga memiliki entitas penting, tak hanya sekadar pendidikan keagamaan semata, melainkan juga sosial dan kebudayaan.

"Pesantren sebagai lembaga tidak hanya ada entitas pendidikan, namun juga keagamaan dan sosial kebudayaan," terangnya.

Oleh sebab itu, lanjutnya, pembinaan melalui pesantren harus terus berkembang dan kontekstual. Tidak meninggalkan kultur bangsa Indonesia sebagai bangsa yang majemuk. (Fdi)

Baca juga berita terkait halaqah GP Ansor dalam artikel: Tangkal Radikalisme, GP Ansor Gelar Halaqah Alim Ulama



Zulfikar Sy

LAINNYA DARI MERAH PUTIH