Kelenteng, Benteng Kerukunan dan Persatuan Umat Beragama Hok Tek Bio, Ciampea, Bogor. (Merahputih.com/Rizki Fitrianto)

LAZIMNYA, kelenteng dikenal oleh sebagian masyarakat Indonesia sebagai tempat ibadah bagi penganut kepercayaan tradisional Tionghoa di Indonesia, Konghucu. Sehingga timbul gap bagi penganut agama lain, meski hanya sekadar mendatangi beberapa kelenteng di berbagai daerah.

Hal tersebut, tak ayal membuat pengurus Hok Tek Bio, Ciampea, Bogor, Tan Ta Yang angkat bicara. Menurutnya, kelenteng merupakan salah satu benteng kerukunan dan persatuan umat beragama. "Kelenteng itu milik siapa pun, semangat awalnya seperti itu, tidak hanya dimiliki oleh agama atau etnis tertentu," kata Tan kepada Merahputih.com saat menyambangi Hok Tek Bio, Kamis (8/2).

Pengurus Hok Tek Bio, Ciampea, Bogor, Tan Ta Yang. (Merahputih.com/Rizki Fitrianto)

Bahkan, kata Tan, pendiri Hok Tek Bio justru bukan berasal dari orang yang beragama Konghucu. Berdasarkan keyakinan masyarakat sekitar, kelenteng tersebut dibangun oleh tokoh muslim Tionghoa yang bernama Thung Tiang Mie sekitar tahun 1800-an. "Beliau seorang tokoh muslim yang bernama Tubagus Abdullah bin Moestopa," katanya.

Sehingga penafsiran kelenteng sebagai tempat ibadah penganut agama Konghucu, kata Tan, merupakan kekeliruan yang mesti diketahui masyarakat luas. Ia menyebutkan, fungsi sebenarnya kelenteng seperti lembaga zakat bagi orang-orang Tionghoa.

"Kelenteng menyalurkan donasi dari kawan-kawan Tionghoa untuk saudara-saudara kita yang tidak mampu. Itu tidak hanya untuk masyarakat Tionghoa, untuk semua yang ada di sekitar kelenteng. Saya pikir, semua terjadi di setiap kelenteng. Kelenteng menjadi fungsi sosial yang mengikat persatuan dan kesatuan," katanya.

Selain itu, Tan juga menjelaskan bahwa kelenteng digunakan sebagai pusat kesehatan bagi masyarakat dan menjadi tempat berteduh bagi musafir yang sedang melintas. "Di sana ada yang namanya sin she atau tabib. Jadi, kalau ada orang sakit mesti dibawa ke kelenteng. Di sanalah pusat sosial kemasyarakatan terjadi," katanya.

Karena itu, ia berharap masyarakat luas tidak lagi menganggap bahwa kelenteng hanya dimiliki oleh etnis dan agama tertentu saja. "Kalau bisa, pengurus kelenteng juga ada yang beragama Islam, Kristen Protestan, Katolik, bahkan Yahudi," ucap Tan berkelakar. (*)


Tags Artikel Ini

Noer Ardiansjah

LAINNYA DARI MERAH PUTIH