Wisata Indonesia
Kelenteng Bersejarah di Jabodetabek yang Layak Kamu Kunjungi Kelenteng Boen Tek Bio (Foto: MP/Widi)

MENJELANG Tahun Baru Imlek 2572 yang jatuh pada 12 Februari 2021, berbagai Kelenteng yang sebagain masih disebut Wihara mulai mempercantik diri. Para pengurus kelenteng menjalankan tradisi membersihkan patung-patung dewa-dewi, memasang pohon angpau, lampion, lilin besar, dan berbagai hiasan lain yang hampir semua didominasi dengan warna merah.

Cantiknya kelenteng mejelang Imlek mengundang banyak orang untuk berkunjung. Bukan hanya untuk beribadah, tapi juga berwisata atau untuk sekadar foto-foto. Berikut beberapa kelenteng bersejarah di Jabodetabek yang bisa kamu kunjungi. Tentunya dengan tetap menghormati tradisi Tionghoa yang dianut para umat di tempat ibadah ini dan protokol kesehatan yang berlaku selama pandemi.

Baca juga:

Sejarah yang Terpenggal di Kelenteng Boen Tek Bio

1. Kelenteng Boen Tek Bio Tangerang

Klenteng Bio Teng Tangerang (Foto: MP/Wid)
Klenteng Bio Teng Tangerang (Foto: MP/Wid)

Kelenteng di Kota Tangerang ini letaknya tidak jauh dari Taman Potret dan dianggap sebagai kuil tertua yang ada di Kota Tangerang. Didirikan pada tahun 1684, kala itu kongsi dagang perkampungan Petak Sembilan secara bahu-membahu merencanakan pendanaan yang digunakan untuk pendirian sebuah tempat beribadah untuk warga Tionghoa di Tangerang.

Pada awal perkembangannya, kelenteng ini masih berbentuk sederhana. Dimana tiangnya dari bambu dan atapnya terbuat dari rumbia. Namun saat memasuki tahap renovasi pada 1844 terdapat hal yang menarik yaitu didatangkannya para pekerja langsung dari Tiongkok. Karena itulah arsitektur dari bangunannya pun sudah mulai terlihat seperti rumah ibadah asli dari Tiongkok.

Berbagai perlengkapan yang ada di dalam kelenteng ini juga berasa dari Tiongkok. Contohnya adalah patung singa batu yang berasal dari tahun 1827 yang dikenal dengan nama Cio Sai. Selain itu juga ada lonceng besar ikonik yang ada di depan kelenteng, di mana loncengnya dibuat perusahaan bernama Ban Coan Lou di Tiongkok pada 1835.

2. Kelenteng Hok Lay Kiong Bekasi

Kelenteng tertua di Bekasi (Foto: disparbud.jabarprov.go.id)
Kelenteng tertua di Bekasi (Foto: disparbud.jabarprov.go.id)

Kelenteng berada di di Jl. Kenari I, RT 006/RW.001, Margahayu, Bekasi Timur. Tempat ini sudah berdiri selama 350 tahun dan dirawat oleh warga keturunan kelima sejak tempat ibadah itu dibangun. Sayangnya, kelenteng ini tidak diketahui siapa pendirinya, dan tidak ada data peninggalan dari pengurus terdahulu.

Baca juga:

3 Klenteng yang Layak Dikunjungi di Yogyakarta

Setiap 3 atau 4 tahun sekali, kelenteng ini selalu berganti kepengurusan. Dan pemimpinnya dipilih oleh para pengurus di kantor pusat yang berada tepat disebelah kelenteng, yakni Yayasan Pancaran Tridharma Bekasi "Wihara Budha Dharma".

Hok Lay Kiong sendiri memiliki arti istana yang mendatangkan rezeki. Oleh karenanya, kelenteng ini dipercaya sebagai tempat yang bisa mendatangkan rezeki bagi siapa saja yang berkunjung, bahkan warga di sekitarnya. Tak heran kalau kemudian wilayah sekitar yang dikenal sebagai Pasar Proyek menjadi salah satu pusat perdagangan besar di Bekasi.

3. Wihara Maha Brahma

Kelenteng Pan Kho Bio atau Wihara Maha Brahma (Foto: pinktravelogue.com)
Kelenteng Pan Kho Bio atau Wihara Maha Brahma (Foto: pinktravelogue.com)

Wihara ini juga dikenal dengan nama Kelenteng Pan Kho Bio. Terletak di sebuah pulau kecil di tengah sungai Ciliwung, yaitu Pulo Geulis. Ketika memasuki tempat itu, terdapat altar yang menghadap ke pintu utama. Altar itu terdiri dari tempat patung Dewa Pan Kho, dewa tertinggi yang disembah di klenteng itu.

Bangunan seluas 400 meter persegi tersebut dipenuhi oleh berbagai ornamen dari budaya lain, seperti arca kura-kura yang melambangkan ketekunan dan panjang umur dalam filosofi Tionghoa. Lalu, terdapat patung harimau hitam dan patung harimau putih yang melambangkan kegagahan, kejayaan, dan keberanian.

Keberadaan kelenteng ini sudah ada sejak zaman Pajajaran. Sebelum menjadi kelenteng, tempat ini juga digunakan sebagai tempat peristirahatan oleh Raja Prabu Siliwangi pada zaman Kerajaan Pajajaran yang dibentuk pada tahun 1482. Karena itu, orang Tionghoa menganggap tempat ini sakral dan membangun kelenteng di tempat ini.

Kelenteng ini sudah ada sejak tahun 1703 dan menjadi yang tertua di Bogor. Dalam bangunan ini, terdapat beberapa patilasan leluhur keluarga Kerajaan Pajajaran. Selain menjadi pusat kegiatan agama bagi masyarakat keturunan Tionghoa berkeyakinan Taoisme, Konghucu, dan Buddha, Kelenteng ini juga sudah ditetapkan sebagai cagar budaya pada tahun 2012.

4. Kelenteng Da Bo Gong Ancol

Kelenteng Da Bo Gong Vihara Bahtera Bhakti (tridharma.or.id)
Kelenteng Da Bo Gong Vihara Bahtera Bhakti (tridharma.or.id)

Da Bo Gong merupakan Dewa Air yang dikenal di wilayah Malaya dan Indonesia. Namun karena bentuknya sama, maka orang juga menganggapnya Dewa Bumi. Kelenteng ini berada bersebelahan dengan Taman Impian Jaya Ancol, tepatnya di Jl. Pantai Sanur No.5, Ancol, Jakarta Utara.

Kelenteng yang juga dinamakan Wihara Bahtera Bhakti Ancol ini diperkirakan dibangun pada 1650, pada tahun yang sama dibangunnya Kelenteng Jin De Yuan di Gelodok. Kedua kelenteng ini merupakan kelenteng tertua di Jakarta. Ada dua kelenteng lagi yang dibangun pada abad ke-17 di Jakarta, sekitar 10 dan 19 tahun setelah kedua kelenteng yang pertama itu dibangun, namun keduanya sudah tidak ada lagi.

Pintu gerbang kelenteng ini dihiasi sepasang naga berebut mustika di atas wuwungannya. Tepat di bawah patung naga terdapat lima lukisan dalam kotak segi empat yang menggambarkan lima elemen klasik Tionghoa, yaitu kayu, api, tanah, logam dan air. Papan nama Kelenteng Bahtera Bhakti Ancol ada di bawah atap wuwungan, diapit sepasang Ciok say (singa). Singa adalah hewan suci yang melambangkan energi, keberanian, dan melindungi kelenteng dari roh jahat. (aru)

Baca juga:

Menengok Sejarah Klenteng Tjoe Soe Kong di Tanjung Kait yang Unik

LAINNYA DARI MERAH PUTIH
Dongkrak Pariwisata, Pemda DIY Gelar Jogja International Travel Mart 2021
Travel
Dongkrak Pariwisata, Pemda DIY Gelar Jogja International Travel Mart 2021

Event mancanegara tahunan ini mempertemukan para pelaku pariwisata dengan masyarakat.

Begini Sejarah Sabun Colek B29
Indonesiaku
Begini Sejarah Sabun Colek B29

Lelaki 16 tahun perantau asal Mojokerto, Jawa Timur, melihat peluang besar dari kelangkaan juga mahalnya Tjap Tangan.

Asal Muasal Lagu ‘Citra’ Sebagai Pembuka Festival Film Indonesia
Indonesiaku
Asal Muasal Lagu ‘Citra’ Sebagai Pembuka Festival Film Indonesia

Lagu Citra (Tjitra) sebentar lagi berkumandang di penyelenggaraan Festival Film Indonesia (FFI) 2021.

Rahasia Senjata Si Buta Dari Gua Hantu
Indonesiaku
Rahasia Senjata Si Buta Dari Gua Hantu

Ia salah seorang mahir memainkan jurus Golok Elang Putih dengan kemampuan kecepatan tebasan.

Mengapa Tidak Ada Unsur Yogyakarta Pada Film Gundala Garapan Joko Anwar?
Indonesiaku
Mengapa Tidak Ada Unsur Yogyakarta Pada Film Gundala Garapan Joko Anwar?

Yogyakarta sebagai tempat maupun aspek kultural sangat tak mungkin dipisahkan saat menyelami Gundala Putra Petir.

Sensasi Khas Nasi Pecel Iwak 'Kriuk' Kali Warung Deso Madiun
Kuliner
Jamu, Minuman Tradisional Negeri Aing Penuh Khasiat
Hiburan & Gaya Hidup
Jamu, Minuman Tradisional Negeri Aing Penuh Khasiat

Jamu sejak dulu sudah dipercaya dapat menyehatkan tubuh.

Siapa Usmar Ismail, Pahlawan Nasional Berlatar Perfilman?
Indonesiaku
Siapa Usmar Ismail, Pahlawan Nasional Berlatar Perfilman?

Ia menjadi satu-satunya orang di perfilman Indonesia beroleh gelar Pahlawan Nasional

Cegah Peningkatan Kasus COVID-19, Pemda Lakukan Skrining ke Pelaku Wisata
Travel
Cegah Peningkatan Kasus COVID-19, Pemda Lakukan Skrining ke Pelaku Wisata

Pihaknya belum mau memberitahu lokasi wisata mana yang diadakannya skrining tersebut.