Kekayaan Jeff Bezos Melonjak dalam Sehari, Warganet Sentil Sistem Ekonomi AS Kekayaan Jeff Bezos melonjak Rp191 triliun dalam sehari. (foto: pinterest/forbes)

DUNIA boleh saja dalam kesusahaan, menuju resesi. Namun, Jeff Bezos malah makin kaya. Seperti dilansir Hypebeast.com, hanya setelah dua minggu menjadi pria paling kaya di dunia, CEO Amazon itu membuat rekor baru dengan meningkatkan kekayaannya sebesar US$13 miliar (sekitar Rp191 triliun). Hebatnya, penambahan itu terjadi hanya dalam satu hari. Itu merupakan jumlah tertinggi yang pernah ada untuk seorang individu sejak awal Bloomberg Billionaires Index pada 2012.

Orang lain yang ikut menikmati kenaikan kekayaan itu ialah mantan istri Bezos, Mackenzie Bezos. Ia mendapat kenaikan sebesar US$4,6 miliar (sekitar Rp68 triliun). Jumlah itu menaikkan peringkatnya ke posisi 13 dalam daftar orang terkaya di dunia.

BACA JUGA:

Kontroversi Metode Oil Cleansing yang Viral di Tiktok

Lonjakan kekayaan Bezos disebabkan saham Amazon yang tiba-tiba meroket. Peningkatan itu terjaid sebanyak 7,9%. Itu merupakan kenaikan terbesar sejak Desember 2018. Lonjakan kekayaan itu juga ditopang peningkatan tren belanja daring karena pandemi coronavirus. Dalam tahun ini saja, harga saham Amazon naik 73%.

Pada 2020, kekayaan Bezos meningkat dari US$74 miliar menjadi US$189,3 miliar. Padahak, Amerika Serikat sedang mengalami ekonomi yang paling lemah sejak The Great Depression.


Disentil Warganet

jeff bezos
Jeff Bezos semakin kaya sejak pandemi. (twitter @jeffbezos)

Saat mengetahui kabar mengenai pertambahan kekayaan Bezos, warganet di Twitter mengekspresikan pendapat dan kekesalan mereka. Mereka mengkritik sistem di Amerika Serikat. Sistem itu membuat mereka yang kaya makin kaya. Mereka yang miskin justru semakin miskin. "Jeff Bezos tidak 'membuat' US$13 miliar kemarin. Ini merupakan sebuah sistem korup yang menghimpun kekayaan kepada para baron perampok dari 1%. Itu menyedot US$13 miliar dari tangan orang-orang yang bekerja dan persemakmuran. Ini disebut oligarki. Itu mengerikan. #BoycottAmazon," kritik pengguna Twitter @Joshfoxfilm.

Para warganet lalu mengupas bagaimana pertambahan kekayaan Bezos itu tak adil. Di saat banyak orang menderita dan kesusahan untuk mencari makan, pada 21 Juli, setiap detiknya Bezos mendapatkan sekitar US$50 ribu (sekitar Rp732 juta). Pemilik akun @VladSavov mengungkap hitungan matematis Bezos Billions untuk lonjakan kekayaan sang taipan. Sebanyak US$13 miliar diperoleh dalam 24 jam. Itu sama dengan US$542 juta per jam, setara US$9 juta per menit atau US$150 ribu per detik. "Jika setiap kedipan rata-rata sekitar 1 atau 3 detik, jadi setiap kali Jeff Bezos berkedip pada Senin, ia sekitar US$50 ribu lebih kaya," jelasnya.

Warganet juga bercanda bahwa Bezos memiliki sebuah gunung di Texas Barat. Di dalam gunung itu, Bezos sedang membangun sebuah jam raksasa berukuran 152,4 meter yang dapat bertahan selama 10.000 tahun. Padahal, uang tersebut dapat digunakan untuk hal lain yang lebih berguna dan penting.

dollar
Warganet mengkritik sistem ekonomi AS yang oligopolis. (foto: Pixabay/geralt)

Namun, lonjakan kekayaan Bezos memunculkan argumen bahwa apakah pantas adanya orang-orang miliarder di dunia? Bolehkah seseorang memiliki uang sebanyak itu?

Bill Gates dan Warren Buffet, juga sempat menanggapi argumen itu. "Untuk pertama kalinya dalam hidup saya, orang-orang berkata, 'Oke, haruskah miliarder ada?'" ucap Bill Gates, salah satu penemu Microsoft kepada Forbes.

CNBC.com menulis, di Amerika, kapitalisme menghasilkan banyak kekayaan, tetapi kekayaannya jatuh hanya kepada tangan segelintir orang. Orang-orang seperti Bill Gates, salah satu penemu Microsoft, Jeff Bezos pendiri Amazon, dan Warren Buffett, CEO Berkshire Hathaway, secara kolektif memiliki kekayaan lebih dari 160 juta orang termiskin Amerika. Demikian dilaporkan Institute for Policy Studies 2017. Sepertinya orang-orang muak dengan hal itu.

Gates dan Buffet setuju dengan ekonomi yang kapitalis. Di saat bersamaan, mereka mengakui bahwa sistem itu cacat. Mereka setuju dan tidak masalah dengan adanya peraturan-peraturan seperti yang kaya seharusnya membayar pajak yang lebih tinggi.

Saat ini, menurut Laporan Kekayaan Global 2018 milik Credit Suisse, 10% orang terkaya di dunia memiliki 85% dari kekayaan global. "Sistem pasar terus menjadi semakin terspesialisasi, orang kaya akan menjadi semakin kaya," kata Buffet kepada CNN.(lev)


Tags Artikel Ini

Dwi Astarini

LAINNYA DARI MERAH PUTIH