Keluarga Pengawas TPS dan KPPS di Solo yang Meninggal Menolak Diautopsi Istri alharhum Agung Nugroho (34), Mela Siti Malikah (30) memberikan keterangan terkait wacana jasad suaminya untuk dilakukan autopsi, Sabtu (11/5). (MP/Ismail)

MerahPutih.Com - Keluarga Petugas pengawas Tempat Pemungutan Suara (TPS) dan Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) di Solo, Jawa Tengah yang meninggal dunia menolak tegas wacana autopsi jenazah keluarganya yang meninggal pada Pemilu 2019.

Keluarga pun sudah mengihlaskan kepergian mereka dan mamastikan meninggalnya itu karena sakit bukan diracun.

Istri alharhum Agung Nugroho (34), Mela Siti Malikah (30), mengatakan sebelum meninggal suaminya itu bertugas menjadi pengawasnTPS 21 di Kelurahan Karangasem RT 03/ RW 04 Kecamatan Laweyan, Solo, Jawa Tengah. Setelah selesai menjaga TPS, sakit leukimia yang dideritanya sejak setahun lalu kambuh.

"Sehari sebelum pencoblosan seharusnya istirahat total setelah melakukan transfusi darah. Suami tetap bekerja menjaga TPS dari pagi sampai malam," ujar Mela pada merahputih,com, Sabtu (11/5).

Keluarga petugas KPPS yang meninggal pada Pemilu 2019 menolak diautopsi
Keluarga petugas KPPS yang meninggal pada Pemilu 2019 menolak keras wacana autopsi jenazah keluarganya. (MP/Ismail)

Dua hari setelah pemilu, sumi jatuh sakit dan dirawat din rumah sakit. Nyawa suami, kata dia, tidak tertolong dan meninggal dunia pada Senin (29/4).

"Saya sudah mengihlaskan kepergian suami ini. Sejak lama memang sudah punya riwayat sakit," kata dia.

Ia pun menolak tegas wacana autopsi. Wacana autopsi tidak diperlukan karena rekam medis pasien juga menunjukkan meninggalnya karena sakit.

Senada diungkapkan keluarga istri almarhum ketua KPPS 20 Nusukan, Alek Robikson, Sarmini. Menurut dia, keluarga sudah mengiklaskan kepergian suaminya itu yang meninggal pada tanggal 27 April.

Warga datang melayat keluarga petugas KPPS yang meninggal
Warga melayat di rumah almarhum Agung Nugroho (34) warga Kelurahan Karangasem, Kecamatan Laweyan, Solo, Jawa Tengah, Selasa (30/4). (MP/Ismail)

"Saya menolak kalau diautopsi. Kalau itu dilalukan justru akan membuat luka baru pada keluarga," ujar Sarmini.

Ia mengatakan suaminya itu punya darah tinggi sejak lama. Diperparah lagi kecapean setelah menjadi ketua KPPS.

"Diagnosa dokter meninggalnya karena sakit bukan karena dianiaya atau ada faktor lain. Kami sudah iklas tidak perlu diperdebatkan lagi," tandas Sarmini.(*)

Berita ini ditulis berdasarkan laporan Ismail, reporter dan kontributor merahputih.com untuk wilayah Jawa Tengah.



Eddy Flo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH